Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 14–16 tentang asal-usul penciptaan manusia dari tanah, penciptaan jin dari api, dan pelajaran kerendahan hati bagi perempuan yang sedang belajar menata diri di bulan Ramadhan.
Prolog: Setelah Disapa dengan Kasih, Kini Aku Diingatkan tentang Asalku
Kemarin, pada ayat 1–13, aku disapa dengan lembut.
Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Ar-Rahman.
Bukan dengan teguran.
Bukan dengan ancaman.
Aku diingatkan bahwa aku hidup di bawah kasih sayang-Nya.
Hari ini, ayat 14–16 seperti melanjutkan percakapan itu.
Jika kemarin aku diingatkan tentang kasih,
hari ini aku diingatkan tentang asal.
Tentang dari mana aku datang.
Dan jujur… bagian ini lebih menundukkan.
“Dia Menciptakan Manusia dari Tanah Liat seperti Tembikar”
Tanah.
Bukan sesuatu yang berkilau.
Bukan sesuatu yang dibanggakan.
Bukan sesuatu yang mahal.
Tanah itu dipijak.
Kadang kotor.
Kadang dianggap rendah.
Dan dari situlah aku berasal.
Sebagai perempuan, aku sering ingin terlihat kuat.
Ingin dihargai.
Ingin diakui.
Ingin dianggap lebih.
Tapi ayat ini menarikku pelan:
“Kamu ini dari tanah.”
Semua pencapaian yang aku banggakan.
Semua peran yang membuatku merasa penting.
Semua hal yang membuatku ingin diakui.
Pada akhirnya, aku tetap berasal dari tanah liat.
Dan tanah liat itu diproses.
Disaring.
Dibentuk.
Dikeringkan seperti tembikar.
Tidak instan.
Tidak asal jadi.
Di situ aku sadar —
penciptaanku bukan kebetulan.
Aku dibentuk dengan detail.
Dengan proses yang indah.
Dengan rahman-Nya.
Jin dari Api, Manusia dari Tanah
Allah juga menyebut bahwa jin diciptakan dari api yang sangat menyala.
Api itu cepat.
Panas.
Tak terlihat wujudnya ketika padam.
Sedangkan tanah… padat.
Stabil.
Terlihat.
Aku merenung.
Mungkin karena itu manusia diberi tubuh yang bisa lelah.
Bisa sakit.
Bisa rapuh.
Dan justru di situlah letak pelajarannya.
Sebagai perempuan, sering kali aku mengeluh karena lelah.
Karena peran terasa berat.
Karena tubuh terasa tidak sekuat yang kuinginkan.
Padahal aku memang diciptakan dari tanah.
Tanah itu tidak menyala seperti api.
Tapi tanah itu kokoh.
Maka Nikmat Tuhanmu yang Manakah yang Kamu Dustakan?
Ayat ini kembali diulang.
Dan kali ini terasa lebih dalam.
Nikmat mana yang aku dustakan?
Tubuh yang terbentuk sempurna dari proses panjang?
Rahim yang mampu mengandung?
Hati yang mampu merasa?
Akal yang mampu berpikir?
Atau justru aku mendustakan nikmat itu dengan cara yang halus?
Dengan membandingkan diriku dengan orang lain.
Dengan meremehkan tubuhku sendiri.
Dengan merasa tidak cukup.
Aku sering berkata ingin lebih percaya diri.
Tapi diam-diam aku tidak menghargai bagaimana Allah menciptakanku.
Bukankah itu bentuk kelalaian?
Mempelajari Hal Baru, Membentuk Diri yang Baru
Di The New Me, aku selalu percaya:
“Mempelajari hal baru sejatinya membentuk diri yang baru. Saat kita menguasainya, kita tak lagi menjadi orang yang sama.”
Hari ini aku merasa ayat ini sedang membentuk ulang caraku melihat diri sendiri.
Aku bukan sekadar perempuan dengan daftar tanggung jawab.
Aku adalah makhluk yang diciptakan dari tanah,
melalui proses yang sangat detail,
dengan kasih sayang yang sangat besar.
Dan mungkin selama ini,
yang membuatku gelisah bukan hidupku yang kurang baik.
Tapi aku yang lupa dari mana aku berasal.
Lupa untuk rendah hati.
Lupa untuk bersyukur.
Lupa bahwa keberadaanku saja sudah nikmat.
Ramadhan Planner
Jika ingin ibadahmu lebih terarah dan tercatat rapi, gunakan Ramadhan Planner sebagai pendamping harian.
π Refleksi Hari Ini
(Surah Ar-Rahman 14–16)
1. Di bagian mana aku masih lalai?
Aku lalai mengingat asal-usulku. Aku terlalu sibuk ingin terlihat tinggi, sampai lupa bahwa aku berasal dari tanah.
2. Di bagian mana aku masih mengeluh?
Aku mengeluh tentang tubuh, tentang lelahnya peran, tentang hidup yang terasa berat — seolah-olah penciptaanku bukan bagian dari rahman-Nya.
3. Apa kesan yang kurasakan hari ini?
Aku merasa ditundukkan.
Tapi bukan direndahkan.
Aku diingatkan untuk kembali sederhana.
- Insight:
- Komitmen:
Lebih menerima diriku.
Dan berhenti membandingkan proses hidupku dengan orang lain.
Ini baru ayat 14–16.
Dan aku sudah merasa sedang dibentuk ulang.
Pelan-pelan saja.
Karena perubahan hati tidak terjadi dalam satu malam.
Ia tumbuh dari kesadaran kecil… yang diulang setiap hari π€πΏ
Jika kamu ingin berjalan bersama,
bukan sekadar ikut challenge,
tapi benar-benar membangun habit baik bersama Al-Qur’an di bulan Ramadhan…
πΏ 31 Days Challenge Ar-Rahman
π² Link Join Saluran Ruang Perempuan
https://s.id/RuangPerempuan
Mari bertumbuh bersama.
Mungkin yang berubah bukan hidup kita seketika.
Tapi cara kita memaknainya.
Dan itu… sudah lebih dari cukup π€







Tidak ada komentar:
Posting Komentar