(QS. Ar-Ra'd: 11)
Pernahkah Kita Menyalahkan Takdir?
Pernahkah kita duduk sendirian di penghujung hari, lalu menghela napas panjang sambil berkata,
"Mungkin memang bukan takdirku."
Atau ketika melihat orang lain berhasil, hati kecil kita berbisik,
"Dia memang berbakat. Aku tidak."
Ada pula yang berkata,
"Kayaknya aku tidak akan pernah bisa."
"Sudahlah... hidupku memang begini."
Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin kita mengucapkannya tanpa berpikir panjang.
Namun, tahukah kita?
Kalimat yang terus-menerus diulang kepada diri sendiri lambat laun berubah menjadi sebuah keyakinan.
Dan keyakinan yang dipelihara bertahun-tahun akan membentuk cara kita melihat dunia, cara kita mengambil keputusan, bahkan menentukan seberapa jauh kita berani melangkah.
Ironisnya, banyak orang mengira yang menghambat hidupnya adalah takdir, padahal yang lebih dahulu menghentikan langkahnya adalah cara pandangnya sendiri.
Takdir belum berbicara, tetapi ia sudah menyerah.
Allah belum menutup pintu, tetapi ia sudah berhenti mengetuk.
Kesempatan belum benar-benar hilang, tetapi ia lebih dahulu mengatakan, "Aku tidak mampu."
Inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai self-limiting beliefs, yaitu keyakinan yang membatasi potensi diri. Dalam Islam, kondisi ini berkaitan erat dengan cara seseorang memandang Allah, memandang dirinya sebagai hamba, dan memaknai setiap ketetapan-Nya.
Kajian Kang Novie mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar:
Jangan-jangan bukan takdir yang menghambat kita, tetapi keyakinan yang selama ini kita bangun di dalam hati.


.png)




