08 Oktober 2026

Melepas Beban Gelisah: Cara Menata Hati agar Hidup Lebih Lapang | Inspirasi Subuh bersama Sonny Abi Kim & Aa Zaen El Muttaqin

Bagaimana cara melepas beban gelisah? Pelajari 5 hal yang perlu dilepaskan: people pleasing, ketakutan, ekspektasi, pola hubungan, dan dendam agar hati lebih lapang dan dekat kepada Allah.

Inspirasi Subuh bersama Sonny Abi Kim & Aa Zaen El Muttaqin

Ada kalanya hidup terasa berat bukan karena masalah kita terlalu besar.

Bisa jadi karena terlalu banyak hal yang kita bawa di dalam hati.

Kekhawatiran tentang sesuatu yang belum terjadi.
Penyesalan atas sesuatu yang sudah berlalu.
Keinginan agar semua orang menyukai kita.
Ketakutan terhadap penilaian manusia.
Ekspektasi agar hidup selalu berjalan sesuai rencana.
Hubungan yang terus menguras energi.
Bahkan luka lama yang masih kita pelihara.

Tubuh mungkin masih sehat.

Kita masih bekerja.
Masih tersenyum.
Masih menjalankan aktivitas seperti biasa.

Tetapi jiwa bisa saja sedang lelah.

Kegelisahan sering kali tidak terlihat oleh mata, tetapi diam-diam menguras energi, mengganggu fokus, merusak hubungan, bahkan membuat kita sulit menikmati berbagai nikmat yang sebenarnya telah Allah hadirkan.

Karena itu, salah satu keterampilan penting dalam kehidupan bukan hanya bagaimana mendapatkan lebih banyak, tetapi juga bagaimana melepaskan apa yang tidak perlu lagi kita bawa.

Dalam kajian ini, Sonny Abi Kim merumuskannya sebagai:

MBG — Melepas Beban Gelisah.

Tujuannya sederhana:

agar ruang batin tidak dipenuhi oleh beban yang sebenarnya tidak perlu kita pikul.

06 Oktober 2026

Menata Hati dalam Penantian: Cara Menikmati Proses, Mengelola Keinginan, dan Tetap Tenang dalam Perspektif Inner Game

Penantian tidak selalu tentang kapan doa terkabul. Bisa jadi, Allah sedang membentuk hati kita melalui proses. Pelajari cara menata keinginan, menemukan makna, bersyukur, dan menjalani penantian dengan Inner Game.

Menata Hati dalam Penantian

Ada masa dalam hidup ketika kita sudah berdoa.

Sudah berusaha.

Sudah belajar bersabar.

Tetapi hasilnya belum juga datang.

Dan manusiawi jika suatu ketika hati bertanya:

“Ya Allah, kapan?”

Kapan sembuhnya?

Kapan bertemunya?

Kapan berhasilnya?

Kapan keadaan berubah?

Kapan doa yang sama akhirnya menjadi nyata?

Kita melihat orang lain seperti lebih mudah sampai.

Sementara kita masih berada di tempat yang sama, dengan doa yang mungkin masih sama.

Lalu tanpa sadar, kita mulai mengukur hidup melalui “sudah sampai mana?”

Padahal boleh jadi pertanyaan yang lebih penting bukan:

“Kapan aku sampai?”

melainkan:

“Siapa yang sedang aku bentuk selama perjalanan menuju ke sana?”

Di sinilah penantian mulai memiliki makna yang berbeda.

Karena bisa jadi, Allah bukan hanya sedang mempersiapkan apa yang kita tunggu.

Allah juga sedang mempersiapkan diri kita untuk menerimanya.



01 Oktober 2026

Let Them Theory: Seni Melepaskan Kendali, Menata Keinginan, dan Kembali kepada Allah

Let Them Theory mengajarkan kita melepaskan hal yang berada di luar kendali. Dipadukan dengan Inner Game dan The Corruption of Desire, kita belajar membebaskan diri dari validasi manusia dan kembali kepada ketenangan bersama Allah.

Ada hal-hal yang sebenarnya tidak perlu kita pikul

Pernahkah kita merasa lelah hanya karena memikirkan apa yang orang lain pikirkan tentang kita?

Tidak diajak.

Tidak dibalas.

Tidak dianggap.

Tidak dipuji.

Seseorang tiba-tiba berubah sikap.

Ada yang salah memahami kita.

Ada yang memiliki penilaian yang tidak sesuai dengan kenyataan.

Lalu pikiran mulai bekerja:

"Aku salah apa?"
"Jangan-jangan dia tidak suka padaku?"
"Apa yang mereka bicarakan tentang aku?"
"Haruskah aku menjelaskan?"
"Bagaimana supaya mereka memahami aku?"

Satu kejadian kecil akhirnya mengambil ruang yang begitu besar di kepala.

Yang melelahkan sering kali bukan kejadiannya.

Yang melelahkan adalah usaha kita untuk mengendalikan sesuatu yang sejak awal memang bukan wilayah kendali kita.

Di sinilah sebuah prinsip sederhana bernama Let Them menjadi menarik untuk direnungkan.

Let Them. Biarkan mereka.

Biarkan mereka memiliki penilaian.

Biarkan mereka salah memahami.

Biarkan mereka memilih.

Biarkan mereka tidak menyukai kita.

Bukan karena kita tidak peduli.

Bukan pula karena kita menyerah.

Tetapi karena kita mulai sadar:

tidak semua hal adalah tanggung jawab kita.

Dan dari sinilah perjalanan menuju ketenangan ke dalam diri dimulai.



25 September 2026

AKU KAPAN YA? Seni Menata Keinginan agar Tidak Berubah Menjadi Rasa Kurang

Pernah merasa hidup baik-baik saja, lalu tiba-tiba merasa tertinggal setelah melihat kehidupan orang lain di media sosial? Rumah baru, liburan, pernikahan, bisnis yang berkembang, hingga perjalanan umrah orang lain bisa memunculkan satu pertanyaan sederhana: “Aku kapan ya?”

Dalam perspektif Inner Game, persoalannya bukan semata-mata tentang media sosial atau keinginan untuk memiliki sesuatu. Ada proses batin yang lebih dalam: melihat, membandingkan, merasa kurang, muncul keinginan, lalu merasa tertekan. Inilah yang dapat dipahami melalui konsep The Corruption of Desire—ketika keinginan yang seharusnya menjadi energi untuk bertumbuh perlahan berubah menjadi sumber ketidakcukupan.

Tulisan ini mengajak kita memahami social comparison, seni menata keinginan, hedonic adaptation, tazkiyatun nafs, dan Psychology of Enough sebagai bagian dari perjalanan membangun Inner Game: kemampuan menata ruang batin agar kita tetap mampu bertumbuh, tanpa kehilangan rasa syukur, ketenangan, dan penghargaan terhadap kehidupan yang telah Allah titipkan.

Memahami Social Comparison, The Corruption of Desire, dan Inner Game dalam Belajar Merasa Cukup

Road to Inner Game Life Coach Academy bersama Coach Sonny Abi Kim

“Ada yang beli rumah baru… aku kapan ya?”
“Ada yang liburan ke luar negeri… aku kapan ya?”
“Ada yang menikah… aku kapan ya?”
“Ada yang umrah… aku kapan ya?”
“Bisnisnya berkembang pesat… kok aku masih begini-begini saja?”

Pernahkah satu kalimat sederhana—“Aku kapan ya?”—tiba-tiba mengubah suasana hati?



21 Agustus 2026

Inner Game -Life Coach Academy | Bersama Coach Sonny Abi Kim Life Coach

 Inner Game -Life Coach Academy

Mulai Transformasi Diri Anda Dari Sini❗

Inner Game - Life Coach Academy

Selama 3 bulan, belajar dan berlatih fundamental tentang Inner Mastery untuk menata diri, menguasai ruang batin, sekaligus belajar membantu orang lain mengalami transformasi.


Bersama:

Coach Sonny Abi Kim

Life Coach | Best Selling Author (7 Buku)


Anda akan diajak memahami dinamika pikiran, perasaan, emosi, ego, hingga cara membangun ketenangan dari dalam diri dalam 20 modul materi, antara lain:


1. The Basic of Inner Game — Pondasi Menata Batin

2. Understanding Negative Thought Patterns — Mengenali & Memahami Pikiran Negatif

3. The Dichotomy of Control — Memahami Peta Kendali

4. The Art of Calm Living — Seni Berdamai dengan Masalah

5. The Art of Ignorance — Seni Berdamai dengan Apa Kata Orang

6. Peaceful Productivity — Produktif dalam Ketenangan & Berdamai dengan Ambisi

7. The Coaching Game to Win the Inner Game — Pendekatan Coaching untuk Menguasai Ruang Batin

8. Releasing Overthinking — Melepaskan Pikiran yang Berlebihan

9. Don’t Be Sad — Menata Batin ketika Sedih

10. The Secrets of Anger-Control — Rahasia Mengendalikan Marah

11. How to Stop Worrying & Start Living — Rahasia Berhenti Khawatir

12. The Desire Trap — Seni Menata Keinginan

13. Ego Is the Enemy — Mengenali & Mendamaikan Ego

14. Attract — Menata Ruang Batin untuk Menarik Keberuntungan & Rezeki

15. Focus on You — Menguatkan Pengaruh dari Dalam Diri

16. The Journey of Purpose — Perjalanan Batin untuk Mencari Ikhlas

17. Finding Inner Peace — Menemukan Ketenangan di Kedalaman Makna

18. Inner Journey — Perjalanan ke Puncak Hati

19. Re-Connect — Menghubungkan Rasa, Membangun Cinta

20. Speak with Heart — Ilmu Menata Hati dalam Bicara


Start Oktober 2026 – Januari 2027


Pendaftaran Dibuka ‼️

Special Promo Early Bird link di Bio

19–31 Agustus 2026


Komen INNERGAME untuk info pendaftaran


Free Konsultasi ke no 0822 4546 7771

Daftar Sekarang

Bantu di daftarkan Klik disini

18 Agustus 2026

Cerdas Mengelola Keuangan: Panduan Perencanaan Keuangan untuk Perempuan dan Masa Depan

Mengelola keuangan bukan sekadar mencatat pemasukan dan pengeluaran, tetapi merupakan bagian penting dari perencanaan keuangan untuk membangun masa depan yang lebih aman dan terarah. Bagi perempuan, memiliki literasi keuangan yang baik membantu kita memahami kondisi finansial, mengatur kebutuhan dan keinginan, mengelola utang, menyiapkan dana darurat, menentukan tujuan keuangan, hingga memahami investasi secara bijak.

Melalui pembelajaran “Cerdas Mengelola Uang, Bijak Membangun Masa Depan” bersama Rista Zwestika, CFP, WMI, WPS, QFC, kita diajak untuk tidak hanya mencari lebih banyak uang, tetapi belajar mengelola apa yang sudah kita miliki dengan sadar, terencana, dan bertanggung jawab.

Catatan Pembelajaran Ruang Perempuan

Bersama Rista Zwestika, CFP, WMI, WPS, QFC

“Keuangan yang kuat bukan dibangun semata-mata dari banyaknya harta, tetapi dari bagaimana kita mengelola amanah, harapan, dan masa depan yang Allah titipkan kepada kita dan keluarga.”


Pembuka: Uang Bukan Sekadar Angka

Membicarakan keuangan bukan tentang siapa yang paling kaya, siapa yang paling banyak memiliki aset, atau siapa yang paling besar penghasilannya.

Keuangan adalah tentang bagaimana kita mengelola apa yang Allah amanahkan kepada kita.

Karena itu, belajar keuangan bukan untuk membandingkan isi rekening kita dengan orang lain.

Bukan pula untuk merasa gagal karena penghasilan kita belum sebesar orang lain.

Yang perlu kita tanyakan justru:

“Dengan apa yang saat ini Allah titipkan kepadaku, sudahkah aku mengelolanya dengan bijak?”

Pemateri mengingatkan bahwa uang dan harta adalah amanah, bukan semata-mata milik pribadi. Karena itu, pengelolaannya memiliki tanggung jawab dan dampak yang berkelanjutan bagi diri sendiri, keluarga, bahkan orang lain.

14 Agustus 2026

“Mengapa dalam situasi yang sama, dua orang bisa berpikir, merasa, dan bertindak sangat berbeda?”


Gambar ini menarik karena sebenarnya ia sedang mencoba menjawab pertanyaan yang sangat manusiawi:

“Mengapa dalam situasi yang sama, dua orang bisa berpikir, merasa, dan bertindak sangat berbeda?”

Namun ada satu hal penting sejak awal: peta ini berasal dari konsep Map of Consciousness David R. Hawkins, bukan peta otak yang sudah terbukti secara ilmiah. Angka 20–1000 dan istilah “energi” di dalamnya tidak boleh dipahami sebagai ukuran aktivitas otak, kadar hormon, gelombang otak, atau satuan energi fisika. Jadi, menurut saya, nilai terbesar gambar ini adalah sebagai alat refleksi diri, bukan sebagai alat diagnosis atau pengukuran ilmiah seseorang.

Dengan pemahaman itu, mari kita baca gambar ini secara sederhana tetapi mendalam.

Melepas Beban Gelisah: Cara Menata Hati agar Hidup Lebih Lapang | Inspirasi Subuh bersama Sonny Abi Kim & Aa Zaen El Muttaqin

Bagaimana cara melepas beban gelisah? Pelajari 5 hal yang perlu dilepaskan: people pleasing, ketakutan, ekspektasi, pola hubungan, dan denda...

Popular Posts