(QS. Ar-Ra'd: 11)
Pernahkah Kita Menyalahkan Takdir?
Pernahkah kita duduk sendirian di penghujung hari, lalu menghela napas panjang sambil berkata,
"Mungkin memang bukan takdirku."
Atau ketika melihat orang lain berhasil, hati kecil kita berbisik,
"Dia memang berbakat. Aku tidak."
Ada pula yang berkata,
"Kayaknya aku tidak akan pernah bisa."
"Sudahlah... hidupku memang begini."
Kalimat-kalimat itu terdengar sederhana. Bahkan mungkin kita mengucapkannya tanpa berpikir panjang.
Namun, tahukah kita?
Kalimat yang terus-menerus diulang kepada diri sendiri lambat laun berubah menjadi sebuah keyakinan.
Dan keyakinan yang dipelihara bertahun-tahun akan membentuk cara kita melihat dunia, cara kita mengambil keputusan, bahkan menentukan seberapa jauh kita berani melangkah.
Ironisnya, banyak orang mengira yang menghambat hidupnya adalah takdir, padahal yang lebih dahulu menghentikan langkahnya adalah cara pandangnya sendiri.
Takdir belum berbicara, tetapi ia sudah menyerah.
Allah belum menutup pintu, tetapi ia sudah berhenti mengetuk.
Kesempatan belum benar-benar hilang, tetapi ia lebih dahulu mengatakan, "Aku tidak mampu."
Inilah yang dalam psikologi dikenal sebagai self-limiting beliefs, yaitu keyakinan yang membatasi potensi diri. Dalam Islam, kondisi ini berkaitan erat dengan cara seseorang memandang Allah, memandang dirinya sebagai hamba, dan memaknai setiap ketetapan-Nya.
Kajian Kang Novie mengajak kita merenungkan sebuah pertanyaan yang sangat mendasar:
Jangan-jangan bukan takdir yang menghambat kita, tetapi keyakinan yang selama ini kita bangun di dalam hati.
Ketika Masalah Sebenarnya Bukan Masalah
Dua orang bisa mengalami peristiwa yang sama, tetapi menghasilkan kehidupan yang sangat berbeda.
Dua orang kehilangan pekerjaan.
Yang pertama berkata,
"Hidupku selesai."
Ia mulai menyalahkan keadaan, menyalahkan ekonomi, menyalahkan orang lain, bahkan perlahan menyalahkan takdir.
Sementara orang kedua berkata,
"Mungkin Allah sedang mengarahkan aku ke jalan yang lebih baik."
Ia tetap sedih. Ia tetap menangis. Namun setelah itu ia bangkit, memperbaiki diri, belajar keterampilan baru, memperbanyak doa, dan terus berikhtiar.
Beberapa tahun kemudian, kehidupan keduanya sangat berbeda.
Apakah karena Allah membeda-bedakan mereka?
Belum tentu.
Bisa jadi karena cara mereka memandang sebuah peristiwa berbeda.
Peristiwa yang sama menghasilkan makna yang berbeda.
Makna yang berbeda melahirkan tindakan yang berbeda.
Tindakan yang berbeda menghasilkan masa depan yang berbeda.
Karena itu, sering kali yang perlu diubah bukanlah peristiwanya, melainkan cara kita memaknainya.
Blaming: Kebiasaan yang Diam-Diam Merampas Masa Depan
Salah satu kalimat Kang Novie yang sangat menarik adalah:
"Orang yang suka menyalahkan adalah orang yang belum mengambil tanggung jawab."
Dalam dunia psikologi, sikap ini dikenal sebagai external locus of control, yaitu kecenderungan meyakini bahwa hidup kita sepenuhnya ditentukan oleh faktor di luar diri.
Mereka selalu memiliki alasan.
"Aku gagal karena orang tuaku."
"Aku tidak berkembang karena lingkunganku."
"Aku tidak sukses karena ekonomi."
"Aku seperti ini karena masa laluku."
Memang benar, lingkungan memiliki pengaruh.
Masa lalu bisa meninggalkan luka.
Orang lain bisa menyakiti kita.
Tetapi jika seluruh kehidupan kita terus disandarkan kepada faktor luar, maka kita sedang menyerahkan kendali hidup kepada sesuatu yang tidak bisa kita ubah.
Padahal Islam mengajarkan konsep yang sangat indah.
Kita tidak diminta bertanggung jawab atas semua peristiwa yang menimpa kita.
Tetapi kita bertanggung jawab atas respons yang kita pilih setelah peristiwa itu terjadi.
Inilah makna take responsibility.
Bukan menyalahkan diri.
Bukan pula menyalahkan takdir.
Melainkan berkata,
"Ya Allah, aku tidak bisa mengubah masa lalu. Tetapi aku ingin memperbaiki langkahku mulai hari ini."
Saat seseorang mulai mengambil tanggung jawab atas dirinya, sesungguhnya ia sedang membuka pintu perubahan.
Perubahan Besar Selalu Dimulai dari Diri Sendiri
Ada sebuah pelajaran sederhana namun sangat dalam.
Bayangkan ada dua orang suami istri.
Keduanya sering bertengkar.
Sang suami berharap istrinya berubah.
Sang istri berharap suaminya berubah.
Tahun demi tahun berlalu.
Tidak ada yang berubah.
Mengapa?
Karena masing-masing sibuk memperbaiki orang lain.
Kini bayangkan keadaan yang berbeda.
Suami berkata,
"Aku akan memperbaiki diriku."
Istri berkata,
"Aku juga akan memperbaiki diriku."
Ketika dua orang berkomitmen memperbaiki dirinya sendiri, kualitas hubungan akan berubah secara alami.
Prinsip ini berlaku untuk semua bidang kehidupan.
Di kantor.
Dalam dakwah.
Dalam bisnis.
Dalam pendidikan anak.
Dalam organisasi.
Perubahan paling kuat bukan terjadi ketika kita berhasil mengendalikan orang lain.
Tetapi ketika kita mulai mengendalikan diri sendiri.
Allah berfirman:
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sehingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri."
(QS. Ar-Ra'd: 11)
Ayat ini bukan sekadar motivasi.
Ia adalah hukum kehidupan.
Allah mengajarkan bahwa perubahan dimulai dari dalam, bukan dari luar.
Meluruskan Niat: Pondasi Sebelum Mengubah Apa Pun
Sebelum berbicara tentang keyakinan, ikhtiar, atau kesuksesan, Kang Novie mengingatkan satu hal yang sering terlupakan:
Luruskan niat.
Karena niat adalah fondasi dari setiap perubahan.
Rasulullah ﷺ bersabda:
"Sesungguhnya setiap amal tergantung pada niatnya."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Kita sering ingin memperbaiki diri agar lebih sukses.
Lebih kaya.
Lebih dihargai.
Lebih dikenal.
Padahal seorang mukmin memiliki orientasi yang jauh lebih tinggi.
Ia memperbaiki dirinya karena ingin menjadi hamba yang lebih baik di hadapan Allah.
Belajar menjadi ibadah.
Bekerja menjadi ibadah.
Menjadi orang tua menjadi ibadah.
Membangun bisnis menjadi ibadah.
Menulis menjadi ibadah.
Bahkan memperbaiki kesehatan pun menjadi ibadah jika diniatkan agar tubuh lebih kuat dalam beramal.
Ketika niat sudah lurus, proses perubahan tidak lagi semata-mata mengejar hasil, tetapi menjadi bagian dari perjalanan menuju ridha Allah.
Inilah yang membuat seorang mukmin tetap tenang ketika hasil belum sesuai harapan. Ia tahu bahwa Allah menilai keikhlasan, kesungguhan, dan prosesnya.
Mengapa Kita Sering Meragukan Diri Sendiri?
Ada satu kalimat yang sangat sering muncul di dalam pikiran banyak orang.
"Kayaknya aku tidak bisa."
"Kayaknya terlalu sulit."
"Orang lain mungkin mampu, tapi bukan aku."
Kalimat ini tampak sepele.
Namun sebenarnya ia adalah bibit dari sebuah keyakinan yang membatasi.
Semakin sering seseorang mengulanginya, semakin kuat pula otaknya membangun "jalur keyakinan" bahwa dirinya memang tidak mampu.
Dalam ilmu neuroscience, otak memiliki kecenderungan memperkuat pola pikir yang sering diulang. Semakin sering sebuah pikiran dipikirkan, semakin mudah otak menganggapnya sebagai kebenaran.
Akibatnya, seseorang mulai menghindari tantangan, enggan mencoba hal baru, takut gagal, dan hanya bertahan di zona nyaman. Ia tidak kekurangan potensi, tetapi kekurangan keberanian untuk melangkah.
Sayangnya, sikap ini sering dibungkus dengan alasan yang terdengar bijak, seperti "aku realistis" atau "aku hanya tahu batas kemampuanku". Padahal yang terjadi adalah ia sedang membangun pagar-pagar yang tidak pernah Allah pasang dalam hidupnya.
Allah tidak pernah meminta kita memastikan hasil sebelum berusaha. Allah hanya meminta kita berikhtiar dengan sungguh-sungguh, lalu menyerahkan hasil kepada-Nya.
Karena itu, ukuran seorang mukmin bukanlah "aku pasti berhasil", melainkan "aku akan berusaha sebaik mungkin karena Allah bersamaku."
Refleksi Bagian 1
Sebelum melanjutkan membaca, berhentilah sejenak dan tanyakan kepada diri sendiri:
- Berapa kali dalam seminggu terakhir saya menyalahkan keadaan?
- Kalimat apa yang paling sering saya ucapkan ketika menghadapi masalah?
- Apakah saya lebih sering berkata "saya tidak bisa" daripada "Bismillah, saya akan mencoba"?
- Apakah saya sedang membatasi diri dengan ukuran kemampuan saya sendiri, ataukah saya sudah melibatkan Allah dalam setiap ikhtiar?
Mungkin perubahan besar dalam hidup tidak dimulai ketika keadaan berubah.
Mungkin ia dimulai ketika kita berhenti berkata, "Aku tidak mampu," lalu menggantinya dengan kalimat yang lebih indah:
"Bismillah, aku memang lemah. Tetapi Allah Mahakuat. Aku akan melangkah, dan aku percaya pertolongan-Nya akan datang pada waktu yang paling tepat."
🍃 Let It Flow – 40 Hari Pemulihan Jiwa
Sebuah perjalanan 40 hari untuk membantu Anda pulih dari luka, menjernihkan jiwa, dan menemukan kembali ketenangan dalam menjalani hidup.
✨ Daftar Sekarang
Belief System Menurut Islam: Mengapa Cara Pandang kepada Allah Menentukan Cara Kita Menjalani Hidup
"Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku."
(HR. Bukhari dan Muslim)
Pernahkah Kita Bertanya, Mengapa Dua Orang Berdoa dengan Cara yang Berbeda?
Bayangkan ada dua orang yang sedang menghadapi ujian yang sama.
Keduanya sedang mencari pekerjaan.
Keduanya sama-sama mengirim lamaran.
Keduanya sama-sama berdoa.
Namun, suasana hati mereka sangat berbeda.
Orang pertama berdoa dengan hati yang penuh kecemasan.
"Ya Allah... entahlah. Mungkin aku memang tidak akan diterima. Mungkin rezekiku memang kecil."
Sedangkan orang kedua berdoa dengan penuh harap.
"Ya Allah, Engkau Maha Mengetahui apa yang terbaik. Aku akan berusaha semampuku, lalu aku percaya Engkau telah menyiapkan rezeki terbaik pada waktu terbaik."
Doanya mungkin hampir sama.
Usahanya mungkin hampir sama.
Tetapi keyakinannya berbeda.
Dan keyakinan itu akan memengaruhi cara mereka berpikir, bertindak, menghadapi penolakan, hingga bertahan ketika proses terasa panjang.
Di sinilah kita mulai memahami bahwa believe system bukan sekadar teori psikologi. Dalam Islam, ia berkaitan erat dengan iman kepada Allah, husnuzan (berprasangka baik kepada Allah), dan tawakal.
Belief bukan hanya tentang apa yang kita pikirkan tentang diri sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kita mengenal Rabb kita.
Apa Itu Belief System?
Secara sederhana, belief system adalah kumpulan keyakinan yang menjadi "kacamata" seseorang dalam melihat kehidupan.
Ia bekerja seperti lensa.
Lensa yang bening akan membuat kita melihat dunia dengan jernih.
Sebaliknya, lensa yang retak akan membuat segala sesuatu tampak buruk, meskipun kenyataannya tidak selalu demikian.
Belief menentukan bagaimana seseorang memaknai setiap peristiwa.
Ketika gagal, ada yang berkata,
"Ini akhir dari segalanya."
Ada pula yang berkata,
"Ini pelajaran agar aku menjadi lebih baik."
Peristiwanya sama.
Tetapi keyakinannya berbeda.
Dalam psikologi, belief terbentuk dari pengalaman hidup, pola asuh, lingkungan, serta pengulangan pikiran yang terus-menerus.
Namun Islam mengajarkan sesuatu yang lebih dalam.
Belief seorang mukmin seharusnya dibangun di atas wahyu, bukan semata-mata pengalaman.
Mengapa?
Karena pengalaman manusia terbatas.
Sedangkan ilmu Allah tidak berbatas.
Jika kita membangun keyakinan hanya berdasarkan pengalaman, maka ketika mengalami kegagalan kita akan mudah berkata,
"Aku memang tidak berbakat."
Tetapi jika keyakinan dibangun berdasarkan wahyu, maka kita akan berkata,
"Allah pasti memiliki hikmah yang belum aku pahami."
Masalah Terbesar Bukanlah Lemahnya Kemampuan, tetapi Lemahnya Keyakinan
Kang Novie menyampaikan sebuah pemikiran yang sangat menarik.
"Orang yang membatasi dirinya adalah orang yang tidak memiliki keyakinan bahwa Allah sedang mengantarkannya menuju takdir terbaik."
Kalimat ini layak kita renungkan.
Mengapa?
Karena sering kali kita mengukur kemungkinan hidup hanya berdasarkan kemampuan diri.
Kita berkata,
"Aku tidak punya modal."
"Aku tidak pintar."
"Aku tidak punya relasi."
"Aku bukan siapa-siapa."
Semua ukuran itu benar.
Kita memang memiliki keterbatasan.
Islam tidak mengajarkan kita menjadi orang yang sombong.
Namun yang sering terlupakan adalah...
Mengapa kita hanya menghitung kemampuan diri, tetapi lupa menghitung kebesaran Allah?
Bukankah Allah adalah Al-Qadir, Yang Mahakuasa?
Bukankah Allah adalah Ar-Razzaq, Yang Maha Memberi Rezeki?
Bukankah Allah adalah Al-Fattah, Yang Maha Membukakan jalan?
Ketika seseorang hanya melihat keterbatasannya sendiri, ia akan merasa hidup penuh jalan buntu.
Tetapi ketika ia mulai melihat kebesaran Allah, ia akan menemukan harapan di setiap kesulitan.
Kita Memang Lemah, dan Itu Bukan Masalah
Sering kali motivasi modern berkata,
"Percayalah pada dirimu sendiri."
Kalimat ini tidak sepenuhnya salah.
Namun bagi seorang mukmin, ada kalimat yang jauh lebih utuh.
Percayalah kepada Allah, lalu optimalkan dirimu.
Mengapa?
Karena Al-Qur'an berkali-kali mengingatkan bahwa manusia memang diciptakan dalam keadaan lemah.
Allah berfirman:
"Allah hendak memberikan keringanan kepadamu, karena manusia diciptakan bersifat lemah."
(QS. An-Nisa': 28)
Menyadari kelemahan diri bukan berarti rendah diri.
Justru dari sanalah lahir kerendahan hati.
Kita tidak lagi bergantung pada kecerdasan kita.
Tidak bergantung pada jabatan.
Tidak bergantung pada relasi.
Tidak pula bergantung pada kekayaan.
Melainkan bergantung kepada Allah.
Inilah perbedaan antara percaya diri (self-confidence) dan percaya kepada Allah (God-confidence).
Percaya diri yang tidak disertai tawakal mudah berubah menjadi kesombongan.
Sebaliknya, tawakal tanpa ikhtiar dapat berubah menjadi kemalasan.
Islam mengajarkan keseimbangan.
Berusaha sekuat tenaga.
Lalu menyadari bahwa hasil sepenuhnya berada di tangan Allah.
Doa yang Mengubah Cara Pandang Seorang Mukmin
Di tengah kajian, Kang Novie mengingatkan sebuah doa yang diajarkan Rasulullah ﷺ.
Doa ini sangat singkat, tetapi mengandung fondasi belief system seorang mukmin.
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ بِرَحْمَتِكَ أَسْتَغِيثُ
"Wahai Dzat Yang Maha Hidup, Wahai Dzat Yang Maha Menegakkan seluruh makhluk, hanya dengan rahmat-Mu aku memohon pertolongan."
Kemudian dilanjutkan dengan doa yang sering terlupakan.
أَصْلِحْ لِي شَأْنِي كُلَّهُ، وَلَا تَكِلْنِي إِلَى نَفْسِي طَرْفَةَ عَيْنٍ
"Perbaikilah seluruh urusanku, dan jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri walaupun hanya sekejap mata."
Perhatikan betapa indahnya doa ini.
Rasulullah ﷺ tidak mengajarkan kita berkata,
"Ya Allah, buat aku mampu melakukan semuanya sendiri."
Justru beliau mengajarkan sebaliknya.
"Jangan serahkan aku kepada diriku sendiri."
Mengapa?
Karena manusia, sekuat apa pun, tetap memiliki keterbatasan.
Kita bisa salah mengambil keputusan.
Kita bisa tertipu oleh emosi.
Kita bisa keliru membaca keadaan.
Kita hanya mampu memprediksi.
Sedangkan Allah mengetahui seluruh kemungkinan yang akan terjadi.
Ketika doa ini benar-benar hidup dalam hati, seseorang akan menjalani hidup dengan jauh lebih tenang.
Ia tetap menyusun rencana.
Tetap bekerja keras.
Tetap belajar.
Tetap berusaha.
Namun di balik semua itu, ada pengakuan yang sangat indah:
"Ya Allah, aku sudah berusaha. Sekarang Engkau yang rapikan seluruh urusanku."
Bukankah sering kali yang membuat kita lelah bukan pekerjaannya?
Melainkan keinginan untuk mengendalikan sesuatu yang memang bukan wilayah kita.
Jangan Menyandarkan Ikhtiar kepada Diri Sendiri
Inilah keseimbangan yang sering hilang.
Ada orang yang berkata,
"Yang penting kerja keras."
Ada pula yang berkata,
"Yang penting doa."
Padahal Islam tidak mengajarkan salah satunya.
Islam mengajarkan keduanya berjalan bersama.
Kita diperintahkan berikhtiar sebaik mungkin.
Namun ikhtiar itu tidak boleh menjadi tempat bersandar.
Tempat bersandar hanyalah Allah.
Bayangkan seseorang yang hendak menyeberangi lautan.
Ia memiliki kapal terbaik.
Kompas terbaik.
Peta terbaik.
Tetapi lautan tetap memiliki ombak yang tidak bisa ia kendalikan.
Begitulah kehidupan.
Ikhtiar adalah kapal.
Ilmu adalah kompas.
Perencanaan adalah peta.
Tetapi arah angin tetap berada dalam kekuasaan Allah.
Karena itu, orang beriman akan bekerja keras tanpa menjadi sombong ketika berhasil.
Dan ketika gagal, ia tidak hancur.
Sebab sejak awal ia sadar bahwa hasil bukan miliknya.
Hadits yang Menguatkan Belief System Seorang Mukmin
Rasulullah ﷺ mengajarkan doa yang sangat dianjurkan ketika seseorang keluar rumah.
بِسْمِ اللهِ، تَوَكَّلْتُ عَلَى اللهِ، وَلَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ إِلَّا بِاللهِ
"Dengan nama Allah, aku bertawakal kepada Allah. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan pertolongan Allah."
Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa orang yang membaca doa ini akan dikatakan kepadanya:
"Engkau telah diberi petunjuk, telah dicukupi, dan telah dilindungi."
(HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Perhatikan urutannya.
Diberi petunjuk.
Karena sebelum membutuhkan hasil, kita membutuhkan arah yang benar.
Dicukupi.
Bukan selalu diberi semua yang diinginkan.
Tetapi diberi kecukupan sesuai kebutuhan.
Inilah konsep yang sangat indah.
Sering kali nafsu kita ingin terus mengejar lebih.
Lebih banyak.
Lebih tinggi.
Lebih besar.
Padahal yang benar-benar dibutuhkan manusia bukanlah "lebih", melainkan cukup.
Ketika Allah mencukupkan, hati menjadi tenang meskipun harta belum melimpah.
Ketika Allah mencukupkan, seseorang tetap merasa kaya meskipun hidup sederhana.
Karena kekayaan sejati bukan terletak pada banyaknya yang dimiliki, tetapi pada lapangnya hati dalam menerima pemberian Allah.
Refleksi Bagian 2
Renungkan beberapa pertanyaan berikut:
- Ketika menghadapi masalah, apakah yang pertama kali saya lihat adalah keterbatasan diri atau kebesaran Allah?
- Apakah selama ini saya lebih banyak bergantung pada kemampuan saya daripada kepada pertolongan Allah?
- Jika Allah benar-benar sedang mengatur hidup saya dengan kasih sayang-Nya, keputusan apa yang akan saya ambil secara berbeda mulai hari ini?
- Apakah saya sudah membiasakan doa, "Ya Hayyu Ya Qayyum...", bukan hanya di lisan, tetapi juga dalam keyakinan?
Mungkin selama ini kita terlalu sibuk memperkuat kemampuan, tetapi lupa memperkuat tempat bersandar.
Padahal ketika hati benar-benar bersandar kepada Allah, kemampuan yang terbatas pun bisa melahirkan hasil yang tidak pernah kita bayangkan.
Takdir, Tawakal, dan Rahasia Ketenangan Hati: Ketika Allah Lebih Dahulu Mengetahui Jalan Pulang Kita
"...Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal ia buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui."
(QS. Al-Baqarah: 216)
Ketika Kita Mengira Takdir Sedang Menghalangi
Ada masa dalam hidup ketika doa terasa belum menemukan jawabannya.
Kita sudah belajar dengan sungguh-sungguh, tetapi belum diterima di kampus impian.
Sudah bekerja keras, tetapi usaha belum berkembang.
Sudah menjaga hubungan, tetapi tetap harus kehilangan.
Sudah berdoa setiap malam, tetapi jalan keluar belum juga terlihat.
Pada saat seperti itu, manusia sering kali membuat kesimpulan terlalu cepat.
"Mungkin Allah tidak mengabulkan."
"Mungkin memang bukan rezekiku."
"Mungkin takdirku memang seperti ini."
Padahal...
yang kita lihat hanyalah satu halaman, sedangkan Allah sedang menulis seluruh buku kehidupan kita.
Kita hanya melihat hari ini.
Allah melihat masa lalu, masa kini, dan masa depan sekaligus.
Kita hanya melihat satu jalan yang tertutup.
Allah melihat puluhan jalan lain yang bahkan belum terpikir oleh kita.
Inilah mengapa seorang mukmin tidak boleh menjadikan keterbatasan pandangannya sebagai ukuran kebijaksanaan Allah.
Allah Mengetahui Segala Sesuatu, Bahkan Sebelum Kita Memintanya
Salah satu pondasi terbesar dalam membangun belief system menurut Islam adalah meyakini bahwa ilmu Allah meliputi segala sesuatu.
Bukan sekadar mengetahui apa yang sedang terjadi.
Tetapi mengetahui apa yang telah terjadi.
Apa yang sedang terjadi.
Dan apa yang akan terjadi.
Allah berfirman,
"Tidakkah engkau mengetahui bahwa Allah mengetahui apa yang ada di langit dan di bumi? Sesungguhnya semua itu telah tertulis dalam sebuah Kitab. Sesungguhnya yang demikian itu sangat mudah bagi Allah."
(QS. Al-Hajj: 70)
Ayat ini mengajarkan bahwa kehidupan kita tidak berjalan secara acak.
Tidak ada kejadian yang "kebetulan".
Tidak ada pertemuan yang sia-sia.
Tidak ada kehilangan yang luput dari pengetahuan Allah.
Semuanya berada dalam ilmu-Nya.
Semuanya berada dalam pengaturan-Nya.
Ini bukan berarti manusia tidak perlu berusaha.
Justru karena Allah mengetahui segalanya, maka kita dapat melangkah dengan hati yang tenang.
Kita tidak sedang berjalan sendirian.
Ada Rabb yang mengetahui jalan sebelum kita melewatinya.
Semua Sudah Ditulis, Tetapi Mengapa Kita Tetap Harus Berusaha?
Pertanyaan ini sering muncul.
Kalau semuanya sudah ditentukan Allah, mengapa kita masih harus berikhtiar?
Jawabannya sederhana.
Karena Allah juga telah menakdirkan bahwa hasil terbaik sering kali datang melalui ikhtiar terbaik.
Takdir bukan alasan untuk berhenti.
Takdir justru alasan untuk terus melangkah tanpa dihantui rasa takut.
Ibarat seorang petani.
Ia tahu bahwa hasil panen berada di tangan Allah.
Tetapi apakah karena itu ia berhenti menanam?
Tidak.
Ia tetap mengolah tanah.
Menabur benih.
Menyiram tanaman.
Merawatnya setiap hari.
Kemudian ia menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Inilah makna tawakal yang benar.
Tawakal bukan berhenti berusaha.
Tawakal adalah berhenti mengendalikan hasil yang memang bukan milik kita.
Kisah Ummu Hajar: Ikhtiar yang Tidak Pernah Sia-Sia
Tidak ada kisah yang lebih indah untuk menggambarkan hubungan antara ikhtiar dan tawakal selain kisah Ummu Hajar, istri Nabi Ibrahim 'alaihissalam.
Bayangkan keadaan beliau.
Seorang ibu ditinggalkan bersama bayi kecilnya, Ismail, di sebuah lembah tandus yang bahkan belum menjadi kota Makkah.
Tidak ada sungai.
Tidak ada pepohonan.
Tidak ada manusia.
Hanya hamparan pasir dan bebatuan.
Persediaan air mulai habis.
Tangisan Ismail semakin keras.
Apa yang dilakukan Hajar?
Apakah beliau hanya duduk sambil berkata,
"Kalau Allah menghendaki air datang, pasti air akan datang sendiri."
Tidak.
Beliau berlari.
Dari Bukit Shafa menuju Bukit Marwah.
Kemudian kembali lagi.
Satu kali.
Dua kali.
Tiga kali.
Empat kali.
Lima kali.
Enam kali.
Tujuh kali.
Bayangkan.
Secara logika, apakah berlari di antara dua bukit akan menghasilkan mata air?
Tentu tidak.
Namun Hajar tidak sedang berlari karena yakin bukit itu menyimpan air.
Beliau berlari karena yakin Allah melihat ikhtiarnya.
Dan justru setelah usaha itu selesai...
Allah menghadirkan mukjizat.
Air Zamzam memancar bukan di Bukit Shafa.
Bukan pula di Bukit Marwah.
Tetapi di tempat yang bahkan tidak diduga oleh Hajar.
Subhanallah.
Betapa dalam pelajaran ini.
Allah sebenarnya mampu langsung memunculkan Zamzam tanpa Hajar berlari.
Tetapi Allah ingin mengajarkan kepada seluruh umat manusia bahwa mukjizat sering kali datang setelah ikhtiar terbaik dilakukan.
Karena itu, sampai hari ini jutaan jamaah haji dan umrah tetap melakukan sa'i.
Bukan sekadar mengenang sejarah.
Tetapi menghidupkan kembali keyakinan bahwa usaha tidak pernah sia-sia di sisi Allah.
Allah Mengetahui Daun yang Gugur
Keyakinan kepada Allah akan semakin kuat ketika kita merenungkan firman-Nya dalam Surah Al-An'am.
Allah berfirman,
"Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya selain Dia. Dia mengetahui apa yang ada di daratan dan di lautan. Tidak ada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya. Tidak ada sebutir biji pun dalam kegelapan bumi, tidak pula sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan semuanya tertulis dalam Kitab yang nyata."
(QS. Al-An'am: 59)
Renungkan ayat ini perlahan.
Allah tidak hanya mengetahui kehidupan manusia.
Allah bahkan mengetahui...
Sehelai daun yang jatuh di tengah hutan.
Sebiji benih yang tersembunyi di dalam tanah.
Tetesan hujan yang jatuh ke lautan.
Jika daun yang gugur saja Allah ketahui...
Apakah mungkin air mata yang diam-diam kita sembunyikan tidak diketahui-Nya?
Jika sebutir biji dalam gelap bumi saja Allah perhatikan...
Apakah mungkin doa yang kita panjatkan setiap sepertiga malam terakhir luput dari perhatian-Nya?
Tidak.
Tidak pernah.
Tidak akan pernah.
Karena Allah mengetahui segala sesuatu.
Maka ketika seorang mukmin merasa sendirian, sebenarnya ia hanya sedang lupa bahwa Rabb-nya selalu membersamainya.
Takdir Tidak Selalu Indah, Tetapi Selalu Baik
Ada satu hal yang perlu kita bedakan.
Tidak semua takdir terasa menyenangkan.
Tetapi semua takdir Allah pasti mengandung kebaikan.
Kadang Allah memberikan.
Kadang Allah mengambil.
Kadang Allah mempercepat.
Kadang Allah menunda.
Kadang Allah menutup satu pintu.
Kadang Allah membuka pintu yang sama sekali tidak pernah kita bayangkan.
Masalahnya adalah...
Kita sering menilai takdir berdasarkan rasa nyaman.
Jika diberi, kita berkata,
"Allah sayang padaku."
Jika diambil, kita bertanya,
"Mengapa Allah melakukan ini?"
Padahal kasih sayang Allah tidak selalu berbentuk pemberian.
Terkadang kasih sayang-Nya hadir dalam bentuk penundaan.
Dalam bentuk kehilangan.
Dalam bentuk kegagalan.
Dalam bentuk air mata.
Mengapa?
Karena Allah melihat sesuatu yang belum mampu kita lihat.
Seorang anak kecil menangis ketika dokter akan menyuntiknya.
Ia mengira orang tuanya sedang membiarkan dirinya disakiti.
Padahal sang ibu tahu bahwa rasa sakit sesaat itu akan menyelamatkan anaknya dari penyakit yang lebih besar.
Begitulah manusia di hadapan Allah.
Kita sering menangis karena takdir yang tidak kita pahami.
Padahal boleh jadi Allah sedang menyelamatkan kita dari sesuatu yang jauh lebih buruk.
Ketika Allah Mengambil, Sesungguhnya Itu Bukan Milik Kita
Kang Novie menyampaikan kalimat yang sangat menenangkan.
"Jika Allah mengambil sesuatu dari kita, sejatinya sejak awal itu memang milik Allah."
Kalimat ini mengingatkan kita pada hakikat kepemilikan.
Rumah yang kita tinggali.
Harta yang kita kumpulkan.
Pekerjaan yang kita banggakan.
Orang-orang yang kita cintai.
Bahkan tubuh yang kita gunakan hari ini.
Semuanya hanyalah titipan.
Ketika Allah mengambil kembali titipan-Nya, bukan berarti Allah sedang berbuat zalim.
Justru Allah sedang mengembalikan sesuatu kepada Pemilik yang sebenarnya.
Kesadaran inilah yang membuat seorang mukmin lebih mudah menerima kehilangan.
Bukan karena ia tidak sedih.
Tetapi karena ia tahu bahwa semua berasal dari Allah dan akan kembali kepada Allah.
Self Confidence yang Lahir dari Tawakal
Menariknya, semakin kuat keyakinan seseorang kepada Allah, justru semakin sehat rasa percaya dirinya.
Mengapa?
Karena ia tidak lagi menggantungkan harga dirinya pada hasil.
Ia tahu bahwa tugasnya adalah berusaha.
Sedangkan hasil adalah hak Allah.
Maka ketika gagal, ia tidak merasa dirinya gagal.
Yang gagal hanyalah percobaannya.
Dirinya tetap berharga di hadapan Allah.
Inilah self-confidence yang lahir dari iman.
Bukan percaya diri karena hebat.
Tetapi percaya diri karena ditemani oleh Allah Yang Maha Hebat.
Insight Kehidupan
Barangkali selama ini kita terlalu sibuk bertanya,
"Mengapa Allah belum mengabulkan?"
Padahal pertanyaan yang lebih penting adalah,
"Apa yang sedang Allah ajarkan melalui penundaan ini?"
Karena bisa jadi...
Allah tidak sedang menolak doa kita.
Allah sedang memperbesar kapasitas hati kita agar siap menerima jawaban yang lebih baik.
Muhasabah
Renungkan beberapa pertanyaan berikut.
- Peristiwa apa dalam hidup saya yang dulu terasa menyakitkan, tetapi kini justru saya syukuri karena ternyata membawa kebaikan?
- Apakah saya selama ini lebih banyak memaksa Allah mengikuti rencana saya daripada mempercayai rencana-Nya?
- Jika saya benar-benar yakin bahwa Allah mengetahui seluruh masa depan saya, apakah saya masih akan mencemaskan hal yang sama seperti hari ini?
Tulislah jawaban Anda.
Mungkin di sanalah Allah sedang memperlihatkan bahwa yang perlu diubah bukanlah takdir, melainkan cara kita memandang takdir.
"Takdir bukanlah tembok yang menghalangi langkahmu. Takdir adalah jalan yang sedang Allah bentangkan menuju tempat terbaikmu. Yang sering menghambatmu hanyalah keyakinanmu sendiri."















Tidak ada komentar:
Posting Komentar