02 Februari 2026

Sibuk Menerangi Orang Lain, Sampai Lupa Cahaya Diri Sendiri

Merasa lelah, kehilangan semangat, atau produktif tapi hampa?
Bisa jadi bukan karena kurang usaha, melainkan karena spirit hidup mulai meredup.

Artikel ini merangkum pembelajaran penting dari Kajian Senin Pagi Meaningful Ways bersama Ustadz M. Zulfikarullah tentang bagaimana menata niat, menghidupkan spirit, dan membangun harapan yang aktif melalui kesadaran, makna, dan tindakan.

Cocok untuk kamu yang sedang mencari cara recharge jiwa, menemukan kembali arah hidup, dan bertumbuh menjadi versi diri yang lebih utuh dan bermakna.

Ketika Spirit Hidup Perlahan Meredup

“Ada masa ketika kita begitu rajin menjadi cahaya untuk banyak orang,
namun lupa mengecek:
apakah cahaya dalam diri kita sendiri masih menyala?”

Pagi itu, Senin yang terasa berbeda.
Dalam kajian Meaningful Ways bersama Ustadz M. Zulfikarullah, kalimat-kalimatnya tidak sekadar masuk telinga—ia jatuh pelan ke hati.

Dan entah mengapa, saya (Sifillah) merasa sedang diajak bercermin.

Saya pernah berada di fase itu.
Fase sibuk menguatkan orang lain.
Menjadi tempat pulang emosi banyak jiwa.
Menjadi “yang kuat”, “yang paham”, “yang bisa diandalkan”.

Namun diam-diam…
cahaya diri sendiri mulai meredup.
Bukan karena lemah.
Tapi karena lupa recharge.

Jika kamu pernah merasa:

  • Mudah lelah tanpa sebab jelas

  • Semangat ibadah naik-turun

  • Berbuat banyak tapi hampa

  • Produktif tapi kehilangan makna

Mungkin bukan karena kamu kurang usaha.
Tapi karena spirit-mu sedang padam perlahan.

01 Februari 2026

Menata Jiwa Sebelum Perilaku | Inner Game, Tazkiyatun Nafs, dan Jalan Menuju “The New Me”

Artikel ini membahas bagaimana Al-Qur’an—melalui QS Asy-Syams 7–10—mengajarkan bahwa perubahan hidup sejati dimulai dari jiwa, bukan sekadar perilaku. Dengan pendekatan Inner Game dan konsep tazkiyatun nafs, pembaca diajak memahami hubungan antara pikiran, perasaan, amal, dan takdir hidup.
Sebuah refleksi mendalam bagi perempuan yang ingin bertumbuh secara sadar, menata batin, dan melangkah menuju versi diri yang lebih utuh (The New Me), tenang, dan selaras dengan kehendak Allah.

Cocok untuk pembaca yang mencari kajian perempuan, pengembangan diri islami, inner healing, dan pembelajaran batin yang membentuk perubahan nyata dari dalam.

Prolog — oleh Sifillah | Ruang Perempuan

Ada masa dalam hidup perempuan
di mana kita menyadari satu hal penting:
perubahan sejati tidak selalu dimulai dari luar.

Bukan dari jadwal yang lebih rapi,
bukan dari resolusi yang panjang,
bukan dari tuntutan untuk “harus lebih baik” setiap saat.

Melainkan dari ruang yang sering kita abaikan—
ruang batin.

Di sanalah pikiran bersemayam,
perasaan tumbuh,
dan keputusan hidup perlahan dibentuk.

Maka ketika kita belajar hal baru,
sejatinya yang sedang dibentuk bukan sekadar pengetahuan,
tetapi diri yang baru.

Inilah perjalanan The New Me
perjalanan menata jiwa, sebelum menata dunia.

29 Januari 2026

Penguin yang Berjalan Sendiri: Fenomena Viral, Inner Game, dan Perjalanan Membentuk Diri yang Baru

Inner Game

Penguin viral, penguin berjalan sendiri, fenomena penguin, burnout mental, kehilangan arah hidup, inner game, refleksi hidup, perjalanan menemukan diri, self healing, makna hidup, Encounters at the End of the World, Werner Herzog, artikel motivasi, kesadaran diri

Prolog — Catatan Sifillah

Beberapa waktu lalu, aku berhenti cukup lama saat melihat sebuah video viral.
Bukan karena visualnya yang spektakuler, tapi karena ada sesuatu yang diam-diam mengetuk batin.

Seekor penguin berjalan sendirian.
Menjauh dari kelompoknya.
Menjauh dari arah yang “seharusnya”.

Aku tertarik bukan karena ia berbeda,
tetapi karena aku merasa pernah berada di posisi itu.

Sejatinya, mempelajari hal baru—sekecil apa pun—selalu membentuk pribadi yang baru. Dan semakin aku belajar, semakin aku menyadari: ada fenomena-fenomena sederhana yang sesungguhnya menyimpan pelajaran hidup yang dalam, jika kita mau berhenti dan mendengarkannya.

Itulah alasan tulisan ini lahir.
Bukan untuk membahas penguinnya semata,
tetapi untuk merekam perjalanan batin manusia yang sering kali luput kita sadari.


Fenomena Penguin yang Berjalan Sendiri

Video yang viral ini terinspirasi dari adegan nyata dalam dokumenter Encounters at the End of the World (2007) karya Werner Herzog. Dalam satu cuplikan, seekor penguin Adélie terlihat meninggalkan koloninya dan berjalan menuju pedalaman es Antarktika—menjauh dari laut yang menjadi sumber kehidupannya.

Ratusan penguin bergerak ke laut.
Satu memilih arah sebaliknya.

Adegan ini bukan rekayasa.
Namun visual yang beredar di media sosial belakangan banyak merupakan rekonstruksi AI, bukan dokumentasi asli.



Penjelasan Ilmiah: Antara Fakta dan Tafsir

Secara biologis, perilaku ini sangat berbahaya. Para ilmuwan menjelaskan bahwa penguin yang berjalan menjauh dari laut kemungkinan mengalami disorientasi, sakit, atau gangguan navigasi. Werner Herzog sendiri menyebutnya sebagai death march—langkah yang hampir pasti tidak membawa pada kelangsungan hidup.

Namun, manusia membaca adegan ini dengan cara yang berbeda.

Bukan sebagai kesalahan navigasi,
melainkan sebagai simbol kelelahan.
Simbol burnout.
Simbol keinginan untuk keluar dari sistem yang terasa menyesakkan.

Mengapa Banyak Orang Merasa “Relate”?


Di tengah kehidupan modern yang cepat dan penuh tuntutan, banyak orang sedang berada pada fase:

  • lelah tapi tidak tahu harus berhenti di mana,

  • berjalan mengikuti ritme hidup tanpa benar-benar hidup,

  • kehilangan makna dalam rutinitas yang tampak baik-baik saja.

Penguin itu menjadi cermin diam bagi manusia yang sedang kehilangan arah hidup.

Bukan karena ingin menyerah,
tetapi karena terlalu lama bertahan tanpa jeda batin.


Manusia dan Kecenderungan Memberi Makna

Penguin itu mungkin hanya tersesat.
Namun manusia melihat dirinya di sana.

Kita memproyeksikan luka, kelelahan, dan pencarian makna ke dalam satu adegan sunyi. Karena sejatinya, manusia bertahan hidup lewat makna.

Makna membuat kita tidak merasa sendirian.
Makna membuat kita merasa dipahami.

Inner Game: Masalahnya Bukan Berjalan, Tapi Kehilangan Kompas Batin


Dalam perspektif Inner Game, inti persoalan penguin itu bukan pada arah langkahnya, melainkan pada hilangnya orientasi di dalam diri.

Ia tidak sedang memberontak.
Ia tidak sedang mencari kebebasan.
Ia kehilangan koneksi dengan sistem penuntun alaminya.

Dan di titik inilah manusia sering terjebak.

Kita tetap berjalan:

  • tetap produktif,

  • tetap terlihat kuat,

  • tetap menjalankan peran,

namun inner compass kita mati rasa.

Inner Game mengajarkan satu kebenaran sederhana:

Hidup tidak runtuh karena kita lemah,
tetapi karena kita terlalu lama tidak mendengarkan suara diri sendiri.

Ketika Berhenti Tidak Diizinkan, Tubuh yang Akan Menghentikan

Banyak orang tidak pernah benar-benar berhenti.
Mereka hanya terus berjalan—meski sudah lelah.

Dalam Inner Game, ini disebut unconscious pattern: bergerak karena kebiasaan, bukan karena kesadaran.

Penguin itu berjalan ke pegunungan karena tubuhnya kehilangan orientasi.
Manusia sering melakukan hal serupa—
bekerja, melayani, bertahan—tanpa hadir sepenuhnya pada dirinya sendiri.



Insight Inner Game: Jalan Sunyi Bisa Menyembuhkan, Jika Disadari


Tidak semua jalan sunyi adalah jalan yang salah.
Namun tidak semua jalan sunyi adalah jalan yang menyelamatkan.

Berhenti karena sadar = pemulihan.
Berhenti karena putus asa = kehancuran.

Inner Game tidak mengajarkan kita untuk selalu kuat,
tetapi untuk hadir sepenuhnya.

Hadir pada rasa lelah.
Hadir pada batas diri.
Hadir pada nilai hidup yang selama ini terabaikan.


Pertanyaan Inner Game untuk Menemukan Arah Kembali

Bukan:

“Kenapa aku lelah?”

Tetapi:

  • Sejak kapan aku tidak jujur pada diriku sendiri?

  • Bagian mana dari hidupku yang kupaksa tetap berjalan?

  • Apakah aku sedang menepi untuk pulih, atau berjalan menjauh karena ingin menghilang?

Inner Game dimulai dari keberanian menghadapi pertanyaan-pertanyaan sunyi ini.

Manusia Tidak Sama dengan Penguin: Kita Diberi Kesadaran


Inilah perbedaan terbesarnya.

Penguin itu berjalan menuju kehancuran karena kehilangan orientasi.
Manusia diberi anugerah besar: kesadaran reflektif.

Kita bisa:

  • berhenti tanpa merasa gagal,

  • mengubah arah tanpa merasa bersalah,

  • memilih ulang hidup yang lebih selaras dengan nilai batin.

Inner Game bukan tentang melawan dunia luar,
tetapi tentang berdamai dengan dunia dalam.

Penutup: Membentuk Diri yang Baru


Mempelajari hal baru sering kali tidak mengubah hidup secara instan.
Namun ia mengubah cara kita memandang diri sendiri.

Fenomena penguin ini mungkin sederhana,
tetapi ia mengingatkan kita bahwa hidup tidak selalu tentang terus bergerak.

Kadang, ia tentang berani berhenti dengan sadar,
mendengar kembali suara batin,
dan melangkah lagi—dengan arah yang lebih jujur.

Jika hari ini kamu merasa seperti penguin yang berjalan sendiri,
mungkin kamu tidak salah arah.

Mungkin kamu sedang berada di fase
di mana diri lama perlahan dilepas,
dan pribadi yang baru sedang dibentuk.

Dan di sanalah,
Inner Game sejati dimulai.

🌱 Kelas Inner Game – Life Coach Academy


Sebuah ruang belajar untuk:

  • Menata batin dengan kesadaran

  • Menguatkan spiritual wellbeing

  • Bertumbuh melalui ujian hidup

  • Menjadi pribadi yang utuh, jernih, dan berakar

📌 Informasi lengkap kelas dapat diakses melalui kanal resmi Life Coach Academy.




Semoga tulisan ini menjadi pengingat lembut: Bahwa lelah bukan selalu tanda lemah. Kadang, ia hanyalah undangan untuk pulang ke dalam diri.

— THE NEW ME

28 Januari 2026

Akar yang Tak Terlihat: Analogi Pohon Bambu dan Pembelajaran Inner Game di Ruang Perempuan

Merasa hidup melelahkan meski tampak baik-baik saja? Pelajari Inner Game perempuan lewat analogi pohon bambu untuk menemukan ketenangan batin sejati.

Prolog — Catatan Sifillah yang Sedang Belajar Menang di Dalam

Sebagai seorang Sifillah—hamba Allah yang sedang belajar berjalan pelan menuju-Nya—aku telah melalui banyak fase hidup yang tidak sederhana.

Ada masa ketika hidup terasa penuh guncangan. Dunia luar riuh dengan tuntutan, ekspektasi, dan penilaian. Peran demi peran harus tetap dijalani. Tanggung jawab tidak bisa ditinggalkan.

Aku tampak baik-baik saja. Tetap produktif. Tetap bergerak. Tetap berkontribusi.

Namun di balik semua itu, ada ruang batin yang perlahan menegang. Ada kelelahan yang tidak kasatmata. Ada hati yang terasa penuh, tapi tidak lapang.

Di titik itulah aku menyadari satu hal penting: bukan hidup yang membuatku lelah, melainkan kondisi batinku sendiri.

Perjalananku mempelajari Inner Game bukanlah perjalanan tanpa rintangan. Ia justru dimulai ketika aku memilih berhenti sejenak dari hiruk-pikuk luar, dan dengan jujur menengok ke dalam diri.

Aku belajar bahwa kemenangan sejati bukan selalu tentang menguasai keadaan, melainkan tentang menata ruang batin agar tetap tenang di tengah guncangan.

Dan di antara banyak pelajaran Inner Game, analogi pohon bambu menjadi salah satu hikmah yang paling membekas di hatiku.


Pohon Bambu: Pelajaran Sunyi tentang Kekuatan yang Tidak Terlihat

Pohon Bambu & Inner Game

Pohon bambu mengajarkan sesuatu yang sering dilupakan manusia modern.

Selama tiga tahun pertama, bambu hampir tidak menunjukkan pertumbuhan ke atas. Ia tampak biasa saja. Pendek. Diam. Tidak mencolok.

Namun di bawah tanah, akar bambu sedang bekerja dengan sangat serius. Ia menancap dan menyebar hingga 5–10 meter ke dalam bumi. Mencari air. Menguatkan cengkeramannya. Membangun sistem penopang kehidupan.

Ketika tiba waktunya— memasuki tahun keempat— bambu mampu tumbuh hingga belasan bahkan puluhan meter dalam waktu singkat. Dan bambu dengan akar yang kuat, nyaris tak mampu dirobohkan oleh angin.

Di sanalah aku memahami satu kebenaran mendasar:

Inner Game adalah akar kehidupan manusia.

Ia tidak selalu terlihat. Ia tidak selalu cepat menunjukkan hasil. Namun tanpanya, pertumbuhan apa pun akan rapuh.

24 Januari 2026

Menyimak Cahaya Intuisi Perempuan: Firasat, Healing Spiritual, dan Perjalanan Pulang

Artikel ini membahas intuisi perempuan, makna firasat dalam Islam, serta bagaimana intuisi menjadi bagian dari proses healing spiritual dan perjalanan pulang perempuan kepada Allah. Ditujukan bagi perempuan yang sedang mencari ketenangan batin, kejelasan arah hidup, dan hubungan spiritual yang lebih dalam.

Kata kunci: intuisi perempuan, firasat, healing spiritual, perjalanan pulang, ruang perempuan, ketenangan batin, mendengarkan kehendak Allah

Menyimak Cahaya Intuisi Perempuan: Firasat, Healing Spiritual, dan Perjalanan Pulang

Prolog Sifillah | Ruang Perempuan

Aku ingat satu pagi dalam kajian Meaningful Ways bersama Bunda Sofie Beatrix. Bukan karena ruangannya, bukan pula karena catatan di buku. Tetapi karena satu kalimat yang seperti mengetuk batin:

“Sering ragu tiap ambil keputusan? Banyak dari kita merasakan hal yang sama.”

Di sana, aku menyadari sesuatu. Bukan karena kita kurang cerdas. Bukan karena kita tidak berilmu. Tetapi karena terlalu banyak berpikir, hingga lupa mendengarkan rasa.

Padahal, hanya hati yang peka yang mampu menangkap petunjuk-Nya. Saat hati dilatih untuk hening, keputusan tidak lagi lahir dari ketakutan, melainkan dari kejelasan.

Melalui intuisi yang terlatih, perempuan akan lebih mudah:

  • melihat arah masa depan,

  • mengambil keputusan penting tanpa ribut batin,

  • menemukan ide yang mengalir alami,

  • dan hidup dengan rasa tenang serta damai.

Tulisan ini lahir dari perenungan itu. Sebuah pengingat lembut bahwa sebelum logika bekerja, Allah telah lebih dulu menitipkan cahaya dalam diri kita.


Versi Ruang Perempuan | Intuisi Perempuan, Firasat, dan Healing Spiritual


Ada fase dalam hidup perempuan ketika logika tidak lagi cukup menjawab pertanyaan batin. Ketika nasihat terasa bising, pilihan terasa membingungkan, dan hati seperti kehilangan kompas.

Di titik itulah, banyak dari kita mulai bertanya—bukan kepada dunia, tetapi ke dalam diri: “Sebenarnya, apa yang Allah titipkan padaku?”

Artikel ini adalah ruang hening—sebuah tulisan reflektif tentang intuisi perempuan, firasat dalam Islam, dan proses healing spiritual yang menuntun perempuan kembali pada jati diri dan perjalanan pulang kepada Allah. Ruang untuk mengingat kembali cahaya intuisi—firasat—yang sejak awal telah Allah tiupkan ke dalam diri setiap manusia.

23 Januari 2026

Hidup Penuh Tapi Hati Kosong? | Inner Game, Spiritual Wellbeing, dan Jalan Menjadi Diri yang Utuh

Baca ini pelan-pelan. Karena mungkin… ini bukan tentang kurangnya aktivitas dalam hidupmu, tapi tentang ruang batin yang belum sempat kau dengarkan.

Prolog — Sebagai Sifillah

Sebagai seorang sifillah—hamba yang sedang belajar berjalan menuju Allah—aku pernah berada di satu fase hidup yang, jika dilihat dari luar, tampak baik-baik saja.

Hari-hariku penuh. Agenda terisi. Target demi target tercapai.

Aku aktif, produktif, dan terlihat “jalan”.

Namun entah sejak kapan, setiap kali malam datang dan keramaian mereda, ada satu rasa yang tak bisa kupungkiri: kosong.

Bukan kosong karena kurang syukur. Bukan pula karena aku tidak berusaha.

Aku tahu aku sudah berjuang. Aku tahu aku sudah memberi yang terbaik.

Namun di dalam, ada kegelisahan yang sulit diberi nama. Seolah ada bagian terdalam dari diriku yang belum benar-benar disentuh, belum diajak bicara, dan belum dirawat.

Di titik itulah aku mulai jujur pada diri sendiri. Bahwa hidup ternyata tidak cukup hanya diisi dengan melakukan banyak hal.

Ada satu pertanyaan yang pelan-pelan muncul di batinku:

“Bagaimana sebenarnya kondisi hatiku saat menjalani semua ini?”

Pertanyaan itu membawaku pada sebuah perjalanan batin—sebuah proses belajar yang tidak instan, tidak selalu nyaman, namun sangat jujur.

Aku berjumpa dengan satu tema yang perlahan mengubah caraku memandang hidup: Inner Game.

Melalui proses belajar di Kelas Inner Game – Life Coach Academy, yang dipandu langsung oleh Coach Sonny Abi Kim, aku mulai memahami bahwa kelelahan batin bukan tanda kegagalan. Ia sering kali hanyalah isyarat bahwa ada ruang dalam diri yang meminta perhatian.

Inner Game tidak mengajarkanku menjadi manusia tanpa masalah. Ia menuntunku menata ruang batin, mengenali luka tanpa menghakimi, dan kembali berakar kepada Allah—di tengah hidup yang tidak selalu ramah.

Sejak saat itu, aku belajar berjalan dengan cara yang berbeda. Tidak selalu lebih mudah, tetapi jauh lebih bermakna.

22 Januari 2026

Perempuan Kuat, Healing Muslimah, dan Amanah Hidup yang Bertumpu di Bahu | Refleksi Ruang Perempuan

THE NEW ME adalah ruang refleksi bagi perempuan kuat yang sedang menjalani amanah hidup. Artikel ini mengajak muslimah memahami beban hidup perempuan, proses healing muslimah, serta makna menjadi perempuan dewasa—tanpa kehilangan diri, iman, dan kelembutan hati.

Prolog — Perjalanan Perempuan Kuat

Tidak ada satu pun fase hidup yang hadir tanpa makna.
Termasuk fase ketika seorang perempuan merasa hidup seolah bertumpu di bahunya.

Sebagai perempuan kuat, kita sering terbiasa menahan banyak peran sekaligus.
Menjadi ibu.
Menjadi istri.
Menjadi anak.
Menjadi tulang punggung keluarga.
Menjadi penjaga emosi rumah.
Dan tetap berusaha menjadi hamba Allah yang taat.

Namun di balik kekuatan itu, sering kali ada kelelahan lahir dan batin yang tidak terlihat.
Di sinilah perjalanan healing muslimah sebenarnya dimulai—bukan dengan lari dari amanah hidup, tetapi dengan memahaminya secara utuh.

Artikel ini adalah ruang aman.
Bukan untuk menghakimi.
Bukan untuk membandingkan siapa yang paling lelah.
Melainkan ruang refleksi bagi perempuan dewasa yang sedang belajar menguatkan hati.

Perempuan Kuat dan Beban Hidup yang Tak Selalu Terlihat

Banyak perempuan terlihat baik-baik saja.
Tersenyum, menjalankan peran, menyelesaikan tanggung jawab.

Namun sering kali, beban hidup perempuan tidak selalu kasat mata.

Ada perempuan yang menjadi tulang punggung keluarga tanpa banyak suara.
Ada yang harus kuat karena pasangan belum sepenuhnya mampu menopang.
Ada yang memikul amanah hidup sambil menyembunyikan air mata.

Kelelahan ini bukan karena perempuan lemah.
Justru karena ia terlalu lama menjadi kuat sendirian.

Dalam proses healing muslimah, hal pertama yang perlu disadari adalah:
lelah bukan tanda kegagalan, melainkan tanda bahwa hati butuh dirawat.

Sibuk Menerangi Orang Lain, Sampai Lupa Cahaya Diri Sendiri

Merasa lelah, kehilangan semangat, atau produktif tapi hampa? Bisa jadi bukan karena kurang usaha, melainkan karena spirit hidup mulai mere...

Popular Posts