Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 22–23 tentang makna mutiara dan marjan sebagai simbol ujian, luka, dan rahmat Allah dalam proses kehidupan.
Prolog — Melanjutkan Day 4
Pada pembelajaran sebelumnya tentang dua lautan yang bertemu, namun tidak saling melampaui batas.
Tentang kedewasaan menjaga diri meski berada dalam arus dunia.
Hari ini, Surah Ar-Rahman membawa kita menyelam lebih dalam.
Jika kemarin Allah menunjukkan batas,
hari ini Allah menunjukkan hasil dari proses yang tersembunyi.
“Yakhruju minhuma al-lu’lu’u wal marjan.”
Dari keduanya keluar mutiara dan marjan.
(QS. Ar-Rahman: 22)
Dari dua laut itu—laut asin dan laut tawar—Allah keluarkan mutiara dan marjan (karang merah). Permata indah yang tidak tumbuh di daratan, tidak pula di permukaan, tetapi di kedalaman yang sunyi.
Mutiara Tidak Lahir di Permukaan
Mutiara tumbuh di dalam lokan—tersembunyi, terbungkus, terjaga.
Ia tidak muncul begitu saja.
Ia terbentuk melalui proses panjang.
Bahkan untuk mengeluarkannya, cangkangnya harus dipecahkan.
Betapa dalam makna ini.
Refleksi Surah Ar-Rahman ayat 22 mengajarkan kita bahwa sesuatu yang bernilai seringkali lahir dari ruang yang gelap, tertekan, dan tersembunyi.
Sebagaimana mutiara:
-
Ia terbentuk karena ada benda asing yang masuk.
-
Ia tidak tumbuh tanpa “gangguan”.
-
Ia menjadi indah karena proses.
Bukankah seringkali luka kita pun seperti itu?
Yang kita anggap gangguan,
yang kita sebut kecewa,
yang kita rasakan sebagai patah—
bisa jadi sedang Allah lapisi perlahan, hingga berubah menjadi kematangan.
Marjan: Keindahan yang Tumbuh di Dasar Laut
Marjan (karang merah) juga tumbuh di kedalaman.
Ia tidak bersinar sendiri.
Ia dibentuk oleh waktu, tekanan, dan ekosistem yang Allah atur dengan sangat presisi.
Surah Ar-Rahman ayat 22 bukan sekadar bicara tentang kekayaan laut.
Ia berbicara tentang sunnatullah: bahwa keindahan seringkali tersembunyi dalam proses yang tidak terlihat.
Dan lalu Allah bertanya lagi:
“Fabi ayyi ala’i rabbikuma tukadzdziban.”
Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?
(QS. Ar-Rahman: 23)
Pertanyaan itu kembali diulang.
Seolah Allah berkata,
“Setelah semua proses indah yang Aku siapkan, masihkah kamu meragukan-Ku?”
Hikmah Reflektif — Untuk Hati yang Pernah Patah
Dari ayat ini, ada beberapa pelajaran hati:
1. Tidak Semua Proses Terlihat, Tapi Semua Diawasi
Sebagaimana mutiara tumbuh tanpa terlihat manusia,
pertumbuhan iman kita pun sering sunyi.
Tidak semua kebaikan perlu diketahui orang lain.
2. Luka Bisa Menjadi Permata
Mutiara terbentuk dari gangguan yang dilapisi terus-menerus.
Mungkin luka kita pun sedang Allah lapisi dengan hikmah.
3. Nilai Tidak Ditentukan oleh Permukaan
Yang tampak di permukaan laut hanyalah ombak.
Permata justru berada di dasar.
Begitu pula manusia.
Yang bernilai bukan selalu yang paling terlihat.
📖 Ebook Merangkul Kecewa
“Kecewa itu bukan musuh. Tapi sinyal… bahwa ada harapan yang keliru arah, dan ada hati yang sedang butuh pulang.”
📝 Refleksi Hari Ini
-
Di bagian mana aku masih lalai?
Aku masih sering melihat proses sebagai beban, bukan sebagai pembentukan. -
Di bagian mana aku masih mengeluh?
Aku mengeluh ketika harus “dipecahkan”, padahal mungkin di situlah Allah ingin mengeluarkan mutiaraku. -
Apa kesan yang kurasakan setelah menyelam ke Surah Ar-Rahman hari ini?
Ada rasa tenang. Bahwa tidak ada luka yang sia-sia. Tidak ada tekanan yang tanpa makna.
- Insight:
Ia juga menciptakan mutiara di dalamnya.
Dan Ia tidak hanya menguji hati.
Ia juga menumbuhkan keindahan darinya.
- Komitmen:
Aku ingin berhenti mendustakan nikmat yang tersembunyi dalam luka.
Doa Penutup
Ya Allah,
jika Engkau sedang membentukku seperti mutiara,
maka kuatkan aku dalam prosesnya.
Jika ada bagian diriku yang harus “dipecahkan”
agar cahaya keluar darinya,
maka lembutkanlah hatiku untuk menerima.
Jadikanlah setiap luka sebagai jalan pulang,
dan setiap tekanan sebagai peningkatan iman.
Agar kelak, ketika Engkau bertanya,
“Nikmat mana lagi yang kamu dustakan?”
aku mampu menjawab dengan syukur.
Aamiin 🤍🌿
Jika refleksi Surah Ar-Rahman ayat 22–23 ini menguatkan hatimu, baca juga pembelajaran hari sebelumnya agar tadabbur lebih utuh.
Baca juga artikel Refleksi QS. Ar Rahman berikut ini
Day 1 : Saat Allah Menyapaku dengan Kasih, Bukan Teguran
Day 2 : Dari Tanah yang Diremehkan, Menjadi Manusia yang Dimuliakan
Day 3 : Tuhan Dua Timur, Dua Barat
Day 4 :Dua Lautan yang Bertemu, Namun Tak Pernah Melebur
FAQ
Apa makna mutiara dalam Surah Ar-Rahman ayat 22?
Mutiara melambangkan sesuatu yang berharga yang lahir dari proses panjang dan tersembunyi.
Apa hikmah ayat 23 dalam Surah Ar-Rahman?
Ayat ini mengingatkan manusia agar tidak mendustakan nikmat Allah, termasuk nikmat yang tersembunyi dalam ujian.
Pelan pelan
Ayat demi ayat bukan hanya menambah wawasan.
Ia sedang membentuk ulang cara pandangku terhadap hidup.
Dan mungkin…
versi diriku yang lebih tenang sedang lahir di sini.
Karena saat kita benar-benar memahami satu ayat,
kita tak lagi menjadi orang yang sama 🤍🌿
Jika hari ini kita belajar tentang menjaga batas, pada ayat berikutnya Allah akan —Ada momen ketika dunia terasa begitu luas… kapal besar, gunung tinggi, lautan lepas.
Rasa takjub itu bisa menjadi jalan pulang pada Allah.
Baca refleksi lengkap Surah Ar-Rahman ayat 24–25, dan biarkan hatimu kembali tenang:
🌿 The New Me – Refleksi Ar-Rahman Ayat 24–25
Jika refleksi ini membuatmu ingin belajar lebih dalam, bukan sekadar membaca tapi benar-benar dituntun memahami Al-Qur’an, aku mau kasi info ruang belajar lebih intens melalui program Exclusive Mentoring Powerful Qur’an (EMPQ).📚 Exclusive Mentoring Powerful Qur’an (EMPQ) Level 1
Jika kamu ingin berjalan bersama,
bukan sekadar ikut challenge,
tapi benar-benar membangun habit baik bersama Al-Qur’an di bulan Ramadhan…
📲 Link Join Saluran Ruang Perempuan
https://s.id/RuangPerempuan
Mari bertumbuh bersama.
Mungkin yang berubah bukan hidup kita seketika.
Tapi cara kita memaknainya.
Dan itu… sudah lebih dari cukup 🤍





Tidak ada komentar:
Posting Komentar