Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tazkiyatun Nafs. Tampilkan semua postingan

25 September 2026

AKU KAPAN YA? Seni Menata Keinginan agar Tidak Berubah Menjadi Rasa Kurang

Pernah merasa hidup baik-baik saja, lalu tiba-tiba merasa tertinggal setelah melihat kehidupan orang lain di media sosial? Rumah baru, liburan, pernikahan, bisnis yang berkembang, hingga perjalanan umrah orang lain bisa memunculkan satu pertanyaan sederhana: “Aku kapan ya?”

Dalam perspektif Inner Game, persoalannya bukan semata-mata tentang media sosial atau keinginan untuk memiliki sesuatu. Ada proses batin yang lebih dalam: melihat, membandingkan, merasa kurang, muncul keinginan, lalu merasa tertekan. Inilah yang dapat dipahami melalui konsep The Corruption of Desire—ketika keinginan yang seharusnya menjadi energi untuk bertumbuh perlahan berubah menjadi sumber ketidakcukupan.

Tulisan ini mengajak kita memahami social comparison, seni menata keinginan, hedonic adaptation, tazkiyatun nafs, dan Psychology of Enough sebagai bagian dari perjalanan membangun Inner Game: kemampuan menata ruang batin agar kita tetap mampu bertumbuh, tanpa kehilangan rasa syukur, ketenangan, dan penghargaan terhadap kehidupan yang telah Allah titipkan.

Memahami Social Comparison, The Corruption of Desire, dan Inner Game dalam Belajar Merasa Cukup

Road to Inner Game Life Coach Academy bersama Coach Sonny Abi Kim

“Ada yang beli rumah baru… aku kapan ya?”
“Ada yang liburan ke luar negeri… aku kapan ya?”
“Ada yang menikah… aku kapan ya?”
“Ada yang umrah… aku kapan ya?”
“Bisnisnya berkembang pesat… kok aku masih begini-begini saja?”

Pernahkah satu kalimat sederhana—“Aku kapan ya?”—tiba-tiba mengubah suasana hati?



08 Juni 2026

Lakukan Semampunya, Tinggalkan Sepenuhnya: Rahasia Tetap Istiqamah Saat Hidup Penuh Masalah

Mengapa kita sering gagal berubah meski sudah berniat baik? Temukan rahasia istiqamah melalui prinsip "Lakukan Semampunya, Tinggalkan Sepenuhnya". Sebuah refleksi tentang tawakal, takwa, perubahan diri, dan kebahagiaan yang bersumber dari kedekatan kepada Allah SWT.

Pernahkah kita berjanji pada diri sendiri untuk berubah?

Mulai rajin shalat berjamaah.
Mulai membaca Al-Qur'an setiap hari.
Mulai memperbaiki akhlak.
Mulai hidup lebih sehat.

Namun beberapa hari kemudian semangat itu menghilang. Kita kembali pada kebiasaan lama. Lalu muncul rasa kecewa dan menyalahkan diri sendiri.

Mengapa perubahan terasa begitu sulit?

Dalam sebuah kajian yang penuh makna, Kang Novie Setyabakti mengingatkan bahwa Allah tidak pernah meminta kita menjadi sempurna dalam sekejap. Yang Allah minta adalah bergerak menuju kebaikan sesuai kemampuan terbaik kita.

Melalui prinsip sederhana namun mendalam:

"Lakukan semampunya, tinggalkan sepenuhnya."

Kita diajak memahami bahwa kebahagiaan bukanlah hidup tanpa masalah, melainkan memiliki keyakinan bahwa Allah selalu membersamai setiap ikhtiar dan perjuangan hidup kita.


Lakukan Semampunya, Tinggalkan Sepenuhnya

Bahagia Bukan Berarti Hidup Tanpa Masalah

Banyak orang mengira bahwa bahagia adalah ketika semua masalah selesai.

Padahal kenyataannya tidak demikian.

Orang-orang yang benar-benar bahagia bukanlah mereka yang bebas dari kesedihan, kegagalan, atau ujian hidup.

Mereka tetap menghadapi masalah yang sama seperti manusia lainnya.

Bedanya, mereka memiliki Allah sebagai tempat bersandar.

Mereka yakin bahwa:

"Apa pun yang terjadi dalam hidupku, Allah sedang mengatur yang terbaik."

Karena itulah ketenangan tidak lahir dari keadaan yang sempurna, melainkan dari keyakinan yang sempurna kepada Allah.

Di sinilah makna tawakal yang sesungguhnya.

24 Februari 2026

Kenapa Doa Belum Dikabulkan? Ini Cara Allah Menjawabnya Tanpa Kita Sadari | Kajian Ruang Perempuan

The New Me - Platform refleksi spiritual perempuan berbasis pengalaman, ilmu, dan perjalanan iman. 

Doa terasa belum dikabulkan? Mungkin Allah sedang menjawabnya lewat proses. Refleksi lembut untuk belajar percaya dan berserah.

Doa, Takdir, dan Hati yang Masih Ingin Mengatur

Dalam sesi bersama Bunda Aniqq Al Faqiroh, muncul pertanyaan yang sering diam-diam hidup di hati kita:

“Kalau semua sudah ditetapkan Allah, lalu posisi doa itu di mana?”
“Apakah doa benar-benar bisa mengubah takdir?”

Pertanyaan ini bukan sekadar teologis.
Ini pertanyaan hati yang sedang gelisah.

Apakah Doa Bisa Mengubah Takdir?

Jawabannya: bisa — dengan izin Allah.

Para ulama menyampaikan bahwa doa termasuk bagian dari takdir itu sendiri. Bahkan ada ungkapan dari kalangan sufi bahwa:

Allah menciptakan doa lebih kuat daripada takdir.

Namun garis bawahnya jelas: semua tetap atas izin Allah.

Artinya apa?

Doa bukan melawan takdir.
Doa adalah bagian dari skenario takdir.

Kita berdoa — itu sudah ditulis.
Doa kita dikabulkan — itu juga sudah ditulis.
Ditunda, diganti, atau diarahkan — semuanya dalam ilmu-Nya.

Allah sudah berjanji dalam Al-Qur’an bahwa Dia tidak pernah mengingkari janji-Nya. Dan Dia juga berjanji:

“Mintalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan.”

Maka berhenti berdoa bukan solusi.
Justru doa adalah bentuk ketaatan pada janji Allah.

01 Februari 2026

Menata Jiwa Sebelum Perilaku | Inner Game, Tazkiyatun Nafs, dan Jalan Menuju “The New Me”

Artikel ini membahas bagaimana Al-Qur’an—melalui QS Asy-Syams 7–10—mengajarkan bahwa perubahan hidup sejati dimulai dari jiwa, bukan sekadar perilaku. Dengan pendekatan Inner Game dan konsep tazkiyatun nafs, pembaca diajak memahami hubungan antara pikiran, perasaan, amal, dan takdir hidup.
Sebuah refleksi mendalam bagi perempuan yang ingin bertumbuh secara sadar, menata batin, dan melangkah menuju versi diri yang lebih utuh (The New Me), tenang, dan selaras dengan kehendak Allah.

Cocok untuk pembaca yang mencari kajian perempuan, pengembangan diri islami, inner healing, dan pembelajaran batin yang membentuk perubahan nyata dari dalam.

Prolog — oleh Sifillah | Ruang Perempuan

Ada masa dalam hidup perempuan
di mana kita menyadari satu hal penting:
perubahan sejati tidak selalu dimulai dari luar.

Bukan dari jadwal yang lebih rapi,
bukan dari resolusi yang panjang,
bukan dari tuntutan untuk “harus lebih baik” setiap saat.

Melainkan dari ruang yang sering kita abaikan—
ruang batin.

Di sanalah pikiran bersemayam,
perasaan tumbuh,
dan keputusan hidup perlahan dibentuk.

Maka ketika kita belajar hal baru,
sejatinya yang sedang dibentuk bukan sekadar pengetahuan,
tetapi diri yang baru.

Inilah perjalanan The New Me—
perjalanan menata jiwa, sebelum menata dunia.

23 Januari 2026

Hidup Penuh Tapi Hati Kosong? | Inner Game, Spiritual Wellbeing, dan Jalan Menjadi Diri yang Utuh

Baca ini pelan-pelan. Karena mungkin… ini bukan tentang kurangnya aktivitas dalam hidupmu, tapi tentang ruang batin yang belum sempat kau dengarkan.

Prolog — Sebagai Sifillah

Sebagai seorang sifillah—hamba yang sedang belajar berjalan menuju Allah—aku pernah berada di satu fase hidup yang, jika dilihat dari luar, tampak baik-baik saja.

Hari-hariku penuh. Agenda terisi. Target demi target tercapai.

Aku aktif, produktif, dan terlihat “jalan”.

Namun entah sejak kapan, setiap kali malam datang dan keramaian mereda, ada satu rasa yang tak bisa kupungkiri: kosong.

Bukan kosong karena kurang syukur. Bukan pula karena aku tidak berusaha.

Aku tahu aku sudah berjuang. Aku tahu aku sudah memberi yang terbaik.

Namun di dalam, ada kegelisahan yang sulit diberi nama. Seolah ada bagian terdalam dari diriku yang belum benar-benar disentuh, belum diajak bicara, dan belum dirawat.

Di titik itulah aku mulai jujur pada diri sendiri. Bahwa hidup ternyata tidak cukup hanya diisi dengan melakukan banyak hal.

Ada satu pertanyaan yang pelan-pelan muncul di batinku:

“Bagaimana sebenarnya kondisi hatiku saat menjalani semua ini?”

Pertanyaan itu membawaku pada sebuah perjalanan batin—sebuah proses belajar yang tidak instan, tidak selalu nyaman, namun sangat jujur.

Aku berjumpa dengan satu tema yang perlahan mengubah caraku memandang hidup: Inner Game.

Melalui proses belajar di Kelas Inner Game – Life Coach Academy, yang dipandu langsung oleh Coach Sonny Abi Kim, aku mulai memahami bahwa kelelahan batin bukan tanda kegagalan. Ia sering kali hanyalah isyarat bahwa ada ruang dalam diri yang meminta perhatian.

Inner Game tidak mengajarkanku menjadi manusia tanpa masalah. Ia menuntunku menata ruang batin, mengenali luka tanpa menghakimi, dan kembali berakar kepada Allah—di tengah hidup yang tidak selalu ramah.

Sejak saat itu, aku belajar berjalan dengan cara yang berbeda. Tidak selalu lebih mudah, tetapi jauh lebih bermakna.

04 Desember 2025

Menguatkan Jiwa: Strategi Islami untuk Menata Emosi dan Bangkit dari Tekanan Hidup

Artikel ini membahas Inner Healing Sesi 11: Menguatkan Jiwa, panduan mendalam dari Coach Sonny Abi Kim tentang cara menghadapi luka batin, menemukan kekuatan jiwa, memahami takdir Allah, hingga praktik Letting Flow Therapy (SIRR). Tulisan ini berisi refleksi, analogi, doa, dan langkah praktis untuk mencapai ketenangan, keringanan hati, serta jiwa yang lebih besar dan ikhlas dalam menjalani hidup.

Menguatkan Jiwa: Menemukan Kejernihan Setelah Segala Luka

(oleh Sifillah – pembelajar Inner Game Life Coach Academy)*

Prolog: Rasa Syukur yang Menenangkan Jiwa

Di kelas Inner Healing, ada satu momen yang sulit dilupakan: saat Coach Sonny Abi Kim membuka sesi tentang Menguatkan Jiwa. Ada rasa syukur yang menetes lembut—bahwa Allah menghadirkan perjalanan ini bukan untuk menghakimi kita, tetapi untuk menguatkan hati yang selama ini mungkin pecah, lelah, atau terabaikan.

Duduk dalam lingkaran pembelajaran itu membuat saya sadar:
Bahwa setiap detik perjalanan menuju Allah adalah perjalanan kembali kepada diri sendiri—dalam bentuk yang lebih utuh, lebih ikhlas, dan lebih tenang.

Inilah sesi yang membuka pintu pemahaman baru:
Bahwa jiwa yang kuat tidak lahir dari hidup tanpa masalah, tetapi dari jiwa yang memilih untuk tetap lembut di tengah gelombang kehidupan.

Menguatkan Jiwa: Apa yang Sebenarnya Membuat Jiwa Menjadi Kuat?

Sesi ini dimulai dengan cerita sederhana.
Suatu hari, Coach Sonny berkunjung ke sebuah pesantren. Seorang kyai berkata:

“Kita harus punya cita-cita menjadi orang besar.”

Kalimat itu terasa ringan, tetapi juga membuat tercekat.
Apa arti menjadi orang besar?
Apakah ia berarti dihormati manusia? Populer? Disukai banyak orang?

Ternyata tidak.

Menurut sang kyai, “orang besar” adalah orang yang hidupnya lapang, jiwanya stabil, tidak mudah sedih berlarut, tidak tenggelam dalam kekhawatiran. Seorang yang berjiwa besar.

Makna ini kemudian diperdalam oleh firman Allah:

“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali (kekasih) Allah itu
tidak ada rasa takut pada mereka, dan tidak pula mereka bersedih hati.”

(QS. Yunus: 62)

Orang besar bukanlah yang tampak hebat di mata manusia.
Orang besar adalah yang hebat di mata Allah.

01 Desember 2025

Merawat Niat, Merapikan Hidup: Cara Islami untuk Menata Hidup dari Dalam

Merawat Niat, Merapikan Hidup: Makna Lembut dari Kajian Meaningful Ways

Refleksi dan penulisan oleh Sifillah | The New Me

Pelajari bagaimana merawat niat dan merapikan hidup melalui pendekatan Islami dan inner game. Artikel ini merangkum Kajian Meaningful Ways bersama Kang Novie Setiabakti dengan langkah-langkah praktis, insight Qur’an, dan latihan harian untuk hidup lebih tenang dan tertuntun.

Ketika Hidup Terasa Penuh, Tapi Hati Terasa Kosong

Sebagai seorang pembelajar, aku sering merasa hidup dipenuhi aktivitas—namun tidak selalu terasa utuh. Dari sinilah aku memahami bahwa sering kali yang berantakan bukanlah jadwal kita, melainkan niat yang tidak jernih.

Kajian Meaningful Ways bersama Kang Novie membuka pintu baru:
Bahwa merawat niat adalah langkah pertama untuk merapikan hidup.

Ini bukan sekadar konsep spiritual, tapi juga inner game—permainan batin yang menentukan arah, energi, dan kualitas hidup kita setiap hari.

Apa Itu Merawat Niat? 

Merawat niat adalah proses membersihkan motivasi, menyadari tujuan, dan menata ulang arah batin agar selaras dengan Allah.
Niat yang jernih membuat hidup terasa:

  • lebih ringan

  • lebih tertuntun

  • lebih teratur

  • lebih bermakna

Sebaliknya, niat yang keruh membuat aktivitas terasa melelahkan meski tampak produktif.

Melepas Beban Gelisah: Cara Menata Hati agar Hidup Lebih Lapang | Inspirasi Subuh bersama Sonny Abi Kim & Aa Zaen El Muttaqin

Bagaimana cara melepas beban gelisah? Pelajari 5 hal yang perlu dilepaskan: people pleasing, ketakutan, ekspektasi, pola hubungan, dan denda...

Popular Posts