26 Februari 2026

Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 26–28: Tentang Fana, Kekekalan, dan Kesadaran Pulang | 31 Days Challenge Ar-Rahman

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 26–28 tentang makna kullu man ‘alaiha faan, fana dan kekekalan dalam Islam, serta hikmah kehidupan dan kematian yang menyentuh hati.

Melanjutkan Penyelaman Kemarin

Pada pembelajaran sebelumnya pertemuan ke 6, kita menyaksikan tanda-tanda kebesaran Allah yang terhampar di semesta. Tentang keseimbangan, tentang nikmat yang berlimpah, tentang keteraturan yang menenangkan jiwa.

Hari ini, dalam Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 26–28, Allah membawa kita masuk lebih dalam lagi.

Jika kemarin kita diajak melihat keluar,
hari ini kita diajak menunduk ke dalam.

Tentang kefanaan.
Tentang akhir.
Tentang siapa yang benar-benar kekal.

Dan mungkin inilah bagian yang paling sunyi, tapi paling menyadarkan.



Tafsir Surah Ar-Rahman Ayat 26 — Makna Kullu Man ‘Alaiha Faan

“Kullu man ‘alaiha faan.”
Setiap apa pun yang ada di atasnya akan musnah.

Dalam tafsir Surah Ar-Rahman ayat 26 dijelaskan bahwa segala sesuatu yang ada di permukaan bumi dan langit akan fana.

Bukan hanya manusia.
Bukan hanya makhluk bernyawa.

Matahari akan redup.
Bintang akan padam.
Langit akan terbelah.

Semua yang hari ini tampak kuat dan kokoh, suatu hari akan selesai tugasnya.

Yang muda akan menua.
Yang baru akan usang.
Yang hidup akan mati.

Inilah makna fana dalam Islam:
Semua yang diciptakan memiliki batas.

Dan sering kali, yang membuat kita lelah bukan dunia itu sendiri —
tetapi karena kita memperlakukannya seolah-olah ia kekal.

Tafsir Surah Ar-Rahman Ayat 27 — Hanya Allah yang Kekal

Wa yabqaa wajhu rabbika dzul jalaali wal ikraam.”
Dan yang kekal hanyalah wajah Tuhanmu, Yang Mahaagung lagi Mahamulia.

Asy-Sya’bi berkata, jangan berhenti hanya pada ayat “kullu man ‘alaiha faan.” Lanjutkan pada ayat berikutnya.

Karena jika kita hanya melihat kefanaan, hati bisa merasa kehilangan.

Namun ketika dilanjutkan, kita menemukan ketenangan.

Di balik semua yang akan pergi, ada Allah yang tidak pernah pergi.

Dialah Yang Mahaagung.
Dialah Yang Mahamulia.
Dialah tempat kembali.

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 27 ini mengajarkan kita tentang keseimbangan:
Dunia memang sementara, tetapi sandaran kita tidak pernah sementara.

Jika semua yang kita genggam akan lepas,
maka genggamlah Allah.

Jika semua yang kita cintai bisa pergi,
cintailah Dia yang tidak pernah meninggalkan.

Tafsir Surah Ar-Rahman Ayat 28 — Nikmat yang Tak Bisa Didustakan


Fabiayyi aalaa’i rabbikuma tukadzdzibaan.”

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?

Kita telah lahir.
Kita diberi hidup.
Kita diberi waktu.

Jika umur panjang, kita akan tua.
Jika tidak, kita akan pulang lebih cepat.

Tidak ada jalan menghindar dari tua.
Tidak ada jalan menghindar dari mati.

Lalu nikmat mana yang hendak kita dustakan?

Nikmat waktu sebelum terlambat.
Nikmat kesempatan untuk memperbaiki diri.
Nikmat iman sebelum semuanya selesai.

Hikmah Surah Ar-Rahman ayat 26–28 bukan untuk menakut-nakuti kita.

Ia adalah undangan untuk menyusun ulang prioritas.

🌿 Refleksi Mendalam Hari Ini


Jika semua akan fana,
mengapa masih terlalu sibuk mengejar yang sementara?

Jika semua akan pergi,
mengapa terlalu takut kehilangan?

Mungkin yang membuat kita gelisah bukan dunia yang keras.

Tetapi karena kita lupa bahwa dunia memang tidak dirancang untuk kekal.

Dan justru karena ia sementara,
kita diajak untuk bersiap menuju yang abadi.

πŸ“ Refleksi Hari Ini

  1. Di bagian mana aku masih lalai?
    Mungkin aku masih menunda kebaikan karena merasa waktu panjang.

  2. Di bagian mana aku masih mengeluh?
    Mungkin aku mengeluh pada hal-hal kecil, padahal hidup itu sendiri adalah nikmat.

  3. Apa kesan yang kurasakan setelah menyelam ke Surah Ar-Rahman hari ini?
    Barangkali aku merasa lebih tenang, karena sadar bahwa kehilangan bukan akhir segalanya.

Tuliskan di ruang belajarmu:

Insight:
Hari ini aku menyadari bahwa dunia ini memang sementara, dan aku terlalu sering memperlakukannya seolah-olah kekal.

Komitmen:
Aku ingin lebih fokus pada amal yang abadi, lebih menjaga waktu, dan lebih bersandar kepada Allah dalam setiap keadaan.

🀍 Doa

Ya Allah,
Engkau Yang Maha Kekal,
sementara aku hanyalah hamba yang fana.

Jangan Engkau jadikan dunia lebih besar di hatiku
daripada akhirat yang Engkau janjikan.

Jika aku lalai, ingatkan aku.
Jika aku terlalu mencintai yang sementara, luruskan aku.
Jika waktuku tersisa sedikit, berkahilah ia.

Jadikan aku pulang dalam keadaan Engkau ridha.

Aamiin ya Rabbal ‘aalamiin.

Jika refleksi Surah Ar-Rahman ayat 26–28 ini menyentuh hatimu dan kamu ingin berjalan bersama, bukan sekadar membaca tetapi benar-benar menyelami makna Al-Qur’an secara lebih sadar…

πŸ“² Join Saluran Ruang Perempuan
https://s.id/RuangPerempuan

Mari bertumbuh bersama.
Karena mungkin yang berubah bukan hidup kita seketika,
tetapi cara kita memaknainya.

Dan itu… sudah lebih dari cukup 🀍

Jika refleksi ini membuatmu ingin belajar lebih dalam, bukan sekadar membaca tapi benar-benar dituntun memahami Al-Qur’an, aku mau kasi info ruang belajar lebih intens melalui program Exclusive Mentoring Powerful Qur’an (EMPQ).πŸ“š Exclusive Mentoring Powerful Qur’an (EMPQ) Level 1

Artikel ini membahas makna dan tafsir Surah Ar-Rahman ayat 1–5 serta hikmah yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.
Day 1 → Saat Allah Menyapaku dengan Kasih
Day 2 → Dari tanah, menjadi Manusi yang dimuliakan
Day 3 → Tuhan Dua Timur, Dua Barat 
Day 4 → Dua Lautan yang Bertemu
Day 5 → Mutiara dan Marjan dalm Surah Ar Rahman 

Day 6 → Kapal Besar, Tanda Kekuasaan Allah

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Refleksi Surah Ar-Rahman Ayat 26–28: Tentang Fana, Kekekalan, dan Kesadaran Pulang | 31 Days Challenge Ar-Rahman

Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 26–28 tentang makna kullu man ‘alaiha faan , fana dan kekekalan dalam Islam , serta hikmah kehidupan dan kema...

Popular Posts