Dari Menata Hati hingga Membangun Legacy Qur’ani
Refleksi dari Kajian Meaningful Ways – Zoominar Amal bersama Ir. Jamil Azzaini & Ustadz Fatih Karim
Makna Ramadhan dan rating langit bukan sekadar tentang ibadah, tetapi tentang arah hidup yang kita pilih. Apakah kita masih mengejar pengakuan dunia, atau mulai membangun legacy Qur’ani yang diridhai Allah?
Ramadhan Bukan Sekadar Ritual
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga. Ia adalah momentum pulang. Pulang dari ambisi yang melelahkan, dari pencitraan yang menguras jiwa, menuju makna yang lebih dalam: menjadi manusia yang bermanfaat dan diridhai Allah.
Dalam kajian bertajuk “Ramadhan: A Pause for Soul – Berhenti Sejenak untuk Kembali Pulang” bersama Babe Ir. Jamil Azzaini dan Ustadz Fatih Karim, saya tidak hanya merasa tercerahkan—saya merasa diguncang.
Ramadhan datang bukan untuk membuat kita sibuk.
Ia datang untuk membuat kita sadar.
BAGIAN 1
Menata Hati: Dari Rating Dunia ke Rating Langit
Pagi itu saya duduk dengan hati yang ingin tenang, tapi ternyata justru diguncang.
Kita sering memaksa diri terlihat “baik-baik saja”, terlihat sukses, terlihat produktif. Padahal batin kita mungkin kehilangan arah. Kita mengejar tepuk tangan manusia, tapi lupa bertanya: apakah langit juga menyebut nama kita dengan bangga?
Ramadhan datang seperti jeda. Ia bukan sekadar ritual duniawi, tapi kesempatan untuk mengevaluasi ulang:
Kita ini sedang mengejar apa?
Sukses Itu Apa? Harta, Tahta, Kata, atau Cinta?
Dalam pemaparannya, Ir. Jamil Azzaini membagikan ajaran gurunya tentang makna sukses.
Sukses bisa berupa:
-
Harta (kekayaan)
-
Tahta (jabatan dan pengaruh)
-
Kata (pemikiran yang didengar)
-
Cinta (dicintai banyak orang)
Namun beliau menegaskan, semua itu bisa terasa hampa jika hanya berhenti pada diri sendiri.
Maka lahirlah konsep yang beliau pegang teguh:
Sukses Mulia
Sukses yang tidak hanya mengumpulkan, tapi mengalirkan.
Sukses yang tidak hanya menerima, tapi memberi.
Beliau mengibaratkan hidup seperti bernapas:
-
Tarik napas → Sukses
-
Hembuskan napas → Mulia
Jika hanya menarik tanpa menghembuskan, kita akan mati.
Jika hanya mengumpulkan tanpa mengalirkan, jiwa akan kering.
Dua Jalur Hidup: Profesional dan Spiritual
Untuk mencapai Sukses Mulia, ada dua jalur yang harus disatukan:
-
Jalur Profesional (Capaian yang Terukur)
-
Tarif
-
Prestasi
-
Laba
-
Rating (popularitas)
-
Gaji
-
-
Jalur Spiritual (Hidayah dan Kedekatan dengan Allah)
Masalahnya, banyak dari kita hanya fokus pada jalur profesional. Kita sibuk mengejar rating, laba, dan prestasi—tapi lupa memperkuat jalur hidayah.
Ir. Jamil pernah memilih jalur rating—muncul di TV, radio, menulis buku, dikenal luas. Popularitas diraih.
Namun di tengah perjalanan ke Amerika, beliau merenung:
“Inikah yang saya cari?”
Popularitas ternyata tidak menjawab kegelisahan batin.
Dari Rating Dunia ke Rating Langit
Puncak refleksi itu terjadi ketika beliau berkata kepada gurunya:
“Yang paling saya impikan sekarang… saya dipuji oleh Allah saja.”
Jawaban gurunya sederhana tapi menggetarkan:
“Kalau begitu, kamu bukan mencari rating biasa. Kamu mencari rating langit.”
Rating langit.
Disebut oleh penduduk langit.
Dikenal bukan karena sorotan kamera, tapi karena manfaat yang dirasakan manusia.
Dan jalan menuju rating langit itu satu:
Memberi manfaat sebesar-besarnya di muka bumi.
Melahirkan “Nabi Sulaiman Versi Manusia”
Konsep yang beliau bangun bukan sekadar pelatihan bisnis atau pesantren biasa.
Beliau ingin melahirkan generasi dengan tiga karakter seperti Nabi Sulaiman:
-
Bertakwa
-
Kaya raya
-
Punya kekuasaan
Bukan untuk kesombongan, tapi untuk memberi warna bagi peradaban.
Dari sinilah lahir gagasan Kampung Eco Preneur dan Masjid Eco Wakaf—sebuah ruang yang bukan hanya tempat ibadah, tapi:
-
Pusat pembinaan tahfizpreneur
-
Tempat healing luka batin
-
Pelatihan bisnis masyarakat
-
Pengkaderan miliarder bertakwa
Masjid bukan hanya tempat salat.
Masjid adalah pusat peradaban.
Ramadhan: Momentum Memilih Ulang Jalan Hidup
Bulan ini bukan hanya tentang memperbanyak ibadah personal.
Tapi tentang memperluas kebermanfaatan.
Jika puasa kita benar-benar berhasil, tandanya bukan hanya berat badan yang turun.
Tapi:
-
Amarah lebih terkendali
-
Lebih mudah memaafkan
-
Lebih ringan memberi
-
Lebih peduli pada sekitar
Sebagaimana dalam QS Ali Imran, ciri orang bertakwa adalah mampu menahan amarah dan gemar memaafkan.
Ramadhan seharusnya melahirkan versi diri yang lebih bermanfaat.
Ramadhan Planner
Jika ingin ibadahmu lebih terarah dan tercatat rapi, gunakan Ramadhan Planner sebagai pendamping harian.
Refleksi untuk Kita Semua
Hari ini, izinkan saya bertanya pelan:
-
Apakah kita sedang mengejar rating dunia?
-
Atau mulai membangun rating langit?
-
Apakah harta kita sudah mengalir?
-
Apakah ilmu kita sudah membumi?
-
Apakah kesuksesan kita sudah memuliakan orang lain?
Jika belum siap membangun peradaban besar, kita tetap bisa berkontribusi.
Tidak semua orang harus menjadi pendiri.
Tapi semua orang bisa menjadi pendukung kebaikan.
BAGIAN 2
Menghidupkan Qur’an dan Membangun Peradaban
Ketika Ustadz Fatih Karim berbicara, suasana berubah menjadi lebih dalam.
Beliau mengingatkan sabda Nabi ﷺ:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
Manusia terbaik bukan yang paling kaya.
Bukan yang paling berkuasa.
Tetapi yang paling luas manfaatnya.
Ramadhan Adalah Bulan Qur’an
Allah berfirman:
"Syahrul Ramadhan alladzi unzila fihil Qur’an…"
Bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.
Al-Qur’an bukan hanya untuk dibaca.
Bukan hanya untuk dihafal.
Ia untuk dijadikan kompas hidup.
Namun realitanya, masih banyak umat yang belum mampu membaca Al-Qur’an dengan baik. Inilah yang melatarbelakangi lahirnya Cinta Quran Foundation — gerakan memberantas buta aksara Qur’an hingga pelosok negeri.
Artinya?
Kita masih punya PR peradaban.
Luka Jiwa Itu Nyata
Dalam bagian yang sangat personal, beliau menceritakan masa kecilnya. Broken home. Tanpa pelukan belasan tahun.
“Kalau dulu ada Kampung Hening, mungkin saya harus masuk ke sana. Luka jiwa itu sakit.”
Kalimat itu menghentak.
Orang sakit raga ada rumah sakitnya.
Orang sakit jiwa? Butuh ruang penyembuhan ruh.
Dari sinilah lahir gagasan Eco Pesantren dan Masjid Eco Wakaf.
Masjid bukan hanya tempat salat.
Masjid adalah pusat peradaban.
Nabi hijrah, yang dibangun pertama adalah masjid.
Masjid adalah rumah terakhir sebelum kita pulang.
Dan wakaf adalah cara membawa harta ikut pulang.
Mengapa Masjid?
Beliau dikenal membangun masjid di berbagai belahan dunia — Jepang, Kanada, Australia, dan lainnya.
Mengapa masjid?
Karena:
-
Nabi hijrah, yang dibangun pertama adalah masjid.
-
Nabi wafat, disemayamkan di masjid.
-
Nabi bepergian, berangkat dan kembali melalui masjid.
Masjid adalah pusat peradaban.
Masjid adalah rumah terakhir sebelum kita pulang ke akhirat.
Beliau menegaskan bahwa wakaf adalah cara membawa harta “pulang”.
Harta yang kita bawa mati adalah yang kita wakafkan.
Ramadhan adalah momentum terbaik untuk itu.
Ramadhan: Mengasah Empati
Beliau baru kembali dari Aceh. Menyaksikan langsung dampak bencana. Rumah hanyut. Lumpur menumpuk. Anak-anak kehilangan masa depan.
Ramadhan mengajarkan lapar bukan sebagai teori, tetapi sebagai pengalaman.
Agar hati tidak mati.
Agar kita tidak hanya peduli saat kaya, tetapi juga saat saudara kita tertimpa musibah.
Legacy Tidak Dibangun Saat Kita Mati
Bayangkan 20–30 tahun ke depan.
Nama mungkin sudah tak terdengar.
Tubuh sudah kembali ke tanah.
Namun generasi yang lahir dari visi hari ini… terus mendoakan.
Itulah legacy.
Ramadhan adalah momentum membangunnya.
Refleksi untuk Kita Semua
Hari ini izinkan saya bertanya pelan:
Apakah kita sedang mengejar rating dunia?
Atau mulai membangun rating langit?
Apakah harta kita sudah mengalir?
Apakah ilmu kita sudah membumi?
Apakah hidup kita sudah bermanfaat?
Karena boleh jadi…
ini Ramadhan terakhir kita.
Ajakan Bergerak: Jangan Hanya Tersentuh
Ramadhan adalah jeda.
Tapi jangan berhenti di haru.
Jika ada ruang yang sedang dibangun untuk melahirkan generasi bertakwa dan berdaya—maka kita bisa:
Mendukung dengan doa
Mendukung dengan dana
Mendukung dengan jaringan
Atau minimal menyebarkan kabar kebaikan
Karena bisa jadi, rating langit kita bukan dari apa yang kita bangun sendiri,
tapi dari apa yang kita dukung dengan tulus.
Tapi jangan berhenti di haru.
Mendukung dengan doa
Mendukung dengan dana
Mendukung dengan jaringan
Atau minimal menyebarkan kabar kebaikan
tapi dari apa yang kita dukung dengan tulus.
Allah berjanji:
"Perumpamaan orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai…"
(QS. Al-Baqarah: 261)
Satu biji.
Bukan ladang luas.
Hanya satu biji yang ditanam dengan iman.
Jika kita belum mampu membangun peradaban besar,
kita tetap bisa mengambil bagian dalam membangunnya.
Masjid Eco Wakaf ini sedang dipersiapkan menjadi pusat doa, ilmu, dan lahirnya generasi bertakwa.
Jika hati Anda tergerak, mungkin itu cara Allah mengajak Anda mengambil bagian.
Meaningful Ways
Dari satu langkah kecil hari ini, ribuan doa terlahir 💛
BSI 202 2120 215
a.n Masjid Ecowakaf
Semoga kelak, setiap sujud yang berdiri di atasnya…
menjadi cahaya yang menyambut kita.
Refleksi untuk Kita (Versi The New Me)
Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar.
Tetapi tentang menahan diri agar tidak tersesat.
Ramadhan bukan hanya tentang tilawah.
Tetapi tentang menjadikan Al-Qur’an kompas hidup.
Ramadhan bukan hanya tentang sedekah.
Tetapi tentang meninggalkan jejak yang tak putus pahalanya.
Pertanyaannya bukan lagi:
Sudahkah kita berpuasa?
Tetapi:
Sudahkah kita kembali kepada Qur’an?
Sudahkah kita menyiapkan jejak yang abadi?
Sudahkah kita menolong peradaban, bukan hanya diri sendiri?
Karena boleh jadi — ini Ramadhan terakhir kita.
Peneguhan yang Menyejukkan
Menutup sesi, Ir. Jamil menyampaikan kalimat yang sederhana namun dalam:
“Kalau ingin meningkatkan kebahagiaan, tingkatkan iman dan amal shalih.”
Luka masa lalu bisa sembuh.
Jika iman naik.
Jika amal bertambah.
Dan itulah wajah Ramadhan yang sejati.
Mari Bertumbuh Bersama
Jika hatimu sedang mencari arah, ingin lebih tenang,
dan rindu memperdalam makna hidup melalui ilmu yang menenangkan —
maka bergabunglah dalam WEBINAR BERSAMA
Informasi kajian free yang insyaAllah akan menuntun kita mengenal makna syukur, sabar, dan tauhid dari sisi yang lebih dalam.
📲 Klik untuk bergabung ke salurannya dan dapatkan info kajian berikutnya:
👉 WEBINAR BERSAMA
Karena di setiap ilmu yang kita pelajari dengan hati,
ada bagian diri yang sedang Allah ubah menjadi lebih baik.
Dan di sanalah, The New Me dimulai.









Tidak ada komentar:
Posting Komentar