Setelah Allah memperlihatkan kepada kita bagaimana matahari terbit dari dua timur dan tenggelam di dua barat — bagaimana musim berganti tanpa pernah salah arah — kini Allah mengajak kita merenungi sesuatu yang lebih dalam: pertemuan dua lautan yang tidak pernah bercampur sepenuhnya.
Di balik fenomena alam itu, tersimpan pelajaran tentang batas, keseimbangan, dan rahmat yang begitu presisi.
Berikut Refleksi mendalam Surah Ar-Rahman ayat 19–21 tentang dua lautan yang bertemu namun tetap berbatas. Pelajaran tentang identitas, batas, dan rahmat Allah dalam kehidupan.
Prolog Sifillah – Melanjutkan Day 3
Kemarin, pada pembelajaran Day 3, aku belajar tentang musim yang berganti.
Allah adalah Tuhan dua timur dan dua barat.
Tidak ada yang statis. Tidak ada yang tetap di titik yang sama.
Hari ini Allah membawaku lebih dalam lagi.
Jika sebelumnya aku belajar tentang perubahan,
kini aku belajar tentang pertemuan.
Tentang dua arus besar yang saling mendekat—
namun tidak pernah kehilangan jati dirinya.
Dan di situlah aku merasa…
ayat ini seperti sedang berbicara langsung kepadaku.
Pada refleksi sebelumnya tentang Surah Ar-Rahman ayat 17–18, kita belajar menerima pergantian musim kehidupan. Kini Allah mengajarkan tentang batas dalam pertemuan.
Baca Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 17–18 : Tuhan Dua Timur, Dua Barat — Dan Aku yang Belajar Percaya






