Tampilkan postingan dengan label Perempuan bertumbuh. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Perempuan bertumbuh. Tampilkan semua postingan

23 Juni 2026

Rindu Bahagia: Perjalanan Pulang kepada Allah Saat Hati Kehilangan Arah

Pernahkah Anda merasa hidup berjalan seperti biasa, tetapi hati terasa kosong? Aktivitas tetap dilakukan, target demi target berhasil dicapai, namun ada ruang dalam diri yang tetap hampa dan sulit dijelaskan.

Banyak perempuan mengalami fase ini. Mereka menjalani berbagai peran dengan baik, tetapi diam-diam kehilangan makna dan arah hidup. Dalam kondisi seperti ini, sering muncul pertanyaan sederhana namun mendalam, "Kapan saya benar-benar bahagia?"

Artikel ini mengajak kita memahami bahwa kebahagiaan bukanlah sesuatu yang harus dikejar tanpa henti. Dalam pandangan Islam, bahagia adalah buah dari hati yang terhubung dengan Allah. Ketika hubungan itu kembali terjalin, hati menemukan ketenangan, kelapangan, dan makna yang selama ini dirindukan.

Ketika Hati Sedang Mencari Jalan Pulang

Ada satu pertanyaan yang diam-diam sering hadir dalam hati banyak perempuan:

"Kapan ya saya benar-benar bahagia?"

Sekilas pertanyaan itu terdengar wajar. Namun terkadang, ketika seseorang terus-menerus mengejar kebahagiaan, justru itu menjadi tanda bahwa ada sesuatu yang sedang tidak baik-baik saja di dalam dirinya.

Sebab orang yang benar-benar menikmati kebahagiaan biasanya tidak sibuk mencarinya.

Ia sedang menjalaninya.

21 April 2026

Kamu Tidak Terlalu Baik—Kamu Hanya Takut Tidak Disukai | Bersama Coach Fauziah Zulfitri, PCC

Menata Batas Diri: Ketika “Baik” Tidak Lagi Menyelamatkanmu

Ada fase dalam hidup seorang perempuan…
di mana ia terlihat kuat, selalu ada, selalu membantu, selalu “baik”—
tapi diam-diam, hatinya lelah.

Ia tersenyum, tapi penuh tekanan.
Ia memberi, tapi kehilangan arah.
Ia hadir untuk semua orang… kecuali untuk dirinya sendiri.

Kalau kamu pernah merasa seperti itu,
mungkin ini bukan tentang kamu yang “terlalu baik”—
tapi tentang batas diri yang belum pernah benar-benar kamu bangun.

Artikel ini akan membantumu memahami satu hal penting:
bahwa menjadi baik tanpa batas bukanlah kebaikan yang sehat.

Prolog Sifillah


Dalam perjalanan belajar di ruang-ruang perempuan, aku menemukan satu pola yang berulang.

Perempuan bukan tidak kuat.
Bukan juga tidak tahu mana yang benar.

Tapi… terlalu sering mereka mengorbankan diri demi diterima.
Terlalu sering mereka berkata “iya” saat hatinya ingin berkata “tidak”.

Dan yang paling menyakitkan…
mereka tidak sadar bahwa itu adalah pola.

Bukan karakter.
Bukan takdir.
Tapi pola yang bisa diubah.

24 Februari 2026

Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 22–23 : Mutiara, Luka, dan Rahmat yang Tersembunyi | 31 Days Challenge Ar-Rahman ( Day5 )

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 22–23 tentang makna mutiara dan marjan sebagai simbol ujian, luka, dan rahmat Allah dalam proses kehidupan.

Prolog — Melanjutkan Day 4

Pada pembelajaran sebelumnya tentang dua lautan yang bertemu, namun tidak saling melampaui batas.
Tentang kedewasaan menjaga diri meski berada dalam arus dunia.

Hari ini, Surah Ar-Rahman membawa kita menyelam lebih dalam.

Jika kemarin Allah menunjukkan batas,
hari ini Allah menunjukkan hasil dari proses yang tersembunyi.

Yakhruju minhuma al-lu’lu’u wal marjan.”
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
(QS. Ar-Rahman: 22)

Dari dua laut itu—laut asin dan laut tawar—Allah keluarkan mutiara dan marjan (karang merah). Permata indah yang tidak tumbuh di daratan, tidak pula di permukaan, tetapi di kedalaman yang sunyi.



30 Oktober 2025

Merangkul Luka: Perjalanan Pulang Menuju Cinta Ilahi

THE NEW ME | Inner Healing Series

Setiap kali kita mempelajari hal baru, sejatinya diri kita sedang dibentuk ulang.
Pemahaman yang mendalam akan mengubah cara kita melihat hidup, menafsirkan peristiwa, bahkan mencintai diri sendiri.
Dan saat kita menguasainya, kita tak lagi menjadi orang yang sama.

Begitu pula dengan proses inner healing — perjalanan pulang menuju hati yang utuh.
Bukan sekadar “menyembuhkan luka”, melainkan menapaki jalan lembut untuk memahami pesan Allah di balik setiap perih yang kita alami.

🌸 Luka: Gerbang Menuju Kesadaran

“Ketika hatimu terlalu berharap kepada seseorang,
maka Allah timpakan atasmu pedihnya sebuah pengharapan...”
Imam Asy Syafi’i

Kita semua pernah terluka.
Namun, orang yang paling tangguh bukanlah yang tak pernah menangis,
melainkan mereka yang mampu menari-nari dalam luka, seperti kata Rumi.

Mereka belajar menikmati kesedihan tanpa kehilangan harapan.
Mereka berlatih mendengarkan pesan yang tersembunyi di balik rasa sakit,
karena yakin—tidak ada yang Allah tetapkan kecuali dengan maksud yang penuh kasih.

Seringkali, yang membuat kita menderita bukanlah luka itu sendiri, melainkan ego yang menolak kenyataan.
Maka, ketika kita dibenturkan oleh keadaan, sebenarnya Allah sedang mengetuk kesadaran kita:
agar hati kembali lembut, dan jiwa kembali berpaut hanya kepada-Nya.

29 Juli 2025

Ketika Tubuh Berontak: Memahami Autoimun pada Perempuan dari Lensa Dr. Gabor Maté dan Pandangan Islam

"80% Penyakit Autoimun Terjadi pada Perempuan... Kenapa?"

Sebagai seorang Sifillah—perempuan yang sedang bertumbuh dan menata kehidupan dengan sadar—saya tercengang ketika mendengar sebuah paparan dari Dr. Gabor Maté dalam sebuah podcast. Paparan itu bukan hanya membuka pemahaman baru tentang penyakit autoimun, tetapi juga menampar kesadaran saya tentang bagaimana budaya, peran sosial, dan luka batin yang tak tersuarakan dapat menggerogoti tubuh perempuan secara perlahan.

Autoimun: Ketika Tubuh Menyerang Dirinya Sendiri

Dalam penjelasannya, Dr. Gabor Maté menyebut bahwa sekitar 80% penderita penyakit autoimun adalah perempuan. Ini bukan sekadar data statistik medis. Ini adalah suara tubuh yang selama ini tidak terdengar. Suatu alarm sistemik bahwa ada yang salah dalam pola hidup emosional dan sosial perempuan.

Autoimun adalah kondisi ketika sistem kekebalan tubuh, yang seharusnya melindungi dari infeksi dan penyakit, justru menyerang jaringan sehat tubuh sendiri. Gejalanya bisa berupa kelelahan kronis, nyeri sendi, ruam, gangguan pencernaan, hingga depresi. Namun yang menjadi pertanyaan besar adalah: mengapa mayoritas penderita adalah perempuan?

13 Juli 2025

Qur’an Diving - Rooted in Faith: Tumbuh Menjadi Muslimah Berakar Iman

Sabtu Pagi , ditengah suasana weekend bersama keluarga. Alhamdulillah menyempatkan hadir di sebuah ruang virtual zoom yang hangat, ratusan muslimah berkumpul untuk menyelami makna dari satu ayat yang sangat indah—QS Ibrahim: 24. Ustadzah Nusaibah Azzahra memulai sesi "Qur'an Diving" dengan tajuk: Rooted in Faith. Sebuah tema yang sederhana, namun dalam maknanya.

"Tidakkah engkau memperhatikan bagaimana Allah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik: akarnya menghujam kuat, dan cabangnya menjulang ke langit?" (QS Ibrahim: 24)

Akar yang Menghunjam: Keimanan Sejati

Di tengah arus informasi yang deras dan godaan zaman yang tak ada habisnya, banyak dari kita mulai goyah. Kadang bukan karena tidak percaya, tapi karena tidak paham. Kita tahu Islam itu benar, tapi belum sempat membangun pondasi yang dalam.

Makanya, ayat ini datang bukan hanya sebagai teori. Ia datang sebagai cermin. Sudahkah keimanan kita punya akar? Atau masih sekadar tempelan?

Ustadzah Nusaibah menyampaikan, para mufassir sepakat: kalimat thayyibah yang dimaksud dalam ayat ini adalah Laa ilaaha illallah. Kalimat yang seharusnya menancap kuat, menghidupi hati, dan menumbuhkan amal. Seperti pohon kurma yang seluruh bagiannya bermanfaat—begitulah seharusnya orang beriman.


Soal Ikhlas, Ternyata Aku Masih Amatir: Memahami Makna Ikhlas Menurut Islam dan Psikologi

Mengapa kita masih sedih meski ingin ikhlas? Pelajari makna ikhlas menurut Islam dan psikologi, serta cara melatih hati agar lebih lapang me...

Popular Posts