Pada artikel sebelumnya yang berjudul "Soal Ikhlas, Ternyata Aku Masih Amatir", kita belajar bahwa ikhlas ternyata bukan sekadar mampu melepaskan sesuatu yang kita cintai. Ikhlas adalah proses panjang mengembalikan hati agar tetap bergantung kepada Allah, bahkan ketika kenyataan tidak sesuai dengan harapan.
Namun setelah tulisan itu terbit, banyak sekali pertanyaan yang muncul dari para pembaca.
"Kalau sudah berusaha ikhlas, kenapa hati masih sakit?"
"Kalau sudah ikhlas, kenapa masih menangis?"
"Apakah berarti aku belum ikhlas?"
Pertanyaan-pertanyaan itu ternyata membawa kita pada satu kata yang sangat sering diucapkan, tetapi jarang benar-benar dipahami.
Sabar.
Ironisnya, kata inilah yang sering kali justru membuat banyak orang semakin lelah.
Ketika seseorang kehilangan orang yang dicintai, ia diminta sabar.
Ketika rumah tangganya bermasalah, ia diminta sabar.
Ketika usahanya bangkrut, ia diminta sabar.
Ketika hatinya terluka, lagi-lagi ia diminta sabar.
Masalahnya...
Jarang sekali ada yang menjelaskan, "Sabar yang bagaimana?"
Akibatnya, banyak orang mengira sabar berarti memendam semuanya sendirian.
Tidak boleh menangis.
Tidak boleh marah.
Harus mengalah terus.
Harus kuat setiap saat.
Padahal, semakin saya mempelajari Al-Qur'an dan mendengarkan kajian Road to Mentorship Let It Flow bersama Coach Sonny Abi Kim, saya justru menemukan sesuatu yang mengejutkan.
Boleh jadi yang membuat kita lelah bukan karena hidup terlalu berat, melainkan karena selama ini kita salah memahami makna sabar.








