Menata Batas Diri: Ketika “Baik” Tidak Lagi Menyelamatkanmu
Ada fase dalam hidup seorang perempuan…
di mana ia terlihat kuat, selalu ada, selalu membantu, selalu “baik”—
tapi diam-diam, hatinya lelah.
Ia tersenyum, tapi penuh tekanan.
Ia memberi, tapi kehilangan arah.
Ia hadir untuk semua orang… kecuali untuk dirinya sendiri.
Kalau kamu pernah merasa seperti itu,
mungkin ini bukan tentang kamu yang “terlalu baik”—
tapi tentang batas diri yang belum pernah benar-benar kamu bangun.
Artikel ini akan membantumu memahami satu hal penting:
bahwa menjadi baik tanpa batas bukanlah kebaikan yang sehat.
Prolog Sifillah
Dalam perjalanan belajar di ruang-ruang perempuan, aku menemukan satu pola yang berulang.
Perempuan bukan tidak kuat.
Bukan juga tidak tahu mana yang benar.
Tapi… terlalu sering mereka mengorbankan diri demi diterima.
Terlalu sering mereka berkata “iya” saat hatinya ingin berkata “tidak”.
Dan yang paling menyakitkan…
mereka tidak sadar bahwa itu adalah pola.
Bukan karakter.
Bukan takdir.
Tapi pola yang bisa diubah.



.png)



.png)