25 Februari 2026

Tafsir dan Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 24–25: Kapal Besar sebagai Tanda Kebesaran Allah | 31 Days Challenge Ar-Rahman

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 24–25 tentang kapal laksana gunung, tanda kebesaran Allah, dan makna hidup yang bergerak dalam nikmat-Nya.

Prolog – Dari Kedalaman Mutiara ke Luasnya Samudra

Pada pembelajaran sebelumnya tentang refleksi Surah Ar-Rahman ayat 22–23, kita menyelami makna mutiara dan marjan—simbol luka yang dilapisi hingga menjadi permata.

Hari ini, dalam refleksi Surah Ar-Rahman ayat 24–25, Allah mengangkat pandangan kita dari dasar laut… ke permukaannya.

Jika kemarin kita belajar tentang sesuatu yang tersembunyi di kedalaman,
hari ini kita diajak melihat sesuatu yang besar, megah, dan menggetarkan hati.

Allah berfirman dalam Qur'an:

“Dan kepunyaan-Nyalah kapal-kapal yang berlayar di lautan, laksana gunung-gunung.
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
(QS. Ar-Rahman: 24–25)

Ayat ini bukan hanya tentang kapal.
Ia tentang kebesaran Allah.
Tentang kreativitas manusia yang bersumber dari-Nya.
Tentang bergerak, berkarya, dan hidup—di atas nikmat Allah.



Makna Surah Ar-Rahman Ayat 24–25: Kapal Laksana Gunung

Bayangkan kapal besar di tengah samudra.

Dari kejauhan ia tampak seperti gunung yang bergerak.
Kokoh. Megah. Mengagumkan.

Namun ketika ombak meninggi, kapal sebesar apa pun tetap tampak kecil—seperti sabut yang terapung.

Di sinilah letak tadabbur mendalam dari Surah Ar-Rahman ayat 24:

Sebesar apa pun pencapaian manusia, tetap berada dalam kepemilikan Allah.

“Kepunyaan-Nyalah kapal-kapal itu.”

Bukan milik insinyur.
Bukan milik perusahaan.
Bukan milik negara.
Tetapi milik-Nya.

Kapal berlayar karena hukum air yang Allah tetapkan.
Ia mengapung karena keseimbangan yang Allah ciptakan.
Ia bergerak karena energi yang Allah izinkan.

Tanpa hukum Allah, kapal takkan melaju.
Tanpa izin Allah, ombak bisa menelannya.

Hikmah Kreativitas dan Kebesaran Allah

Dalam refleksi Surah Ar-Rahman ayat 24–25 ini, kita melihat dua sisi sekaligus:

1️⃣ Kreativitas Manusia adalah Titipan

Dari kapal layar yang mengandalkan angin,
hingga kapal modern dengan mesin dan teknologi canggih—
semuanya lahir dari akal.

Dan akal itu… adalah anugerah Allah.

Allah tidak melarang manusia berkarya.
Justru Allah memuliakan manusia dengan kemampuan mencipta, membangun, dan mengembangkan peradaban.

Namun ayat ini mengingatkan:
Sumber kreativitas itu tetap dari Allah.

2️⃣ Kita Sedang Berlayar di Atas Nikmat Allah

Kadang kita merasa hidup berjalan karena usaha kita.

Padahal kita sedang berlayar di atas hukum Allah.

Kita bernapas karena sistem paru-paru yang Allah rancang.
Kita berpikir karena jaringan saraf yang Allah hidupkan.
Kita bergerak karena energi yang Allah alirkan.

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 24–25 mengajak kita menyadari:

Kita ini seperti kapal.
Bergerak bukan karena hebat.
Tapi karena Allah mengizinkan.

Rasa Takjub yang Mengembalikan pada Tauhid

Ada momen ketika saya berdiri memandang kapal besar di pelabuhan.

Saya pernah terdiam ketika melihat:

Ada rasa kecil.
Ada rasa takjub.
Ada rasa hening.

Dan di dalam keheningan itu, hati selalu berbisik:

“Semua ini milik Allah.”

Kapal bisa berlayar karena kebesaran Allah.
Gunung berdiri karena kebesaran Allah.
Gedung menjulang karena akal yang Allah anugerahkan.

Lalu Allah kembali bertanya:

“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

Cara Memandang Diri Sendiri dalam Refleksi Ini

Tadabbur Surah Ar-Rahman ayat 24–25 bukan hanya tentang laut dan kapal.

Ia juga tentang kita.

Apakah selama ini kita terlalu takjub pada diri sendiri?
Atau terlalu kecil hingga merasa tidak berharga?

Ayat ini menata keseimbangan:

  • Kita boleh berkarya.
  • Kita boleh bergerak.
  • Kita boleh membangun.

Namun jangan lupa sumbernya.

Semua kekuatan berasal dari Allah.
Semua keberanian berasal dari Allah.
Semua kesempatan adalah titipan Allah.

Healing dalam ayat ini adalah kesadaran bahwa:

Aku tidak harus mengendalikan segalanya.
Aku hanya perlu berlayar.
Dan percaya bahwa lautan ini milik Allah.

Hikmah Reflektif Surah Ar-Rahman Ayat 24–25

1️⃣ Kebesaran manusia tetap bergantung pada kebesaran Allah
2️⃣ Kreativitas adalah amanah, bukan alasan untuk sombong
3️⃣ Rasa takjub adalah pintu menuju tauhid
4️⃣ Kita hidup dalam sistem saling membutuhkan

Kapal menghubungkan benua.
Manusia saling melengkapi.
Tidak ada yang cukup sendirian.

Refleksi untuk Hati Hari Ini

Di mana aku masih merasa paling hebat?
Di mana aku masih lupa bahwa semua ini titipan?

Apakah rasa takjubku sudah berubah menjadi syukur?
Atau berhenti pada kekaguman dunia?

📝 Refleksi Hari Ini

  1. Di bagian mana aku masih lalai?
    Aku sering takjub pada hasil, tapi lupa pada Pemilik hukum alam.

  2. Di bagian mana aku masih mengeluh?
    Aku mengeluh atas hidupku, padahal Allah mengatur sistem semesta dengan begitu presisi.

  3. Apa kesan yang kurasakan setelah menyelam ke Surah Ar-Rahman hari ini?
    Ada rasa kecil. Tapi sekaligus aman. Karena semuanya berada dalam genggaman-Nya.

  • Insight:
Kebesaran ciptaan bukan untuk membuat kita sombong, tetapi untuk membuat kita tunduk.

  • Komitmen:
Aku ingin melatih diri untuk mengubah rasa takjub menjadi sujud, bukan sekadar kagum.

Penutup : Saat Takjub Membawa Hati Kembali pada Allah

Hari ini, aku belajar satu hal sederhana namun dalam:
besar atau kecil, kuat atau lemah, semua bergerak karena izin-Nya.
Kapal besar di lautan, gunung yang menjulang, bahkan napasku sendiri…
semuanya titipan, semuanya rahmat, semuanya milik Allah.

Saat rasa takjub ini hadir, jangan biarkan hanya berlalu begitu saja.
Biarkan ia menembus hati, menundukkan ego, menumbuhkan syukur, dan menata kembali cara kita memandang hidup.

Jika hari ini kamu merasakan hal yang sama—
rasa kecil di hadapan kebesaran-Nya, namun sekaligus aman dalam genggaman-Nya—
simpan tulisan ini. Tandai. Bagikan ke teman yang juga butuh diingatkan:
bahwa hidup bukan tentang seberapa kuat kita,
tapi seberapa sadar kita berada di bawah kasih sayang Ar-Rahman.

Simpan, bagikan, dan biarkan hati kita saling mengingatkan…
Maka setiap kali melihat kapal, gunung, atau apa pun yang menakjubkan,
kita akan kembali berkata: “Subhanallah.”

🌿 Jangan lupa, perjalanan tadabbur ini masih panjang.
Ayo lanjutkan bersama di The New Me
dan biarkan setiap ayat menuntun kita pulang ke hati yang tenang. 🤍

Jika refleksi ini membuatmu ingin belajar lebih dalam, bukan sekadar membaca tapi benar-benar dituntun memahami Al-Qur’an, aku mau kasi info ruang belajar lebih intens melalui program Exclusive Mentoring Powerful Qur’an (EMPQ).📚 Exclusive Mentoring Powerful Qur’an (EMPQ) Level 1


Jika kamu ingin berjalan bersama,
bukan sekadar ikut challenge, tapi benar-benar membangun habit baik bersama Al-Qur’an di bulan Ramadhan…

📲 Join Saluran Ruang Perempuan

Mari bertumbuh bersama.

Mungkin yang berubah bukan hidup kita seketika.
Tapi cara kita memaknainya.
Dan itu… sudah lebih dari cukup 🤍

Doa

Ya Allah,

Jika Engkau memperlihatkan kepadaku kebesaran dunia,
jangan biarkan aku berhenti pada kekaguman.

Arahkan hatiku kepada-Mu.

Ajari aku melihat kapal besar sebagai tanda kebesaran-Mu.
Melihat gunung tinggi sebagai tanda kekuasaan-Mu.
Melihat pencapaian hidup sebagai amanah dari-Mu.

Jadikan rasa takjubku jalan menuju syukur.
Dan syukurku jalan menuju kedekatan dengan-Mu.

Aamiin 🤍🌿

Artikel ini membahas makna dan tafsir Surah Ar-Rahman ayat 1–5 serta hikmah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Day 1 → Saat Allah Menyapaku dengan Kasih
Day 2 → Dari tanah, menjadi Manusi yang dimuliakan
Day 3 → Tuhan Dua Timur, Dua Barat 
Day 4 → Dua Lautan yang Bertemu
Day 5 → Mutiara dan Marjan dalm Surah Ar Rahman

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Tafsir dan Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 24–25: Kapal Besar sebagai Tanda Kebesaran Allah | 31 Days Challenge Ar-Rahman

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 24–25 tentang kapal laksana gunung, tanda kebesaran Allah , dan makna hidup yang bergerak dalam nikmat-Nya. P...

Popular Posts