04 November 2026

THE BASIC OF INNER GAME | Pondasi Menata Batin: Belajar Memahami Diri Sebelum Mengubah Kehidupan | Sesi 1 IGLCA

Perjalanan Baru Selalu Dimulai dari Dalam

Ada satu hal yang semakin saya sadari ketika memasuki perjalanan belajar tentang pengembangan diri: ternyata, memahami kehidupan saja tidak cukup. Kita juga perlu memahami bagaimana diri kita bekerja ketika berhadapan dengan kehidupan.

Selama ini, kita mungkin sudah banyak belajar. Membaca buku, mengikuti kajian, menghadiri webinar, belajar tentang produktivitas, memperbaiki kebiasaan, bahkan berusaha menjadi pribadi yang lebih baik dari waktu ke waktu.

Namun, pernahkah kita bertanya mengapa sesuatu yang sudah kita pahami belum tentu mudah kita praktikkan?

Kita tahu harus bersabar, tetapi masih mudah terpancing emosi. Kita tahu perlu konsisten, tetapi sering menunda. Kita ingin membangun kebiasaan baik, tetapi justru berulang kali berhadapan dengan rasa malas, ragu, takut, atau kehilangan semangat.

Di sinilah saya mulai memahami bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari apa yang terlihat di luar. Ada sesuatu yang perlu lebih dahulu dibereskan di dalam diri.

Pertemuan pertama bersama Coach Sonny Abi Kim dalam pembelajaran Inner Game Life Coach Academy membuka ruang pemahaman baru tentang hal tersebut melalui materi The Basic of Inner Game: Pondasi Menata Batin.

Sebuah pengantar yang mengajak kita melihat kembali hubungan antara pikiran, perasaan, perilaku, dan hasil kehidupan.

Bagi saya, ini bukan sekadar belajar memahami teori tentang manusia. Ini adalah undangan untuk lebih jujur mengamati diri sendiri.

Sebab, sebelum berusaha membantu orang lain bertumbuh, bukankah sudah semestinya kita bersedia belajar memahami dan menumbuhkan diri sendiri?

1. Jangan Hanya Sibuk Memperbaiki Perilaku, Perhatikan Apa yang Terjadi di Dalam Diri

Kita sering kali fokus pada apa yang ingin diubah.

Ingin lebih produktif, lebih disiplin, lebih sabar, lebih konsisten beribadah, lebih baik dalam mendidik anak, atau lebih profesional dalam bekerja.

Lalu kita membuat target, menyusun jadwal, mencari metode, dan mencoba berbagai strategi.

Tetapi ada satu hal yang sering terlewat: bagaimana kondisi pikiran dan perasaan kita ketika hendak melakukan semua itu?

Misalnya, seseorang ingin mulai menulis. Peralatan sudah tersedia, waktu sebenarnya ada, bahkan ide pun sudah terkumpul. Namun, setiap kali hendak mulai, muncul suara dalam pikirannya:

Apakah tulisan saya cukup bagus? Siapa yang mau membaca? Rasanya saya belum pantas.

Akhirnya, niat menulis terus tertunda.

Contoh lain, kita ingin lebih dekat dengan Al-Qur'an. Kita sudah tahu keutamaannya, tetapi ketika waktu luang datang, pikiran justru sibuk memikirkan pekerjaan, urusan rumah, atau hal-hal lain yang sebenarnya bisa ditunda.

Artinya, hambatan tidak selalu berasal dari kurangnya fasilitas atau kesempatan. Tidak jarang, hambatan terbesar justru datang dari pikiran dan perasaan yang belum kita pahami.

Insight:

Terkadang kita bukan kekurangan kemampuan untuk berubah. Kita hanya belum memahami apa yang selama ini menghambat diri sendiri.

Maka, jangan buru-buru menyalahkan keadaan atau menghakimi diri sebagai pribadi yang tidak disiplin. Cobalah mengenali apa yang sedang terjadi di dalam diri sebelum memutuskan langkah berikutnya.

2. Inner Mastery Bukan Berarti Tidak Lagi Punya Emosi


Salah satu pemahaman menarik dari materi ini adalah bahwa kemampuan mengelola diri bukan berarti kita harus menjadi manusia yang tidak pernah marah, sedih, kecewa, takut, atau kehilangan semangat.

Kita tetap manusia.

Akan selalu ada kejadian yang tidak sesuai harapan. Ada perkataan yang menyentuh perasaan, sikap orang lain yang mengecewakan, rencana yang tidak berjalan, dan keadaan yang kadang membuat kita harus menarik napas lebih panjang.

Yang perlu dilatih bukan menghilangkan seluruh perasaan tersebut, melainkan meningkatkan kemampuan kita dalam menyikapinya.

Ada perbedaan antara bereaksi dan merespons.

Bereaksi sering kali berlangsung otomatis. Ada sesuatu yang tidak menyenangkan, kita langsung tersinggung, marah, membalas, atau mengambil keputusan berdasarkan emosi sesaat.

Sementara merespons membutuhkan kesadaran.

Kita memberi jeda, mengenali apa yang sedang dirasakan, memahami pikiran yang muncul, kemudian memilih sikap yang lebih tepat.

Misalnya, ketika seseorang memberikan komentar yang kurang menyenangkan terhadap pekerjaan kita.

Reaksi spontan mungkin membuat kita ingin segera membela diri atau membalas perkataannya.

Namun, ketika kita belajar merespons, kita bisa bertanya:

Apakah saya perlu menanggapi sekarang? Apakah ada masukan yang memang perlu diperbaiki? Atau saya sedang merasa tersinggung karena memaknai perkataan tersebut secara berlebihan?

Bukan berarti semua perlakuan orang lain harus dibenarkan. Kita tetap boleh menetapkan batas, menyampaikan keberatan, dan menjaga kehormatan diri.

Hanya saja, kita tidak harus menyerahkan kendali sikap kepada setiap kejadian yang datang.

Insight:

Kedewasaan bukan tentang tidak pernah terusik, tetapi tentang semakin terampil memilih sikap ketika sesuatu mengusik batin kita.

3. Memahami Rantai Perubahan: Pikiran, Perasaan, Perilaku, dan Hasil


Salah satu pondasi penting dalam The Basic of Inner Game adalah memahami bahwa hasil kehidupan berkaitan dengan perilaku, perilaku dipengaruhi perasaan, dan perasaan dipengaruhi oleh pikiran.

Sederhananya:

PIKIRAN → PERASAAN → PERILAKU → HASIL

Mari kita dekatkan dengan kehidupan sehari-hari.

Bayangkan kita memiliki pekerjaan yang harus diselesaikan.

Ketika yang muncul dalam pikiran adalah:

Pekerjaan ini terlalu berat. Sepertinya saya tidak akan sanggup.

Maka perasaan yang mungkin muncul adalah terbebani, cemas, atau malas memulai.

Dari perasaan tersebut, perilaku yang muncul bisa berupa menunda pekerjaan, mencari alasan, atau mengerjakannya sekadarnya.

Namun, coba ubah cara memaknainya:

Pekerjaan ini memang menantang, tetapi saya bisa menyelesaikannya sedikit demi sedikit. Saya tidak harus menguasai semuanya sekaligus.

Pikiran yang berbeda dapat menghadirkan perasaan yang berbeda pula. Kita mungkin menjadi lebih tenang, tertantang, dan bersedia mengambil tindakan.

Perilaku pun berubah. Kita mulai menyusun langkah, mengerjakan bagian pertama, lalu melanjutkannya.

Inilah mengapa perubahan hasil tidak cukup hanya dengan mengganti target.

Kita perlu bersedia mengevaluasi tindakan yang selama ini dilakukan. Bahkan, lebih jauh lagi, memahami pikiran dan perasaan yang mendorong tindakan tersebut.

Dalam ikhtiar, hasil yang berbeda membutuhkan kesediaan untuk melakukan sesuatu secara berbeda.

Tentu saja, sebagai seorang muslim, kita memahami bahwa hasil akhir tetap berada dalam ketetapan Allah. Tugas kita adalah memperbaiki ikhtiar, bukan mengklaim mampu mengendalikan seluruh hasil kehidupan.

Insight:

Jangan hanya bertanya, Mengapa hidup saya belum berubah?

Sesekali tanyakan juga:

Apa yang selama ini saya pikirkan, rasakan, dan lakukan sehingga saya terus menghasilkan pola yang sama?

Pertanyaan sederhana ini bisa menjadi awal perubahan yang lebih jujur.

4. Tujuh Kaidah untuk Lebih Mengenali dan Mengelola Diri

Dari pembelajaran Coach Sonny, ada tujuh kaidah yang menjadi pondasi untuk memahami cara kerja pikiran, perasaan, dan perilaku.

Mari kita terjemahkan ke dalam kehidupan sehari-hari.

Kaidah 1 — Kita memiliki kemampuan memilih pikiran, perasaan, dan tindakan.

Tidak semua kejadian bisa kita pilih. Kita tidak bisa menentukan bagaimana orang lain bersikap, bagaimana keadaan berubah, atau apakah semua rencana berjalan sesuai keinginan.

Namun, kita tetap memiliki ruang untuk memilih bagaimana menyikapinya.

Dalam perspektif Islam, ini dekat dengan makna ikhtiar: menggunakan kemampuan yang Allah berikan untuk memilih dan mengusahakan hal-hal yang baik.

Kita mungkin tidak bisa memilih semua yang datang, tetapi kita masih bisa belajar memilih apa yang akan kita lakukan setelahnya.

Kaidah 2 — Kejadian tidak sama dengan pikiran kita tentang kejadian.

Ini bagian yang menarik untuk direnungkan.

Ada kalanya kita menganggap apa yang kita pikirkan sebagai sebuah kenyataan, padahal itu baru interpretasi diri.

Misalnya, seseorang melewati kita tanpa menyapa.

Pikirannya bisa langsung menyimpulkan, Dia sekarang sombong.

Padahal mungkin saja orang tersebut sedang terburu-buru, sedang memikirkan sesuatu, atau memang tidak menyadari keberadaan kita.

Dalam materi ini dijelaskan bahwa pikiran memiliki tiga proses penyaringan informasi:

  • Deletion: menghapus atau mengabaikan sebagian informasi yang dianggap tidak penting.

  • Generalisasi: menarik kesimpulan dari beberapa pengalaman.

  • Distorsi: menghubungkan atau memberi makna tertentu pada informasi yang diterima.

Ketiganya merupakan bagian dari cara kerja pikiran. Namun, jika tidak disadari, kita bisa keliru memaknai keadaan.

Pernah merasa satu orang mengecewakan, lalu tanpa sadar menyimpulkan semua orang sama?

Atau pernah mengingat satu kesalahan seseorang bertahun-tahun, kemudian kesimpulan lama itu terus digunakan untuk menilai dirinya hari ini?

Di sinilah pentingnya memberi ruang untuk memeriksa kembali pikiran kita.

Sebab, tidak semua yang kita simpulkan adalah kenyataan yang utuh.

Kaidah 3 — Kita tidak bisa memilih semua kejadian, tetapi bisa memilih respons terhadapnya.

Ada pengalaman yang sudah terjadi dan tidak bisa diputar kembali.

Ada perkataan yang telanjur diucapkan. Ada kepercayaan yang pernah dikecewakan. Ada kesempatan yang terlewat. Ada pula keadaan yang datang tanpa pernah kita minta.

Menghabiskan energi untuk terus mengubah sesuatu yang sudah berada di luar kendali hanya akan membuat batin semakin lelah.

Dalam pembelajaran ini, Coach Sonny mengingatkan tahapan penting dalam menyikapi kejadian yang tidak kita harapkan: sabar, kemudian belajar mencapai ridha, hingga akhirnya menemukan ruang untuk bersyukur.

Sabar bukan berarti hati harus langsung merasa baik-baik saja.

Kita boleh masih sedih, tetapi tetap menjaga ucapan dan tindakan agar tidak melampaui batas.

Ridha adalah proses menerima ketetapan Allah dengan kelapangan hati.

Ketika mulai mampu melihat pelajaran di balik pengalaman tersebut, perlahan tumbuh rasa syukur.

Ini mengingatkan saya bahwa kita tidak perlu memaksa diri untuk langsung menemukan hikmah dari setiap kesulitan.

Ada proses yang perlu dijalani.

Kaidah 4 — Untuk mengubah hasil, kita perlu bersedia mengubah perilaku.

Keinginan tanpa perubahan tindakan hanya akan menjadi harapan yang terus diulang.

Ingin hubungan keluarga lebih hangat, tetapi tidak pernah menyediakan waktu untuk mendengarkan.

Ingin lebih sehat, tetapi tidak mengubah kebiasaan sehari-hari.

Ingin lebih dekat dengan Allah, tetapi tidak menyediakan ruang yang sungguh-sungguh untuk memperbaiki kualitas ibadah.

Kita tidak bisa terus melakukan hal yang sama sambil berharap mendapatkan hasil yang berbeda.

Perubahan membutuhkan tindakan nyata.

Kaidah 5 — Kita perlu menyadari dan mengenali pikiran, perasaan, serta perilaku sebelum mengelolanya.

Bagaimana mungkin kita memperbaiki sesuatu yang bahkan tidak kita sadari?

Ketika tiba-tiba merasa kesal, misalnya, jangan hanya berhenti pada kalimat, Saya sedang kesal.

Cobalah mengenali lebih jauh:

Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang saya pikirkan tentang kejadian itu? Mengapa saya memaknainya seperti ini? Perilaku apa yang muncul setelahnya?

Kesadaran adalah langkah awal untuk melakukan perubahan.

Kaidah 6 — Kita dapat memengaruhi hasil, tetapi tidak sepenuhnya mengendalikan hasil.

Ini penting agar kita tidak terjebak dalam tuntutan untuk mengendalikan segala sesuatu.

Kita bisa berusaha memperbaiki hubungan, tetapi tidak bisa memaksa orang lain berubah.

Kita bisa bekerja dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak bisa menjamin semua usaha langsung membuahkan hasil.

Kita bisa mendidik anak sebaik mungkin, tetapi tetap ada proses kehidupan yang harus mereka jalani sendiri.

Ada wilayah ikhtiar yang menjadi tanggung jawab kita, dan ada wilayah hasil yang harus kita serahkan kepada Allah.

Maka, lakukan bagian kita dengan sebaik-baiknya tanpa menjadikan hasil sebagai satu-satunya ukuran keberhasilan.

Kaidah 7 — Jangan hanya mengandalkan kemampuan diri sendiri. Libatkan Allah dalam setiap proses.

Ini menjadi pengingat yang sangat penting.

Sebanyak apa pun ilmu yang kita pelajari, tetap ada keterbatasan dalam diri manusia.

Kita bisa mengetahui cara mengelola emosi, memahami pola pikir, dan menyusun strategi perubahan. Namun, untuk benar-benar mampu menjalankannya secara konsisten, kita tetap membutuhkan pertolongan Allah.

Sebab, hati manusia berada dalam genggaman-Nya.

Ilmu membantu kita memahami jalan. Ikhtiar membuat kita melangkah. Namun, taufik Allah-lah yang memudahkan kita untuk menjalankannya.

Jangan sampai semakin banyak belajar justru membuat kita semakin merasa mampu mengandalkan diri sendiri.

Semakin memahami diri, semestinya semakin sadar bahwa kita membutuhkan Allah.

5. Belajar Mengubah Makna, Bukan Terus-Menerus Menyalahkan Keadaan

Ada satu keterampilan yang juga diperkenalkan dalam materi ini, yaitu reframing.

Secara sederhana, reframing adalah belajar melihat sebuah kejadian melalui sudut pandang atau pemaknaan yang berbeda.

Bukan mengubah fakta, bukan pula berpura-pura bahwa sesuatu yang menyakitkan tidak pernah terjadi.

Melainkan memeriksa apakah makna yang selama ini kita berikan terhadap suatu kejadian sudah tepat.

Contohnya:

Ketika seseorang menegur kita di grup percakapan, kita mungkin langsung berpikir:

Dia sengaja mempermalukan saya. Dia tidak menghargai saya.

Pikiran tersebut bisa memunculkan rasa marah dan dorongan untuk membalas.

Namun, kita bisa mencoba melihat kemungkinan lain:

Mungkin dia belum memahami cara menyampaikan teguran dengan lebih baik. Saya bisa menyampaikan keberatan dengan tenang tanpa harus membalas dengan cara yang sama.

Kejadiannya belum tentu berubah. Orang tersebut juga belum tentu mengubah sikapnya.

Tetapi kita sudah memberikan ruang bagi diri sendiri untuk merespons dengan lebih sehat.

Dalam kehidupan, kemampuan ini sangat berguna, terutama ketika berhadapan dengan perbedaan pendapat, konflik, kritik, dan hubungan yang tidak selalu berjalan sesuai harapan.

Namun, perlu diingat, reframing bukan berarti membenarkan perilaku yang merugikan atau mengabaikan batas diri.

Kita tetap bisa tegas tanpa harus kehilangan ketenangan.

Insight:

Kadang-kadang yang perlu kita ubah bukan kejadiannya, melainkan cara kita memaknai kejadian tersebut agar tidak terus-menerus melukai diri sendiri.

6. Latihan Sederhana: Belajar Mengamati Diri Sebelum Bereaksi

Setelah memahami berbagai kaidah tersebut, saya merasa ada satu hal yang perlu mulai dibiasakan: jangan hanya membaca dan mengangguk ketika menemukan teori yang terasa benar.

Cobalah membawanya ke dalam kehidupan nyata.

Sebab, pengetahuan baru akan menjadi keterampilan ketika dilatih berulang-ulang.

Berikut latihan sederhana yang bisa dilakukan setiap hari.

Latihan 1 — Mengenali Pikiran dan Perasaan

Luangkan beberapa menit ketika merasakan emosi yang cukup kuat.

Tuliskan:

  1. Kejadian apa yang baru saja saya alami?

  2. Apa yang langsung muncul dalam pikiran saya?

  3. Perasaan apa yang kemudian muncul?

  4. Bagaimana saya merespons kejadian tersebut?

  5. Apakah ada cara pandang lain yang lebih jernih dan proporsional?

Contoh:

  • Kejadian: Pesan saya belum dibalas.

  • Pikiran: Sepertinya saya tidak dianggap penting.

  • Perasaan: Kecewa dan kesal.

  • Perilaku: Menarik diri dan enggan berkomunikasi.

  • Pemaknaan baru: Bisa jadi orang tersebut sedang memiliki kesibukan. Saya tidak perlu buru-buru menyimpulkan sesuatu yang belum saya ketahui.

Latihan ini bukan untuk menyangkal perasaan, tetapi untuk mengenali hubungan antara kejadian, pikiran, perasaan, dan tindakan.

Latihan 2 — Berhenti Sejenak Sebelum Merespons

Ketika menghadapi sesuatu yang memancing emosi, jangan langsung mengambil keputusan.

Berikan jeda.

Tarik napas, kenali perasaan yang muncul, lalu tanyakan kepada diri sendiri:

Apakah respons saya saat ini akan membawa kebaikan, atau justru memperbesar persoalan?

Tidak semua hal membutuhkan jawaban saat itu juga.

Ada kalanya diam sejenak adalah bentuk pengendalian diri yang jauh lebih bijaksana.

Latihan 3 — Mengubah Satu Kebiasaan dari Dalam

Pilih satu kebiasaan yang ingin diperbaiki.

Misalnya, ingin lebih konsisten membaca Al-Qur'an.

Jangan hanya membuat target membaca satu juz sehari.

Kenali terlebih dahulu:

  • Apa yang selama ini saya pikirkan tentang kebiasaan tersebut?

  • Perasaan apa yang muncul ketika hendak memulainya?

  • Apa yang membuat saya sering menunda?

  • Pemaknaan apa yang bisa saya bangun agar lebih bersemangat?

  • Tindakan kecil apa yang realistis untuk saya mulai hari ini?

Mulailah dari sesuatu yang bisa dilakukan secara konsisten.

Bukan sekadar membangun target yang terlihat hebat, tetapi membangun hubungan yang lebih baik dengan prosesnya.

7. The New Me: Bertumbuh Tanpa Kehilangan Kesadaran untuk Bersandar

Dari pertemuan pertama ini, saya membawa pulang satu pemahaman penting: perubahan diri tidak cukup hanya dengan menambah pengetahuan tentang kehidupan. Kita juga perlu belajar mengenali apa yang berlangsung di dalam diri sendiri.

Kita perlu memahami mengapa pikiran tertentu muncul, bagaimana perasaan memengaruhi tindakan, dan bagaimana tindakan yang terus diulang akhirnya membentuk pola kehidupan.

Namun, ada satu hal yang ingin saya garis bawahi.

Belajar mengelola diri bukan berarti kita harus mampu mengendalikan segala sesuatu.

Justru semakin belajar, kita semestinya semakin memahami batas kemampuan manusia.

Ada hal yang perlu diusahakan. Ada yang perlu diperbaiki. Ada yang perlu dilepaskan. Dan ada yang memang harus diserahkan kepada Allah.

Bagi saya, inilah salah satu makna penting perjalanan The New Me.

Bukan tentang menjadi manusia baru yang tidak pernah salah, tidak pernah sedih, atau selalu berhasil mengendalikan keadaan.

Melainkan menjadi pribadi yang semakin sadar terhadap dirinya, semakin bijaksana dalam memilih respons, semakin bertanggung jawab atas ikhtiarnya, dan semakin kuat dalam menyandarkan harapan kepada Allah.

Sebab, bertumbuh bukan berarti semakin merasa mampu melakukan semuanya sendiri.

Boleh jadi, salah satu tanda kedewasaan batin justru ketika kita semakin mengenali keterbatasan diri, tanpa kehilangan keberanian untuk terus belajar dan berikhtiar.

Refleksi Spiritual: Ikhtiar, Taufik, dan Hati yang Bersandar

Rasulullah ﷺ mengajarkan sebuah prinsip yang sangat relevan dengan perjalanan menata batin:

“Bersemangatlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan janganlah engkau lemah.”

(HR. Muslim, no. 2664)

Tiga pesan ini terasa saling melengkapi.

Ada semangat untuk mengusahakan yang bermanfaat. Ada kesadaran untuk meminta pertolongan Allah. Dan ada ajakan untuk tidak menyerah dalam menjalani proses.

Kita belajar memperbaiki pikiran, tetapi tetap memohon agar Allah membimbingnya.

Kita belajar mengelola perasaan, tetapi tetap meminta agar Allah menjaga hati.

Kita belajar memperbaiki perilaku, tetapi tetap berharap Allah memberikan taufik agar ilmu yang dipelajari benar-benar menjadi amal.

Karena pada akhirnya, bukan sekadar seberapa banyak yang kita ketahui, melainkan seberapa jauh ilmu itu membantu kita menjadi pribadi yang lebih baik di hadapan Allah.

Renungan: Sebelum Mengubah Kehidupan, Mari Mengenali Diri

Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memikirkan apa yang perlu diubah dari keadaan.

Ingin orang lain lebih memahami. Ingin lingkungan lebih mendukung. Ingin pekerjaan lebih mudah. Ingin kehidupan berjalan sesuai harapan.

Tidak ada yang salah dengan memiliki harapan.

Namun, di tengah semua itu, jangan lupa menyediakan waktu untuk melihat ke dalam diri sendiri.

Apa yang sedang kita pikirkan?
Apa yang sedang kita rasakan?
Bagaimana semua itu memengaruhi tindakan kita?

Sebab, perubahan yang lebih bermakna sering kali dimulai dari kesediaan untuk berhenti sejenak, mengenali diri, lalu memilih langkah yang lebih baik.

The New Me bukan tentang menjadi orang lain. Ia adalah perjalanan untuk semakin mengenali diri, memperbaiki ikhtiar, dan kembali menempatkan Allah sebagai tempat bersandar.

Pelan-pelan. Tidak harus sempurna hari ini. Yang penting, semakin sadar, semakin terarah, dan tidak berhenti belajar.


Sifillah | Ruang Perempuan
Terhubung • Tangguh • Tumbuh

Catatan perjalanan belajar — The New Me
Inner Game Life Coach Academy | The Basic of Inner Game

Insight utama yang bisa dibawa pulang

Menurut saya, ada tiga pesan yang paling kuat dari pertemuan pertama ini dan layak menjadi benang merah branding The New Me.

  1. Kesadaran sebelum perubahan. Kita tidak bisa mengelola sesuatu yang belum kita sadari.

  2. Tanggung jawab tanpa harus mengendalikan segalanya. Kita bertanggung jawab atas ikhtiar dan respons, bukan atas seluruh hasil maupun pikiran orang lain.

  3. Ilmu yang disertai ketergantungan kepada Allah. Semakin belajar mengelola diri, semakin sadar bahwa kita tetap membutuhkan taufik-Nya.

Latihan personal setelah pertemuan pertama

Saran latihan tambahan untuk dijadikan jurnal perjalanan belajar belajar bersama Sifillah.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

UNDERSTANDING NEGATIVE THOUGHT PATTERNS | Mengenali dan Memahami Pola Pikiran Negatif | Sesi 2 IGLCA

The New Me Series| Perjalanan Menata Batin Bersama Coach Sonny Abi Kim Setelah Belajar Memilih Pikiran, Kini Saatnya Mengenali Polanya Pada ...

Popular Posts