Hidup bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tetapi seberapa tepat ritme yang kita jalani. Dalam kajian Meaningful Ways, Novie Setiabakti mengajak kita melakukan reset kehidupan melalui momentum Ramadan: menata ulang waktu, memperbaiki tujuan, dan membangun kebiasaan baru yang lebih sadar, terarah, serta bernilai ibadah.
Artikel ini merangkum poin-poin penting kajian tersebut, dilengkapi dengan insight reflektif dan ajakan kebaikan untuk menghidupkan makna waktu dalam kehidupan kita.
Prolog: Ketika Hidup Terasa Sibuk, Tapi Kosong
Pernah merasa sangat sibuk, tapi tidak benar-benar tenang?
Agenda penuh. Kalender padat. Notifikasi tak henti berbunyi.
Namun di ujung hari, hati terasa lelah tanpa makna.
Kita berlari cepat, tetapi lupa mengatur ritme.
Padahal, tanpa ritme yang tepat, energi habis untuk hal-hal yang tidak perlu.
Ramadan datang bukan sekadar sebagai bulan ibadah, tetapi sebagai undangan lembut dari Allah untuk mereset hidup kita.
1️⃣ Dua Sumber Daya: Rezeki Berbeda, Waktu Sama
Dalam kajian ini, Novie mengingatkan bahwa Allah memberi kita dua sumber daya utama:
1. Rezeki → Takaran Berbeda
Setiap orang punya porsi masing-masing.
Tidak perlu kepo dengan rezeki orang lain.
Semakin kita membandingkan, semakin hilang rasa syukur.
2. Waktu → 24 Jam untuk Semua
Ramadan atau tidak, waktunya tetap 24 jam.
Yang membedakan adalah bagaimana kita mengisinya.
Pertanyaannya sederhana namun dalam:
“Dua puluh empat jam yang Allah beri, kita gunakan untuk apa?”
Coba cek screen time harian.
Berapa jam dihabiskan untuk gawai?
Berapa jam untuk kebaikan?
Karena waktu selalu punya dua kemungkinan: