20 Februari 2026

Refleksi Surah Ar-Rahman 1–13: Saat Allah Menyapaku dengan Kasih, Bukan Teguran | 31 Days Challenge Ar-Rahman

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 1–13 tentang kasih sayang Allah, syukur, dan 31 Days Challenge untuk menata hati di bulan Ramadhan.
 
Ada satu fase dalam hidupku sebagai perempuan…
di mana aku terlihat baik-baik saja,
tapi sebenarnya sedang lelah secara diam-diam.

Rutinitas berjalan.
Peran terpenuhi.
Target tercapai.

Namun hati terasa kosong.

Aku bisa tersenyum di depan banyak orang.
Tetap menjalankan kewajiban.
Tetap terlihat kuat.

Tapi di dalam, aku mudah tersinggung.
Mudah membandingkan.
Dan… mudah mengeluh.

Yang paling jujur?
Aku sering merasa hidupku kurang.

Kurang dihargai.
Kurang dimengerti.
Kurang ringan.

Padahal kalau dihitung dengan sadar,
nikmatku jauh lebih banyak daripada keluhanku.

Itulah mengapa ketika aku kembali membaca dan mentadabburi Surah Ar-Rahman ayat 1–13, rasanya seperti sedang dipanggil pulang.

Bukan ditegur.
Bukan dimarahi.
Tapi dipanggil dengan kasih.

Ar-Rahman: Allah Memulai dengan Kasih Sayang

Surah ini tidak dibuka dengan perintah.
Tidak dengan ancaman.

Allah memperkenalkan diri-Nya terlebih dahulu sebagai:

Ar-Rahman — Yang Maha Pengasih.

Sebelum aku diminta berubah.
Sebelum aku diminta memperbaiki diri.
Sebelum aku disadarkan tentang kelalaianku.

Allah mengingatkanku:
Aku hidup dalam kasih sayang-Nya.

Sebagai perempuan, kita sering keras pada diri sendiri.
Merasa kurang sabar.
Kurang berhasil.
Kurang berdaya.

Tapi Allah tidak memulai dengan “kamu kurang.”
Allah memulai dengan “Aku Maha Pengasih.”

Dan itu saja sudah cukup membuatku menunduk.

Semesta Tertib, Tapi Hatiku Tidak Selalu Seimbang

Dalam tafsir Ar-Rahman 1–13 disebutkan bahwa Allah:

  • Mengajarkan Al-Qur’an

  • Menciptakan manusia

  • Mengajarkan manusia pandai berbicara

  • Menjadikan matahari dan bulan beredar dengan perhitungan

  • Menegakkan langit dengan neraca (keadilan)

Semesta begitu rapi.
Begitu presisi.
Begitu seimbang.

Lalu aku melihat diriku sendiri.

Allah yang mengajarkan aku berbicara.
Tapi lisanku sering dipakai untuk mengeluh.

Allah yang menciptakan neraca keadilan.
Tapi emosiku sering tidak seimbang.

Matahari dan bulan tidak pernah bertabrakan.
Tapi mood-ku bisa berubah hanya karena pesan yang tidak dibalas.

Semesta tunduk.
Aku sering memberontak.

Dan di tengah semua itu, Allah bertanya berulang kali:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Aku tidak pernah berkata, “Aku tidak bersyukur.”

Tapi ketika keluhanku lebih banyak daripada kesadaranku,
bukankah itu bentuk halus dari mendustakan nikmat?



Mengapa Aku Memulai 31 Days Challenge Ar-Rahman?

Bukan karena ingin terlihat religius.
Bukan karena ingin produktif di bulan Ramadhan.

Tapi karena aku ingin membangun satu kebiasaan kecil:

Berhenti.
Membaca.
Merenung.
Menulis.

Sebagai perempuan, waktu kita sering habis untuk orang lain.
Jarang sekali kita duduk dan bertanya:

“Apa yang sedang Allah ajarkan padaku hari ini?”

Challenge ini bukan tentang menyelesaikan 31 hari.
Tapi tentang melatih hati agar peka.

Melatih diri agar tidak langsung mengeluh.
Melatih pikiran agar mencari nikmat sebelum mencari masalah.

Jika dilakukan terus-menerus, ini bukan lagi sekadar challenge.
Ia menjadi habit.

Habit untuk:

  • Membaca Al-Qur’an dengan sadar

  • Mengaitkan ayat dengan kehidupan sehari-hari

  • Menulis refleksi sebagai cermin hati

  • Menumbuhkan syukur yang nyata

Dan Ramadhan adalah waktu terbaik untuk memulai kebiasaan baik.

Ramadhan Planner
Jika ingin ibadahmu lebih terarah dan tercatat rapi, gunakan Ramadhan Planner sebagai pendamping harian.

Mempelajari Hal Baru, Membentuk Diri yang Baru

Di blog Satu Hati: The New Me, aku sering menulis:

“Mempelajari hal baru sejatinya membentuk diri yang baru. Saat kita menguasainya, kita tak lagi menjadi orang yang sama.”

Hari ini aku merasa,
mempelajari Surah Ar-Rahman bukan sekadar menambah ilmu.

Ia sedang membentuk ulang cara pandangku.

Bahwa hidupku bukan kekurangan nikmat,
melainkan kekurangan kesadaran.

Bahwa masalahku bukan kurang fasilitas,
melainkan kurang rasa cukup.

Dan mungkin…
yang perlu diubah bukan situasiku,
tapi caraku melihatnya.

📝 Refleksi Hari Ini

(Surah Ar-Rahman 1–13)

  1. Di bagian mana aku masih lalai?

  2. Di bagian mana aku masih mengeluh?

  3. Apa kesan yang kurasakan setelah menyelam ke Surah Ar-Rahman hari ini?

Jika kamu mengikuti perjalanan ini bersama kami, silakan tulis jawaban langsung di grup dengan format:

  • Insight:
  • Komitmen:

Tidak perlu panjang.
Tidak perlu terdengar indah.
Yang penting jujur.

Karena perubahan hati dimulai dari kejujuran pada diri sendiri.

Insight & Komitmenku Hari Ini

  • Insight:
Aku sering lalai menyadari bahwa hidupku dipenuhi kasih sayang Ar-Rahman.
Aku masih mudah mengeluh pada hal kecil, padahal semesta saja tunduk pada aturan-Nya.
Ayat ini membuatku merasa kecil, tapi sekaligus merasa dipeluk.

  • Komitmen:
Aku ingin lebih sadar sebelum mengeluh.
Aku ingin menata lisanku dan emosiku agar lebih seimbang.
Dan setiap kali merasa berat, aku akan bertanya:

“Nikmat mana yang sedang tidak aku lihat?”


Ini baru ayat 1–13.
Dan aku sudah merasa sedang ditata ulang.

Besok kita akan melanjutkan penyelaman ayat berikutnya.
Pelan-pelan.
Satu demi satu.

Karena perubahan sejati tidak datang dalam satu malam.
Ia tumbuh dari kebiasaan kecil yang dilakukan terus-menerus.


Jika kamu ingin berjalan bersama,
bukan sekadar ikut challenge,
tapi benar-benar membangun habit baik bersama Al-Qur’an di bulan Ramadhan…

🌿 31 Days Challenge Ar-Rahman

📲 Link Join Saluran Ruang Perempuan
https://s.id/RuangPerempuan

Mari bertumbuh bersama.
Mungkin yang berubah bukan hidup kita seketika.
Tapi cara kita memaknainya.

Dan itu… sudah lebih dari cukup 🤍

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi Surah Ar-Rahman 1–13: Saat Allah Menyapaku dengan Kasih, Bukan Teguran | 31 Days Challenge Ar-Rahman

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 1–13 tentang kasih sayang Allah, syukur, dan 31 Days Challenge untuk menata hati di bulan Ramadhan .   Ada sa...

Popular Posts