20 Februari 2026

Refleksi Surah Ar-Rahman 1–13: Saat Allah Menyapaku dengan Kasih, Bukan Teguran | 31 Days Challenge Ar-Rahman

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 1–13 tentang kasih sayang Allah, syukur, dan 31 Days Challenge untuk menata hati di bulan Ramadhan.
 
Ada satu fase dalam hidupku sebagai perempuan…
di mana aku terlihat baik-baik saja,
tapi sebenarnya sedang lelah secara diam-diam.

Rutinitas berjalan.
Peran terpenuhi.
Target tercapai.

Namun hati terasa kosong.

Aku bisa tersenyum di depan banyak orang.
Tetap menjalankan kewajiban.
Tetap terlihat kuat.

Tapi di dalam, aku mudah tersinggung.
Mudah membandingkan.
Dan… mudah mengeluh.

Yang paling jujur?
Aku sering merasa hidupku kurang.

Kurang dihargai.
Kurang dimengerti.
Kurang ringan.

Padahal kalau dihitung dengan sadar,
nikmatku jauh lebih banyak daripada keluhanku.

Itulah mengapa ketika aku kembali membaca dan mentadabburi Surah Ar-Rahman ayat 1–13, rasanya seperti sedang dipanggil pulang.

Bukan ditegur.
Bukan dimarahi.
Tapi dipanggil dengan kasih.

Membentuk Ritme Hidup yang Baru: Momentum Reset di Bulan Ramadan | Kajian Meaningful Ways

Hidup bukan tentang seberapa cepat kita berlari, tetapi seberapa tepat ritme yang kita jalani. Dalam kajian Meaningful Ways, Novie Setiabakti mengajak kita melakukan reset kehidupan melalui momentum Ramadan: menata ulang waktu, memperbaiki tujuan, dan membangun kebiasaan baru yang lebih sadar, terarah, serta bernilai ibadah.

Artikel ini merangkum poin-poin penting kajian tersebut, dilengkapi dengan insight reflektif dan ajakan kebaikan untuk menghidupkan makna waktu dalam kehidupan kita.

Prolog: Ketika Hidup Terasa Sibuk, Tapi Kosong

Pernah merasa sangat sibuk, tapi tidak benar-benar tenang?
Agenda penuh. Kalender padat. Notifikasi tak henti berbunyi.

Namun di ujung hari, hati terasa lelah tanpa makna.

Kita berlari cepat, tetapi lupa mengatur ritme.
Padahal, tanpa ritme yang tepat, energi habis untuk hal-hal yang tidak perlu.

Ramadan datang bukan sekadar sebagai bulan ibadah, tetapi sebagai undangan lembut dari Allah untuk mereset hidup kita.

1️⃣ Dua Sumber Daya: Rezeki Berbeda, Waktu Sama

Dalam kajian ini, Novie mengingatkan bahwa Allah memberi kita dua sumber daya utama:

1. Rezeki → Takaran Berbeda

Setiap orang punya porsi masing-masing.
Tidak perlu kepo dengan rezeki orang lain.

Semakin kita membandingkan, semakin hilang rasa syukur.

2. Waktu → 24 Jam untuk Semua

Ramadan atau tidak, waktunya tetap 24 jam.
Yang membedakan adalah bagaimana kita mengisinya.

Pertanyaannya sederhana namun dalam:

“Dua puluh empat jam yang Allah beri, kita gunakan untuk apa?”

Coba cek screen time harian.
Berapa jam dihabiskan untuk gawai?
Berapa jam untuk kebaikan?

Karena waktu selalu punya dua kemungkinan:

  • Dipakai untuk kebaikan

  • Atau terisi hal yang tidak bernilai

19 Februari 2026

Ramadhan Menghidupkan Iman: Cara Allah Mengaktifkan Kode Hati dan Mengubah Inner Game Kehidupan | The Heart of Ramadhan

Bagaimana Ramadhan menghidupkan iman dan mengaktifkan kode hati (Healing, Enlightenment, Abundance, Resilience, Trust)? Temukan penjelasan spiritual dan ilmiahnya di sini.

Prolog: Mengapa Kita Terasa “Lebih Hidup” Saat Ramadhan?

Pernahkah Anda menyadari sesuatu yang unik setiap kali Ramadhan datang?

Orang-orang yang biasanya keras menjadi lebih lembut.
Yang jarang tersentuh, mudah menangis dalam doa.
Yang sibuk dengan dunia, tiba-tiba mencari Al-Qur’an.

Ada suasana yang berbeda.

Seakan-akan hati kita diberi ruang untuk bernapas kembali.

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Dalam Kelas Spesial Ramadhan bersama Coach Sonny Abi Kim bertajuk The Heart of Ramadhan – Menata Hati di Bulan Suci (Sesi 2: Ramadhan Menghidupkan Iman), dijelaskan bahwa:

Ramadhan bukan sekadar bulan ibadah.
Ramadhan adalah ekosistem yang menghidupkan iman.

Inilah kunci yang sering tidak kita sadari.

Ramadhan Bukan Sekadar Waktu, Tetapi Ekosistem Spiritual

Banyak orang memahami Ramadhan sebagai periode 30 hari untuk berpuasa, tarawih, dan memperbanyak ibadah.

Namun sesungguhnya, Ramadhan jauh lebih dari itu.

Ia adalah lingkungan spiritual yang dirancang Allah untuk menata hati manusia.

Mengapa Lingkungan Sangat Penting?

Manusia adalah makhluk yang sangat dipengaruhi oleh lingkungannya.

  • Lingkungan bising membuat pikiran cepat lelah.

  • Lingkungan penuh distraksi membuat hati terasa kosong.

  • Lingkungan kompetitif berlebihan membuat jiwa mudah gelisah.

Sekarang bandingkan dengan Ramadhan.

Di bulan ini:

  • Al-Qur’an lebih sering dibaca.

  • Sedekah lebih mudah dilakukan.

  • Doa lebih sering dipanjatkan.

  • Masjid lebih ramai.

  • Pembicaraan tentang akhirat lebih sering terdengar.

Seluruh dunia seakan diajak pelan-pelan kembali kepada Allah.

Inilah yang disebut sebagai ekosistem spiritual Ramadhan.

Tanpa kita sadari, lingkungan ini menurunkan kebisingan batin kita.

Makna Puasa Ramadhan: Agar Tidak Sekadar Lapar, Tapi Menghasilkan Ketakwaan | Day-4 Teras Ramadhan

Teras Ramadan

Puasa Bukan Sekadar Sah, Tapi Sampai ke Hati

Refleksi Teras Ramadan Day 4 bersama Ustadzah Nusaibah Azzahra

Bagaimana agar puasa Ramadhan benar-benar mengubah hati dan menghadirkan ketakwaan? Dalam kajian Teras Ramadan Day 4 bersama Ustadzah Nusaibah Azzahra, kita diajak memahami makna puasa yang menyentuh dimensi spiritual, psikologis, dan sosial. Artikel ini membahas bagaimana agar puasamu bermakna—bukan sekadar sah, tetapi sampai ke hati dan melahirkan takwa.

Puasa Ramadhan bukan sekadar sah secara hukum, tetapi harus sampai ke hati dan melahirkan ketakwaan. Pelajari tujuan puasa, hikmah puasa Ramadhan, serta cara agar puasa benar-benar mengubah diri dalam refleksi Teras Ramadan Day 4.

Prolog Sifillah

Alhamdulillah… Allah masih mengizinkan kita memasuki Ramadhan tahun ini.

Padahal ada beberapa kawan yang telah lebih dulu Engkau panggil ya Allah… sementara aku masih Engkau beri kesempatan.

Bolehkah aku berbaik sangka… bahwa Engkau masih ingin aku belajar menjadi hamba yang bertakwa?
Masih ingin aku diampuni… dan diberkahi?

Izinkan setiap detiknya bermakna.
Izinkan setiap laparnya membersihkan jiwaku.
Izinkan di akhir nanti, saat kami berjumpa dengan-Mu, amal kecil ini menjadi cahaya yang menemani kami.

Ketika selesai berdoa… rasanya hati ini lebih hadir. Seolah Ramadhan bukan hanya datang sebagai bulan kalender, tapi sebagai panggilan jiwa.

Semua dimulai dari hati.
Semua dimulai dari doa.

Bismillah…

18 Februari 2026

Fiqih Ramadan: Siap Masuk Ramadan dengan Ilmu, Bukan Sekadar Semangat | Day 3 – Teras Ramadan

Ramadan bukan hanya tentang menahan lapar dan haus, tetapi tentang menjalankan ibadah sesuai tuntunan syariat. Pada Day 3 Teras Ramadan, dalam Kajian Fiqih Seputar Ramadan bersama Ustadz Muslim Al Fatih, kita membahas Fiqih Dasar Ramadan secara runtut dan mendalam—mulai dari syarat wajib puasa, syarat sah puasa, rukun puasa, niat puasa, hingga keutamaan puasa dalam Islam.

Belajar fiqih Ramadan adalah langkah penting agar ibadah kita tidak sekadar bersemangat, tetapi benar dan bernilai di sisi Allah. Artikel ini merangkum poin-poin penting kajian agar setiap muslimah dapat memasuki bulan suci dengan ilmu, pemahaman, dan ketenangan hati.

Karena Ramadan yang terbaik bukan hanya yang paling sibuk ibadahnya, tetapi yang paling benar pelaksanaannya.

Pelajari Fiqih Ramadan: syarat wajib dan sah puasa, niat puasa, rukun puasa, serta keutamaan puasa bersama Ustadz Muslim Al Fatih di Teras Ramadan.

Ramadan Tidak Cukup dengan Semangat

Banyak yang begitu antusias menyambut Ramadan.
Dekorasi sudah disiapkan. Target tilawah sudah ditulis. Menu sahur sudah dirancang.

Namun ketika Ramadan benar-benar datang, muncul kegelisahan kecil:

Apakah puasaku sudah benar?
Apa saja yang membatalkan puasa tanpa aku sadari?
Sudahkah niatku sah menurut syariat?

Ibadah bukan sekadar perasaan khusyuk.
Ia butuh fondasi ilmu.

Karena amal tanpa ilmu bisa sia-sia.
Dan ilmu tanpa amal hanya menjadi pengetahuan yang membeku.

Di kelas Teras Ramadan, bersama Muslim Al Fatih, kita diajak kembali pada dasar: Fiqih Basic Ramadan.

17 Februari 2026

Ramadhan Mendidik Hati: Inner Game Spiritual | The Heart of Ramadhan

Ramadhan bukan hanya tentang menahan lapar dan dahaga, tetapi tentang mendidik hati agar kembali bersih, sadar, dan terhubung dengan Allah. Artikel ini merangkum materi Webinar Spesial Ramadhan “The Heart of Ramadhan” bersama Coach Sonny Abi Kim dari Inner Game Life Coach Academy, khususnya Sesi 1: Ramadhan Mendidik Hati. Sebuah refleksi mendalam tentang bagaimana puasa membentuk inner game seorang muslimah dari dalam ke luar.

Prolog – Sifillah

Ada fase dalam hidup saya ketika Ramadhan terasa… biasa saja.

Target ada.
Planner ada.
Checklist ibadah rapi.

Tapi hati?
Kadang masih penuh gelisah.

Sebagai pembelajar di Inner Game Life Coach Academy, saya tersadar bahwa kualitas Ramadhan tidak ditentukan oleh seberapa banyak aktivitas spiritual yang kita lakukan—melainkan oleh kondisi batin yang kita bawa ke dalamnya.

Di Kelas Spesial Ramadhan bertajuk The Heart of Ramadhan, Coach Sonny Abi Kim membuka sesi pertama dengan tema yang begitu mendasar namun sering terlupakan:

Ramadhan bukan sekadar melatih fisik. Ramadhan mendidik hati.

Dan dari situlah perjalanan refleksi ini dimulai.

04 Februari 2026

Mindset Sehat Islami untuk Jiwa yang Kuat: Inner Game, Kesadaran, dan Deep Healing

Artikel reflektif ini mengulas mindset sehat untuk jiwa yang kuat berdasarkan pembelajaran dari Kajian Meaningful Ways bersama Kang Harry Firmansyah, yang diolah melalui pendekatan inner game dan refleksi spiritual sebagai seorang Sifillah.

Pembaca diajak menyadari dinamika batin, memahami pola emosi dan core belief, hingga menjalani proses deep healing dan action plan sederhana yang aplikatif dalam kehidupan sehari-hari.
Tulisan ini menegaskan bahwa mempelajari hal baru sejatinya membentuk pribadi yang baru, ketika kesadaran, iman, dan praktik bertemu dalam proses bertumbuh menuju versi diri yang lebih lapang dan dekat kepada Allah.
Cocok bagi Muslimah dan pembaca yang sedang mencari ketenangan batin, kesehatan mental islami, serta makna perubahan diri melalui inner game dan mindset sehat.

Prolog — Sebagai Sifillah


Tulisan ini lahir dari proses belajar yang tidak instan.
Ia bukan rangkuman sempurna, juga bukan kesimpulan final.

Materi yang tertuang di sini aku dapatkan dari Kajian Meaningful Ways bersama Kang Harry Firmansyah, lalu kuolah kembali melalui pengalaman batin, peran sebagai seorang ibu, dan perjalanan inner game yang sedang kupelajari dengan penuh kesadaran.

Aku menuliskannya sebagai pembelajaran, bukan kebenaran mutlak.
Sebagai refleksi, bukan penghakiman.
Sebagai teman seperjalanan, bukan penentu arah hidup siapa pun.

Jika dalam membaca tulisan ini kamu merasa:

  • tersentuh,

  • tersadar,

  • atau justru terdiam lebih lama dari biasanya,

maka izinkan itu terjadi.
Barangkali bukan tulisanku yang bekerja,
melainkan Allah yang sedang menyapa hatimu dengan cara-Nya.

Semoga tulisan ini menjadi ruang aman—
untuk berhenti sejenak,
menata kembali cara berpikir,
dan menguatkan langkah menuju versi diri yang lebih sadar.

Karena sejatinya,
THE NEW ME bukan tentang menjadi orang lain,
melainkan tentang kembali pulang
kepada diri yang lebih jujur di hadapan Allah.

Seorang Sifillah yang sedang belajar bertumbuh

Refleksi Surah Ar-Rahman 1–13: Saat Allah Menyapaku dengan Kasih, Bukan Teguran | 31 Days Challenge Ar-Rahman

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 1–13 tentang kasih sayang Allah, syukur, dan 31 Days Challenge untuk menata hati di bulan Ramadhan .   Ada sa...

Popular Posts