28 Februari 2026

Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 31–32: Saat Allah Mengingatkan Tentang Hari Perhitungan | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day 9)

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 31–32 tentang hari perhitungan dan hisab Allah. Tadabbur Day 9 yang menyadarkan dan menyentuh hati.

Serial Tadabbur Surah Ar-Rahman – Day 9

Jika pada Day 8 kita ditenangkan dengan ayat:

“Setiap waktu Dia dalam kesibukan.” (QS. Ar-Rahman: 29)

Kita belajar bahwa Allah tidak pernah berhenti mengurus hidup kita.

Namun hari ini, suasananya berubah.

Masih dalam Surah Ar-Rahman, tetapi nadanya lebih tegas.
Lebih serius.
Lebih menggugah kesadaran.

“Kami akan memperhatikan sepenuhnya kepadamu, wahai golongan manusia dan jin.” (QS. Ar-Rahman: 31)

Setelah Allah menunjukkan kasih dan pengaturan-Nya, kini Dia mengingatkan:
Akan ada hari ketika seluruh kehidupan ini diperiksa.

Dan kembali pertanyaan itu datang:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS. Ar-Rahman: 32)


 

27 Februari 2026

Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 29–30: Allah Tidak Pernah Diam Mengurus Hidup Kita | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day 8 )

Tadabbur Surah Ar-Rahman ayat 29–30: Setiap waktu Allah dalam kesibukan mengurus hidupmu. Refleksi Day 8 yang menenangkan dan menyadarkan.

Serial Tadabbur Surah Ar-Rahman – Ramadhan Day 8

Jika pada Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 26–28 (Day 6) kita diingatkan bahwa segala yang ada akan fana, maka hari ini kita diajak melihat sisi lain yang menenangkan:

Dunia memang tidak kekal.
Tetapi Allah tidak pernah berhenti bekerja.

“Yas’aluhu man fis-samawati wal-ardh. Kulla yaumin huwa fii sya’n.”
Semua yang di langit dan di bumi selalu meminta kepada-Nya. Setiap waktu Dia dalam kesibukan. (QS. Ar-Rahman: 29)

Dan kembali Allah bertanya:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (Ar-Rahman: 30)

Inilah keseimbangan yang lembut dalam Surah Ar-Rahman.
Ada kefanaan makhluk.
Ada keaktifan Rabb yang tak pernah berhenti mengatur.



Cara Menjernihkan Jiwa di Bulan Ramadhan: 5 Praktik Sadar dari Sesi 5 The Heart of Ramadhan

Menjernihkan jiwa di bulan Ramadhan melalui praktik sadar, makna, dan koneksi Ilahi. Lanjutan Sesi 4 The Heart of Ramadhan bersama Coach Sonny Abi Kim.

Mengubah Cara Pandang, Menguatkan Inner Game

Kelas Spesial Ramadhan – The Heart of Ramadhan Sesi 4 bersama Coach Sonny Abi Kim

Ramadhan tidak selalu mengubah dunia kita.
Tetapi Ramadhan mengubah cara kita melihat dunia.

Dan sering kali, perubahan cara pandang itulah yang paling menentukan kualitas hidup kita.

Jika pada Sesi 3: “Ramadhan Memulihkan Luka” kita belajar mengenali dan menyembuhkan luka batin, maka di Sesi 4 ini kita diajak melangkah lebih jauh:

Bagaimana menjaga kejernihan jiwa setelah luka mulai pulih?

Karena penyembuhan tanpa kesadaran mudah membuat kita kembali pada pola lama.

Bukan Dunia yang Berubah, Tapi Perspektif Kita

Masalah hidup tetap ada.
Ujian tetap datang.
Ketidakpastian tetap menjadi bagian dari perjalanan manusia.

Namun Ramadhan memberi “pencerahan” —
bukan selalu dalam bentuk perubahan dramatis,
melainkan perubahan halus dalam cara kita memaknai hidup.

Masalahnya mungkin sama.
Situasinya mungkin tidak jauh berbeda.
Tetapi hati kita tidak lagi merespons dengan cara yang sama.

Itulah proses menjernihkan jiwa.

Ketika perspektif berubah, beban hidup pun terasa berbeda.

26 Februari 2026

Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 26–28: Tentang Fana, Kekekalan, dan Kesadaran Pulang | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day 7 )

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 26–28 tentang makna kullu man ‘alaiha faan, fana dan kekekalan dalam Islam, serta hikmah kehidupan dan kematian yang menyentuh hati.

Melanjutkan Penyelaman Kemarin

Pada pembelajaran sebelumnya pertemuan ke 6, kita menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di semesta. Tentang keseimbangan, tentang nikmat yang berlimpah, tentang keteraturan yang menenangkan jiwa.

Hari ini, dalam Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 26–28, Allah membawa kita masuk lebih dalam lagi.

Jika kemarin kita diajak melihat keluar,
hari ini kita diajak menunduk ke dalam.

Tentang kefanaan.
Tentang akhir.
Tentang siapa yang benar-benar kekal.

Dan mungkin inilah bagian yang paling sunyi, tapi paling menyadarkan.



Tafsir Surah Ar-Rahman Ayat 26 — Makna Kullu Man ‘Alaiha Faan

“Kullu man ‘alaiha faan.”
Setiap apa pun yang ada di atasnya akan musnah.

Dalam tafsir Surah Ar-Rahman ayat 26 dijelaskan bahwa segala sesuatu yang ada di permukaan bumi dan langit akan fana.

Bukan hanya manusia.
Bukan hanya makhluk bernyawa.

Matahari akan redup.
Bintang akan padam.
Langit akan terbelah.

Semua yang hari ini tampak kuat dan kokoh, suatu hari akan selesai tugasnya.

Yang muda akan menua.
Yang baru akan usang.
Yang hidup akan mati.

Inilah makna fana dalam Islam:
Semua yang diciptakan memiliki batas.

Dan sering kali, yang membuat kita lelah bukan dunia itu sendiri —
tetapi karena kita memperlakukannya seolah-olah ia kekal.

25 Februari 2026

Tafsir dan Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 24–25: Kapal Besar sebagai Tanda Kebesaran Allah | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day 6 )

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 24–25 tentang kapal laksana gunung, tanda kebesaran Allah, dan makna hidup yang bergerak dalam nikmat-Nya.

Prolog – Dari Kedalaman Mutiara ke Luasnya Samudra

Pada pembelajaran sebelumnya tentang refleksi Surah Ar-Rahman ayat 22–23, kita menyelami makna mutiara dan marjan—simbol luka yang dilapisi hingga menjadi permata.

Hari ini, dalam refleksi Surah Ar-Rahman ayat 24–25, Allah mengangkat pandangan kita dari dasar laut… ke permukaannya.

Jika kemarin kita belajar tentang sesuatu yang tersembunyi di kedalaman,
hari ini kita diajak melihat sesuatu yang besar, megah, dan menggetarkan hati.

Allah berfirman dalam Qur'an:

“Dan kepunyaan-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan, laksana gunung-gunung.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman: 24–25)

Ayat ini bukan hanya tentang kapal.
Ia tentang kebesaran Allah.
Tentang kreativitas manusia yang bersumber dari-Nya.
Tentang bergerak, berkarya, dan hidup—di atas nikmat Allah.



24 Februari 2026

Ramadhan Memulihkan Luka: Cara Allah Menyembuhkan Hati yang Lelah dan Menguatkan Inner Game Kehidupan | The Heart of Ramadhan

Ramadhan memulihkan luka batin dan menguatkan inner game. Panduan reflektif menata hati, berdamai dengan kecewa, dan kembali pada Allah.

Prolog: Ramadhan Memulihkan Luka — Jalan Healing Hati di Bulan Suci

Kajian The Heart of Ramadhan (Sesi 3) bersama Coach Sonny Abi Kim

Pada sesi sebelumnya, dalam Kelas Spesial Ramadhan The Heart of Ramadhan: Menata Hati di Bulan Suci, kita belajar bagaimana Ramadhan menghidupkan iman dan mengaktifkan kembali “kode hati” dalam diri kita.

Kita disadarkan bahwa inti perubahan bukan terletak pada strategi hidup, melainkan pada kondisi hati.

Sesi ketiga ini adalah kelanjutannya.

Jika sebelumnya kita berbicara tentang menghidupkan iman, maka kini kita masuk lebih dalam: bagaimana Ramadhan memulihkan luka batin yang selama ini diam-diam kita simpan.

Karena sering kali, yang membuat iman redup bukan kurangnya ilmu.
Melainkan luka yang tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk sembuh.

Bersama Coach Sonny Abi Kim, kita diajak melihat bahwa Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah.
Ia adalah ruang pemulihan.
Madrasah penyembuhan jiwa.

Sebab yang perlu kita pulihkan bukan hanya tubuh yang lelah oleh aktivitas, tetapi hati yang menyimpan kecewa, kehilangan, dan kelelahan yang tak selalu terlihat.

Dan di sinilah Ramadhan bekerja—
bukan sekadar memperbanyak amal, tetapi membersihkan lapisan luka yang selama ini tersembunyi.

Kenapa Doa Belum Dikabulkan? Ini Cara Allah Menjawabnya Tanpa Kita Sadari | Kajian Ruang Perempuan

The New Me - Platform refleksi spiritual perempuan berbasis pengalaman, ilmu, dan perjalanan iman. 

Doa terasa belum dikabulkan? Mungkin Allah sedang menjawabnya lewat proses. Refleksi lembut untuk belajar percaya dan berserah.

Doa, Takdir, dan Hati yang Masih Ingin Mengatur

Dalam sesi bersama Bunda Aniqq Al Faqiroh, muncul pertanyaan yang sering diam-diam hidup di hati kita:

“Kalau semua sudah ditetapkan Allah, lalu posisi doa itu di mana?”
“Apakah doa benar-benar bisa mengubah takdir?”

Pertanyaan ini bukan sekadar teologis.
Ini pertanyaan hati yang sedang gelisah.

Apakah Doa Bisa Mengubah Takdir?

Jawabannya: bisa — dengan izin Allah.

Para ulama menyampaikan bahwa doa termasuk bagian dari takdir itu sendiri. Bahkan ada ungkapan dari kalangan sufi bahwa:

Allah menciptakan doa lebih kuat daripada takdir.

Namun garis bawahnya jelas: semua tetap atas izin Allah.

Artinya apa?

Doa bukan melawan takdir.
Doa adalah bagian dari skenario takdir.

Kita berdoa — itu sudah ditulis.
Doa kita dikabulkan — itu juga sudah ditulis.
Ditunda, diganti, atau diarahkan — semuanya dalam ilmu-Nya.

Allah sudah berjanji dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya. Dan Dia juga berjanji:

“Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.”

Maka berhenti berdoa bukan solusi.
Justru doa adalah bentuk ketaatan pada janji Allah.

Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 22–23 : Mutiara, Luka, dan Rahmat yang Tersembunyi | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day5 )

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 22–23 tentang makna mutiara dan marjan sebagai simbol ujian, luka, dan rahmat Allah dalam proses kehidupan.

Prolog — Melanjutkan Day 4

Pada pembelajaran sebelumnya tentang dua lautan yang bertemu, namun tidak saling melampaui batas.
Tentang kedewasaan menjaga diri meski berada dalam arus dunia.

Hari ini, Surah Ar-Rahman membawa kita menyelam lebih dalam.

Jika kemarin Allah menunjukkan batas,
hari ini Allah menunjukkan hasil dari proses yang tersembunyi.

Yakhruju minhuma al-lu’lu’u wal marjan.”
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
(QS. Ar-Rahman: 22)

Dari dua laut itu—laut asin dan laut tawar—Allah keluarkan mutiara dan marjan (karang merah). Permata indah yang tidak tumbuh di daratan, tidak pula di permukaan, tetapi di kedalaman yang sunyi.



23 Februari 2026

Tafsir & Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 19–21: Dua Lautan yang Bertemu, Namun Tak Pernah Melebur | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day 4 )

Setelah Allah memperlihatkan kepada kita bagaimana matahari terbit dari dua timur dan tenggelam di dua barat — bagaimana musim berganti tanpa pernah salah arah — kini Allah mengajak kita merenungi sesuatu yang lebih dalam: pertemuan dua lautan yang tidak pernah bercampur sepenuhnya.

Di balik fenomena alam itu, tersimpan pelajaran tentang batas, keseimbangan, dan rahmat yang begitu presisi.

Berikut Refleksi mendalam Surah Ar-Rahman ayat 19–21 tentang dua lautan yang bertemu namun tetap berbatas. Pelajaran tentang identitas, batas, dan rahmat Allah dalam kehidupan.

Prolog Sifillah – Melanjutkan Day 3

Kemarin, pada pembelajaran Day 3, aku belajar tentang musim yang berganti.
Allah adalah Tuhan dua timur dan dua barat.
Tidak ada yang statis. Tidak ada yang tetap di titik yang sama.

Hari ini Allah membawaku lebih dalam lagi.

Jika sebelumnya aku belajar tentang perubahan,
kini aku belajar tentang pertemuan.

Tentang dua arus besar yang saling mendekat—
namun tidak pernah kehilangan jati dirinya.

Dan di situlah aku merasa…
ayat ini seperti sedang berbicara langsung kepadaku.

Pada refleksi sebelumnya tentang Surah Ar-Rahman ayat 17–18, kita belajar menerima pergantian musim kehidupan. Kini Allah mengajarkan tentang batas dalam pertemuan.

Baca Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 17–18 : Tuhan Dua Timur, Dua Barat — Dan Aku yang Belajar Percaya


22 Februari 2026

Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 17–18 : Tuhan Dua Timur, Dua Barat — Dan Aku yang Belajar Percaya | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day 3 )

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 17–18 tentang Tuhan Pemilik dua timur dan dua barat, pergantian musim, serta pelajaran tentang fleksibilitas, rahmat, dan kepercayaan dalam menjalani fase hidup perempuan.

Prolog: Setelah Belajar Rendah Hati, Kini Aku Belajar Percaya

Kemarin aku diingatkan bahwa aku berasal dari tanah.
Bahwa tidak ada alasan untuk sombong.
Bahwa penciptaanku sendiri adalah bukti rahman-Nya.

Hari ini, ayat berikutnya mengajakku melihat lebih luas.

“Tuhan dari dua timur dan Tuhan dari dua barat.”

Jika sebelumnya aku diajak menunduk melihat asal,
kini aku diajak mendongak melihat langit.

Melihat bagaimana matahari terbit dan terbenam tidak pernah benar-benar di titik yang sama.

Baca juga artikel ini
Saat Allah Menyapaku dengan Kasih, Bukan Teguran 
Dari Tanah yang Diremehkan, Menjadi Manusia yang Dimuliakan



Ramadhan, Rating Langit, dan Jejak Peradaban: Dari Menata Hati hingga Membangun Legacy Qur’ani | Kajian Meaningful Ways

Dari Menata Hati hingga Membangun Legacy Qur’ani

Refleksi dari Kajian Meaningful Ways – Zoominar Amal bersama Ir. Jamil Azzaini & Ustadz Fatih Karim

Makna Ramadhan dan rating langit bukan sekadar tentang ibadah, tetapi tentang arah hidup yang kita pilih. Apakah kita masih mengejar pengakuan dunia, atau mulai membangun legacy Qur’ani yang diridhai Allah?

Ramadhan Bukan Sekadar Ritual

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum pulang. Pulang dari ambisi yang melelahkan, dari pencitraan yang menguras jiwa, menuju makna yang lebih dalam: menjadi manusia yang bermanfaat dan diridhai Allah.

Dalam kajian bertajuk “Ramadhan: A Pause for Soul – Berhenti Sejenak untuk Kembali Pulang” bersama Babe Ir. Jamil Azzaini dan Ustadz Fatih Karim, saya tidak hanya merasa tercerahkan—saya merasa diguncang.

Ramadhan datang bukan untuk membuat kita sibuk.
Ia datang untuk membuat kita sadar.

21 Februari 2026

Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 14–16 : Dari Tanah yang Diremehkan, Menjadi Manusia yang Dimuliakan | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day 2 )

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 14–16 tentang asal-usul penciptaan manusia dari tanah, penciptaan jin dari api, dan pelajaran kerendahan hati bagi perempuan yang sedang belajar menata diri di bulan Ramadhan.

Prolog: Setelah Disapa dengan Kasih, Kini Aku Diingatkan tentang Asalku

Kemarin, pada ayat 1–13, aku disapa dengan lembut.

Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman.
Bukan dengan teguran.
Bukan dengan ancaman.

Aku diingatkan bahwa aku hidup di bawah kasih sayang-Nya.

Hari ini, ayat 14–16 seperti melanjutkan percakapan itu.

Jika kemarin aku diingatkan tentang kasih,
hari ini aku diingatkan tentang asal.

Tentang dari mana aku datang.

Dan jujur… bagian ini lebih menundukkan.

Baca juga artikel ini
Saat Allah Menyapaku dengan Kasih, Bukan Teguran 



20 Februari 2026

Refleksi Surah Ar-Rahman 1–13: Saat Allah Menyapaku dengan Kasih, Bukan Teguran | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day 1 )

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 1–13 tentang kasih sayang Allah, syukur, dan 31 Days Challenge untuk menata hati di bulan Ramadhan.
 
Ada satu fase dalam hidupku sebagai perempuan…
di mana aku terlihat baik-baik saja,
tapi sebenarnya sedang lelah secara diam-diam.

Rutinitas berjalan.
Peran terpenuhi.
Target tercapai.

Namun hati terasa kosong.

Aku bisa tersenyum di depan banyak orang.
Tetap menjalankan kewajiban.
Tetap terlihat kuat.

Tapi di dalam, aku mudah tersinggung.
Mudah membandingkan.
Dan… mudah mengeluh.

Yang paling jujur?
Aku sering merasa hidupku kurang.

Kurang dihargai.
Kurang dimengerti.
Kurang ringan.

Padahal kalau dihitung dengan sadar,
nikmatku jauh lebih banyak daripada keluhanku.

Itulah mengapa ketika aku kembali membaca dan mentadabburi Surah Ar-Rahman ayat 1–13, rasanya seperti sedang dipanggil pulang.

Bukan ditegur.
Bukan dimarahi.
Tapi dipanggil dengan kasih.


Membentuk Ritme Hidup yang Baru: Momentum Reset di Bulan Ramadan | Kajian Meaningful Ways

Hidup bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tetapi seberapa tepat ritme yang kita jalani. Dalam kajian Meaningful Ways, Novie Setiabakti mengajak kita melakukan reset kehidupan melalui momentum Ramadan: menata ulang waktu, memperbaiki tujuan, dan membangun kebiasaan baru yang lebih sadar, terarah, serta bernilai ibadah.

Artikel ini merangkum poin-poin penting kajian tersebut, dilengkapi dengan insight reflektif dan ajakan kebaikan untuk menghidupkan makna waktu dalam kehidupan kita.

Prolog: Ketika Hidup Terasa Sibuk, Tapi Kosong

Pernah merasa sangat sibuk, tapi tidak benar-benar tenang?
Agenda penuh. Kalender padat. Notifikasi tak henti berbunyi.

Namun di ujung hari, hati terasa lelah tanpa makna.

Kita berlari cepat, tetapi lupa mengatur ritme.
Padahal, tanpa ritme yang tepat, energi habis untuk hal-hal yang tidak perlu.

Ramadan datang bukan sekadar sebagai bulan ibadah, tetapi sebagai undangan lembut dari Allah untuk mereset hidup kita.

1️⃣ Dua Sumber Daya: Rezeki Berbeda, Waktu Sama

Dalam kajian ini, Novie mengingatkan bahwa Allah memberi kita dua sumber daya utama:

1. Rezeki → Takaran Berbeda

Setiap orang punya porsi masing-masing.
Tidak perlu kepo dengan rezeki orang lain.

Semakin kita membandingkan, semakin hilang rasa syukur.

2. Waktu → 24 Jam untuk Semua

Ramadan atau tidak, waktunya tetap 24 jam.
Yang membedakan adalah bagaimana kita mengisinya.

Pertanyaannya sederhana namun dalam:

“Dua puluh empat jam yang Allah beri, kita gunakan untuk apa?”

Coba cek screen time harian.
Berapa jam dihabiskan untuk gawai?
Berapa jam untuk kebaikan?

Karena waktu selalu punya dua kemungkinan:

  • Dipakai untuk kebaikan

  • Atau terisi hal yang tidak bernilai

19 Februari 2026

Ramadhan Menghidupkan Iman: Cara Allah Mengaktifkan Kode Hati dan Mengubah Inner Game Kehidupan | The Heart of Ramadhan

Bagaimana Ramadhan menghidupkan iman dan mengaktifkan kode hati (Healing, Enlightenment, Abundance, Resilience, Trust)? Temukan penjelasan spiritual dan ilmiahnya di sini.

Prolog: Mengapa Kita Terasa “Lebih Hidup” Saat Ramadhan?

Pernahkah Anda menyadari sesuatu yang unik setiap kali Ramadhan datang?

Orang-orang yang biasanya keras menjadi lebih lembut.
Yang jarang tersentuh, mudah menangis dalam doa.
Yang sibuk dengan dunia, tiba-tiba mencari Al-Qur’an.

Ada suasana yang berbeda.

Seakan-akan hati kita diberi ruang untuk bernapas kembali.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Dalam Kelas Spesial Ramadhan bersama Coach Sonny Abi Kim bertajuk The Heart of Ramadhan – Menata Hati di Bulan Suci (Sesi 2: Ramadhan Menghidupkan Iman), dijelaskan bahwa:

Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah.
Ramadhan adalah ekosistem yang menghidupkan iman.

Inilah kunci yang sering tidak kita sadari.

Ramadhan Bukan Sekadar Waktu, Tetapi Ekosistem Spiritual

Banyak orang memahami Ramadhan sebagai periode 30 hari untuk berpuasa, tarawih, dan memperbanyak ibadah.

Namun sesungguhnya, Ramadhan jauh lebih dari itu.

Ia adalah lingkungan spiritual yang dirancang Allah untuk menata hati manusia.

Mengapa Lingkungan Sangat Penting?

Manusia adalah makhluk yang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.

  • Lingkungan bising membuat pikiran cepat lelah.

  • Lingkungan penuh distraksi membuat hati terasa kosong.

  • Lingkungan kompetitif berlebihan membuat jiwa mudah gelisah.

Sekarang bandingkan dengan Ramadhan.

Di bulan ini:

  • Al-Qur’an lebih sering dibaca.

  • Sedekah lebih mudah dilakukan.

  • Doa lebih sering dipanjatkan.

  • Masjid lebih ramai.

  • Pembicaraan tentang akhirat lebih sering terdengar.

Seluruh dunia seakan diajak pelan-pelan kembali kepada Allah.

Inilah yang disebut sebagai ekosistem spiritual Ramadhan.

Tanpa kita sadari, lingkungan ini menurunkan kebisingan batin kita.

Makna Puasa Ramadhan: Agar Tidak Sekadar Lapar, Tapi Menghasilkan Ketakwaan | Day-4 Teras Ramadhan

Teras Ramadan

Puasa Bukan Sekadar Sah, Tapi Sampai ke Hati

Refleksi Teras Ramadan Day 4 bersama Ustadzah Nusaibah Azzahra

Bagaimana agar puasa Ramadhan benar-benar mengubah hati dan menghadirkan ketakwaan? Dalam kajian Teras Ramadan Day 4 bersama Ustadzah Nusaibah Azzahra, kita diajak memahami makna puasa yang menyentuh dimensi spiritual, psikologis, dan sosial. Artikel ini membahas bagaimana agar puasamu bermakna—bukan sekadar sah, tetapi sampai ke hati dan melahirkan takwa.

Puasa Ramadhan bukan sekadar sah secara hukum, tetapi harus sampai ke hati dan melahirkan ketakwaan. Pelajari tujuan puasa, hikmah puasa Ramadhan, serta cara agar puasa benar-benar mengubah diri dalam refleksi Teras Ramadan Day 4.

Prolog Sifillah

Alhamdulillah… Allah masih mengizinkan kita memasuki Ramadhan tahun ini.

Padahal ada beberapa kawan yang telah lebih dulu Engkau panggil ya Allah… sementara aku masih Engkau beri kesempatan.

Bolehkah aku berbaik sangka… bahwa Engkau masih ingin aku belajar menjadi hamba yang bertakwa?
Masih ingin aku diampuni… dan diberkahi?

Izinkan setiap detiknya bermakna.
Izinkan setiap laparnya membersihkan jiwaku.
Izinkan di akhir nanti, saat kami berjumpa dengan-Mu, amal kecil ini menjadi cahaya yang menemani kami.

Ketika selesai berdoa… rasanya hati ini lebih hadir. Seolah Ramadhan bukan hanya datang sebagai bulan kalender, tapi sebagai panggilan jiwa.

Semua dimulai dari hati.
Semua dimulai dari doa.

Bismillah…

18 Februari 2026

Fiqih Ramadan: Siap Masuk Ramadan dengan Ilmu, Bukan Sekadar Semangat | Day 3 – Teras Ramadan

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat. Pada Day 3 Teras Ramadan, dalam Kajian Fiqih Seputar Ramadan bersama Ustadz Muslim Al Fatih, kita membahas Fiqih Dasar Ramadan secara runtut dan mendalam—mulai dari syarat wajib puasa, syarat sah puasa, rukun puasa, niat puasa, hingga keutamaan puasa dalam Islam.

Belajar fiqih Ramadan adalah langkah penting agar ibadah kita tidak sekadar bersemangat, tetapi benar dan bernilai di sisi Allah. Artikel ini merangkum poin-poin penting kajian agar setiap muslimah dapat memasuki bulan suci dengan ilmu, pemahaman, dan ketenangan hati.

Karena Ramadan yang terbaik bukan hanya yang paling sibuk ibadahnya, tetapi yang paling benar pelaksanaannya.

Pelajari Fiqih Ramadan: syarat wajib dan sah puasa, niat puasa, rukun puasa, serta keutamaan puasa bersama Ustadz Muslim Al Fatih di Teras Ramadan.

Ramadan Tidak Cukup dengan Semangat

Banyak yang begitu antusias menyambut Ramadan.
Dekorasi sudah disiapkan. Target tilawah sudah ditulis. Menu sahur sudah dirancang.

Namun ketika Ramadan benar-benar datang, muncul kegelisahan kecil:

Apakah puasaku sudah benar?
Apa saja yang membatalkan puasa tanpa aku sadari?
Sudahkah niatku sah menurut syariat?

Ibadah bukan sekadar perasaan khusyuk.
Ia butuh fondasi ilmu.

Karena amal tanpa ilmu bisa sia-sia.
Dan ilmu tanpa amal hanya menjadi pengetahuan yang membeku.

Di kelas Teras Ramadan, bersama Muslim Al Fatih, kita diajak kembali pada dasar: Fiqih Basic Ramadan.

17 Februari 2026

Ramadhan Mendidik Hati: Inner Game Spiritual | The Heart of Ramadhan

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang mendidik hati agar kembali bersih, sadar, dan terhubung dengan Allah. Artikel ini merangkum materi Webinar Spesial Ramadhan “The Heart of Ramadhan” bersama Coach Sonny Abi Kim dari Inner Game Life Coach Academy, khususnya Sesi 1: Ramadhan Mendidik Hati. Sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana puasa membentuk inner game seorang muslimah dari dalam ke luar.

Prolog – Sifillah

Ada fase dalam hidup saya ketika Ramadhan terasa… biasa saja.

Target ada.
Planner ada.
Checklist ibadah rapi.

Tapi hati?
Kadang masih penuh gelisah.

Sebagai pembelajar di Inner Game Life Coach Academy, saya tersadar bahwa kualitas Ramadhan tidak ditentukan oleh seberapa banyak aktivitas spiritual yang kita lakukan—melainkan oleh kondisi batin yang kita bawa ke dalamnya.

Di Kelas Spesial Ramadhan bertajuk The Heart of Ramadhan, Coach Sonny Abi Kim membuka sesi pertama dengan tema yang begitu mendasar namun sering terlupakan:

Ramadhan bukan sekadar melatih fisik. Ramadhan mendidik hati.

Dan dari situlah perjalanan refleksi ini dimulai.

04 Februari 2026

Mindset Sehat Islami untuk Jiwa yang Kuat: Inner Game, Kesadaran, dan Deep Healing

Artikel reflektif ini mengulas mindset sehat untuk jiwa yang kuat berdasarkan pembelajaran dari Kajian Meaningful Ways bersama Kang Harry Firmansyah, yang diolah melalui pendekatan inner game dan refleksi spiritual sebagai seorang Sifillah.

Pembaca diajak menyadari dinamika batin, memahami pola emosi dan core belief, hingga menjalani proses deep healing dan action plan sederhana yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Tulisan ini menegaskan bahwa mempelajari hal baru sejatinya membentuk pribadi yang baru, ketika kesadaran, iman, dan praktik bertemu dalam proses bertumbuh menuju versi diri yang lebih lapang dan dekat kepada Allah.
Cocok bagi Muslimah dan pembaca yang sedang mencari ketenangan batin, kesehatan mental islami, serta makna perubahan diri melalui inner game dan mindset sehat.

Prolog — Sebagai Sifillah


Tulisan ini lahir dari proses belajar yang tidak instan.
Ia bukan rangkuman sempurna, juga bukan kesimpulan final.

Materi yang tertuang di sini aku dapatkan dari Kajian Meaningful Ways bersama Kang Harry Firmansyah, lalu kuolah kembali melalui pengalaman batin, peran sebagai seorang ibu, dan perjalanan inner game yang sedang kupelajari dengan penuh kesadaran.

Aku menuliskannya sebagai pembelajaran, bukan kebenaran mutlak.
Sebagai refleksi, bukan penghakiman.
Sebagai teman seperjalanan, bukan penentu arah hidup siapa pun.

Jika dalam membaca tulisan ini kamu merasa:

  • tersentuh,

  • tersadar,

  • atau justru terdiam lebih lama dari biasanya,

maka izinkan itu terjadi.
Barangkali bukan tulisanku yang bekerja,
melainkan Allah yang sedang menyapa hatimu dengan cara-Nya.

Semoga tulisan ini menjadi ruang aman—
untuk berhenti sejenak,
menata kembali cara berpikir,
dan menguatkan langkah menuju versi diri yang lebih sadar.

Karena sejatinya,
THE NEW ME bukan tentang menjadi orang lain,
melainkan tentang kembali pulang
kepada diri yang lebih jujur di hadapan Allah.

Seorang Sifillah yang sedang belajar bertumbuh

02 Februari 2026

Sibuk Menerangi Orang Lain, Sampai Lupa Cahaya Diri Sendiri

Merasa lelah, kehilangan semangat, atau produktif tapi hampa?
Bisa jadi bukan karena kurang usaha, melainkan karena spirit hidup mulai meredup.

Artikel ini merangkum pembelajaran penting dari Kajian Senin Pagi Meaningful Ways bersama Ustadz M. Zulfikarullah tentang bagaimana menata niat, menghidupkan spirit, dan membangun harapan yang aktif melalui kesadaran, makna, dan tindakan.

Cocok untuk kamu yang sedang mencari cara recharge jiwa, menemukan kembali arah hidup, dan bertumbuh menjadi versi diri yang lebih utuh dan bermakna.

Ketika Spirit Hidup Perlahan Meredup

“Ada masa ketika kita begitu rajin menjadi cahaya untuk banyak orang,
namun lupa mengecek:
apakah cahaya dalam diri kita sendiri masih menyala?”

Pagi itu, Senin yang terasa berbeda.
Dalam kajian Meaningful Ways bersama Ustadz M. Zulfikarullah, kalimat-kalimatnya tidak sekadar masuk telinga—ia jatuh pelan ke hati.

Dan entah mengapa, saya (Sifillah) merasa sedang diajak bercermin.

Saya pernah berada di fase itu.
Fase sibuk menguatkan orang lain.
Menjadi tempat pulang emosi banyak jiwa.
Menjadi “yang kuat”, “yang paham”, “yang bisa diandalkan”.

Namun diam-diam…
cahaya diri sendiri mulai meredup.
Bukan karena lemah.
Tapi karena lupa recharge.

Jika kamu pernah merasa:

  • Mudah lelah tanpa sebab jelas

  • Semangat ibadah naik-turun

  • Berbuat banyak tapi hampa

  • Produktif tapi kehilangan makna

Mungkin bukan karena kamu kurang usaha.
Tapi karena spirit-mu sedang padam perlahan.

01 Februari 2026

Menata Jiwa Sebelum Perilaku | Inner Game, Tazkiyatun Nafs, dan Jalan Menuju “The New Me”

Artikel ini membahas bagaimana Al-Qur’an—melalui QS Asy-Syams 7–10—mengajarkan bahwa perubahan hidup sejati dimulai dari jiwa, bukan sekadar perilaku. Dengan pendekatan Inner Game dan konsep tazkiyatun nafs, pembaca diajak memahami hubungan antara pikiran, perasaan, amal, dan takdir hidup.
Sebuah refleksi mendalam bagi perempuan yang ingin bertumbuh secara sadar, menata batin, dan melangkah menuju versi diri yang lebih utuh (The New Me), tenang, dan selaras dengan kehendak Allah.

Cocok untuk pembaca yang mencari kajian perempuan, pengembangan diri islami, inner healing, dan pembelajaran batin yang membentuk perubahan nyata dari dalam.

Prolog — oleh Sifillah | Ruang Perempuan

Ada masa dalam hidup perempuan
di mana kita menyadari satu hal penting:
perubahan sejati tidak selalu dimulai dari luar.

Bukan dari jadwal yang lebih rapi,
bukan dari resolusi yang panjang,
bukan dari tuntutan untuk “harus lebih baik” setiap saat.

Melainkan dari ruang yang sering kita abaikan—
ruang batin.

Di sanalah pikiran bersemayam,
perasaan tumbuh,
dan keputusan hidup perlahan dibentuk.

Maka ketika kita belajar hal baru,
sejatinya yang sedang dibentuk bukan sekadar pengetahuan,
tetapi diri yang baru.

Inilah perjalanan The New Me
perjalanan menata jiwa, sebelum menata dunia.

Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 68–69 : Nikmat yang Dihadirkan dengan Cinta | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day 27)

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 68–69 tentang nikmat yang dipilihkan Allah. Pelajari makna kurma dan delima dalam Al-Qur’an serta bagaimana ...

Popular Posts