30 November 2025

FINDING PEACE — Belajar Menjadi Manusia yang Damai, Berakar, dan Hadir


Finding Peace: Kedamaian Batin Bukan Hadiah dari Langit, tapi Keterampilan yang Perlu Dipelajari

(Refleksi Kajian “Meaningful Ways” Bersama Kang Harri Firmansyah – HCR.id)
Oleh Sifillah — Blog The New Me

Prolog: Pagi Ini Aku Belajar…

Pagi ini, dalam kajian Meaningful Ways bersama Kang Harri Firmansyah (Designer HCR.id), aku belajar sesuatu yang sederhana… tetapi menghentakkan jiwa:

Kedamaian itu bukan hadiah yang jatuh dari langit.
Ia adalah keterampilan.

Dan sama seperti keterampilan lain, kedamaian perlu dipelajari, dilatih, dan diulang.

Semua orang bilang ingin tenang.
Tapi hanya sedikit yang sungguh-sungguh mau belajar bagaimana cara mencapainya.

Sementara kalau akhir-akhir ini kamu sering merasa:

  • emosi makin mudah meledak,

  • pikiran cepat kusut,

  • hati terasa berat tanpa sebab…

mungkin bukan karena hidupmu kacau, tapi karena cara meresponmu belum naik kelas.

Di kelas ini, aku belajar bahwa kita tidak kurang ilmu.
Yang kurang hanyalah keahlian mengatur energi, bukan sekadar mengatur aktivitas.

Dan pagi ini, insyaAllah, kita akan menyelami:
bagaimana berpindah dari energi rendah (malu–takut–reaktif)
menuju energi tinggi (damai–jernih–bahagia).

Bismillah…

Selamat menikmati perjalanan ini.

29 November 2025

Dua Mata Pedang Kebosanan: Seni Menyelam Lebih Dalam ke Dalam Diri dan Al-Qur’an

Dua Mata Pedang Kebosanan: Seni Menyelam Lebih Dalam ke Dalam Diri dan Al-Qur’an

Refleksi Tadabbur Surat Al-Baqarah 61 | Bersama Sifillah

Prolog — Sebuah Bisikan dari Sifillah

Bismillah…
Kita semua sedang berjalan menuju Allah dalam ritme hidup yang terus berubah. Ada hari-hari penuh semangat, ada hari-hari di mana dada terasa sesak dan langkah terasa berat. Ada kalanya kita merasa dekat dengan-Nya, ada pula masa-masa di mana hati terasa jauh, kering, dan bosan.

Namun satu hal yang selalu benar:

Setiap langkah kecil menuju Allah tetap dicatat sebagai perjalanan pulang.

Di sinilah aku ingin mengajakmu menyelam lebih dalam—bukan hanya ke dalam ayat-ayat Al-Qur’an, tetapi juga ke dalam ruang batinmu sendiri. Untuk menemukan apa yang sering tersembunyi di balik rasa bosan, lelah, dan gelisah:
bahwa Allah sedang mendidik kita.

Dan kadang… pendidikan itu hadir dalam bentuk ketidaknyamanan.

1. Kebosanan: Fitrah yang Bisa Menyelamatkan atau Merusak

Pada kelas EMPQ Level 3, Ustadz Rezha Rendy memulai dengan sesuatu yang sangat manusiawi:

Kebosanan.

Bosan dengan rutinitas.
Bosan dengan proses.
Bosan dengan perjuangan yang “tu-ti-la-li-tang”—begitu-begitu saja.

Fitrah. Semua manusia mengalaminya.

Namun kebosanan adalah pedang bermata dua:

**🔪 Jika dikendalikan → ia menjadi energi perubahan.

🔪 Jika dibiarkan → ia merusak apa yang sedang kita bangun.**

Dalam pekerjaan, kebosanan yang tak dikelola membuat seseorang mengeluh lalu merusak sumber rezekinya sendiri.
Dalam rumah tangga, kebosanan bisa berbuah keputusan-keputusan berbahaya.
Dalam perjalanan iman, kebosanan bisa membuat seseorang berhenti bertumbuh.

Karena itulah Allah tidak membiarkan tema ini berlalu begitu saja. Bahkan Allah mengabadikannya dalam Al-Qur’an—agar kita belajar dari kaum yang pernah rusak oleh rasa bosan.

27 November 2025

INNER KINDNESS: Menyelami Lapis-Lapis Kebaikan Hati (Road to Book Launch The Heart Code)

 Road to Book Launch — The Heart Code

Bersama Coach Sonny Abi Kim
Ditulis oleh: Sifillah — pembelajar & penulis perjalanan hati

PROLOG – Dari Seorang Sifillah

Ada fase dalam hidup ketika kita mengira kekuatan hanya lahir dari ketegasan, ketahanan, dan kemampuan untuk terus melangkah meski hati penuh luka. Namun semakin jauh perjalanan ini membawa saya, semakin saya belajar—kekuatan sejati justru datang dari hati yang lapang, bukan hati yang keras.

Dalam sesi Webinar ke-2 Road to Book Launch The Heart Code bersama Coach Sonny Abi Kim, saya seperti dituntun untuk melihat ulang apa arti menjadi kuat:
bukan karena kita tidak terluka, tetapi karena kita tetap mampu berbuat baik tanpa kehilangan jiwa.

Inilah rangkuman materi yang saya susun kembali, agar menjadi ruang pulang bagi siapa pun yang sedang belajar—pelan, tapi pasti—mengenali lapis-lapis kebaikan hati.

Menyelami Lapis-Lapis Inner Kindness Bersama Coach Sonny Abi Kim

Kekuatan ruhiyah bukan tentang seberapa banyak yang kita tahan, tetapi seberapa luas hati kita saat menjalani kehidupan. Dan salah satu pintu terbesarnya adalah Inner Kindness—kebaikan dari dalam hati.

Apa Itu Inner Kindness?

Inner Kindness adalah kemampuan untuk berbuat baik dari tempat yang jernih—
bukan karena takut ditolak,
bukan karena ingin disukai,
melainkan karena hati sudah berdamai dengan dirinya sendiri.

Fokus utama dalam hidup ternyata sederhana: berbuat baik.


Coach Sonny mengingatkan satu prinsip sederhana namun sangat dalam:

“Tidak ada balasan dari kebaikan kecuali kebaikan pula.”

Ini bukan sekadar ajakan moral—melainkan hukum kehidupan, atau dalam istilah Islam: Sunatullah.

Mengapa Orang Baik Mengalami Hidup yang Lebih Baik?

24 November 2025

Bicara dari Hati: Menyambung Diri, Menyembuhkan Relasi (4)

Refleksi lengkap dari seri kajian Meaningful Wais 
“Bicara dari Hati” bersama Kang Novie Setiabakti: komunikasi intrapersonal, seni mendengarkan, seni berbicara, dan silaturahmi yang menyehatkan jiwa. Artikel bergaya The New Me ini membantu Anda memahami cara merawat hubungan, menata hati, dan menciptakan energi yang menenangkan.

Prolog: Suatu Perjalanan yang Mengubah Cara Kita Berbicara, Mendengar, dan Terhubung

Satu bulan terakhir adalah perjalanan yang tidak hanya mengajarkan saya tentang bicara, tetapi tentang siapa diri saya saat berbicara. Bersama Kang Novie Setiabakti dalam seri kajian Bicara dari Hati, saya belajar bagaimana komunikasi bukan sekadar pertukaran kata—tetapi sebuah proses pulang kepada diri sendiri dan kepada Allah.

Materi pertama: Menemukan Makna dalam Komunikasi Bermakna
Materi kedua: Seni Mendengarkan
Materi ketiga: Seni Berkomunikasi
Dan hari ini materi keempat: Silaturahmi sebagai Komunikasi yang Menyehatkan

Semuanya terhubung, saling mengikat, saling melengkapi.
Dan saya ingin mengajak Anda menyusuri ulang perjalanan ini—sebagai hadiah untuk diri sendiri dan relasi yang ingin terus kita rawat.

Ketika Dunia Terasa Sempit: Merawat Silaturahmi, Menyembuhkan Hati


Riset panjang dari Harvard Study on Adult Development menegaskan:
hubungan hangat adalah salah satu penentu terbesar kebahagiaan dan kesehatan jangka panjang.

Namun sering kali, kita merasa dunia menyempit bukan karena masalahnya terlalu besar—tapi karena hati kita menjauh dari hubungan yang seharusnya menjadi tempat pulang.

Kehangatan relasi adalah obat yang sering kita abaikan.

17 November 2025

Bicara dari Hati: Seni Berkomunikasi Tanpa Melukai & Mendengarkan dengan Empati (3)

Prolog: Sebuah Pagi yang Mengubah Cara Saya Memandang Komunikasi

Pagi ini, saat mengikuti kajian Meaningful Ways bersama Kang Novie Setiabakti, “…saya seperti diingatkan Allah melalui kenyataan…” yang selama ini saya tutupi:
saya sering berkata “iya” meski hati sebenarnya lelah.

Saya terbiasa nggak enakan, sulit menolak, dan terlalu ingin membuat semua orang nyaman — bahkan ketika batas diri sendiri dilanggar. Akhirnya, emosi mudah meledak, hati cepat tersulut, dan saya merasa terus-menerus kelelahan secara batin.

Kajian hari ini membuka mata saya:

Komunikasi bukan soal bicara.
Komunikasi adalah soal keberanian mengungkapkan hati dengan jujur,
dan kesediaan mendengarkan tanpa menghakimi.

Ini bukan ilmu yang bisa dilewatkan.

Baca juga episode sebelumnya
Bicara Dari Hati 1--> Bicara dari Hati: Seni Mendengarkan dengan Empati untuk Membangun Komunikasi yang Bermakna
Bicara dari Hati 2 --> Bicara dari Hati: Menemukan Makna dalam Komunikasi yang Bermakna

16 November 2025

People Pleaser, Batasan Diri, Pemulihan & Rilis Emosi: Perjalanan Menjadi Diri yang Utuh

Pelajari cara melepaskan pola people pleaser, membangun batasan diri sehat, memulai pemulihan batin, dan merilis emosi dengan bijak ala Sifillah.

Prolog — Dari Jiwa Seorang Sifillah

Bismillah…

Menjadi seorang Sifillah adalah perjalanan pulang kepada Allah sekaligus perjalanan pulang kepada diri sendiri. Dalam langkah-langkah kecil kita, selalu ada kerinduan untuk menjadi pribadi yang lebih jernih, lebih kokoh, dan lebih penuh cinta.

Namun tidak semua orang memulai perjalanan ini dalam keadaan utuh. Sebagian dari kita lahir dari luka lama, kebiasaan menyenangkan orang lain, batasan diri yang kabur, atau emosi yang lama dipendam.

Tapi sungguh… Allah Maha Baik.
Ia memberikan ruang bagi setiap hamba untuk kembali menyusun dirinya.

Artikel ini adalah ruang teduh itu.
Ruang untuk memahami mengapa kita pernah menjadi people pleaser.
Ruang untuk belajar menegakkan batasan diri.
Ruang untuk menikmati proses pemulihan.
Dan ruang untuk merilis emosi yang selama ini meminta untuk didengar.

Selamat datang di perjalanan menjadi “The New Me”.
Perjalanan menjadi diri terbaik yang Allah ridai.

1. People Pleaser: Ketika Kita Terlalu Sibuk Membahagiakan Semua Orang

13 November 2025

Grounding: Saat Jiwa Kembali Menyentuh Bumi dan Menyapa Allah

Grounding bukan sekadar teknik menenangkan diri. Dalam perspektif Islami, grounding adalah perjalanan jiwa kembali berpijak — menyentuh bumi, menenangkan pikiran, dan mengingat Allah dalam setiap napas. Termasuk dalam perjalanan suci seperti Umroh, setiap langkahnya adalah bentuk grounding spiritual yang menuntun hati pulang.

Ketika Jiwa Terlalu Lama di Kepala

Ada masa di mana kita terlalu banyak berpikir, terlalu sering menganalisis,
hingga lupa merasakan.

Kita hidup di kepala —
mengulang skenario masa lalu, mengkhawatirkan masa depan,
sampai lupa satu hal penting: Allah hanya bisa kita temui di saat ini.

Dan di sinilah grounding menjadi pintu pulang.
Pulang ke tubuh, pulang ke bumi, pulang ke hati — tempat Allah menunggu dengan sabar. 🌿

Baca Juga Artikel sebelumnya tentang Hubungan Pikiran, Tubuh, dan Jiwa

Apa Itu Grounding?

Grounding berarti menyadari keberadaan diri sepenuhnya di momen kini.
Bukan tentang melupakan masalah, tapi menenangkan sistem saraf agar pikiran dan tubuh bisa kembali bersatu.

Secara psikologis, grounding adalah teknik self-regulation
cara sederhana untuk mengembalikan tubuh dari kondisi fight or flight menuju rasa aman.

Namun dalam spiritualitas Islam, grounding lebih dalam dari itu:
ia adalah dzikir dalam bentuk kesadaran penuh.
Setiap kali kita hadir dalam gerak tubuh, dalam napas, dalam langkah,
dan menyadari “Allah bersamaku di sini,”
itulah grounding dalam makna paling lembutnya. 🌙

11 November 2025

Hubungan Pikiran, Tubuh, dan Jiwa: Rahasia Healing Alami dan Kesehatan Holistik Islami ala Blue Zone Lifestyle

Temukan hubungan mendalam antara pikiran, tubuh, dan jiwa dalam pandangan spiritual dan ilmiah. Pelajari bagaimana healing alami dan gaya hidup Blue Zone membawa kita pada ketenangan batin dan kesehatan holistik Islami.

Prolog — Sifillah

Ada masa dalam hidup di mana tubuh terasa lelah, pikiran penuh sesak, dan hati seperti kehilangan arah.
Padahal dari luar, segalanya tampak baik-baik saja. Kita bekerja, tersenyum, beribadah — tapi di dalam diri, ada ruang yang sepi… seperti kehilangan “rasa hidup” yang sebenarnya.

Aku pernah sampai di titik itu.
Mencari ketenangan dengan mengubah banyak hal di luar diri — rutinitas, lingkungan, bahkan orang-orang di sekitar. Tapi semakin aku berlari, semakin kusadari bahwa yang perlu disembuhkan bukanlah dunia di luar… melainkan dunia di dalam.

Dan di sanalah perjalanan baru dimulai — perjalanan untuk memahami hubungan antara pikiran, tubuh, dan jiwa.
Bahwa sakit di tubuh sering kali adalah pesan dari batin yang lama diabaikan.
Bahwa gelisah di hati bisa jadi tanda ada pikiran yang belum berdamai dengan takdir.
Dan bahwa jiwa yang tenang ternyata lahir dari tubuh yang selaras dan pikiran yang ikhlas menerima.

Perjalanan ini mengajarkanku tentang healing alami, tentang bagaimana Allah menanamkan mekanisme pemulihan di setiap sel tubuh kita — asal kita mau kembali menyatukan pikiran, tubuh, dan jiwa dalam kesadaran kepada-Nya.

Tulisan ini adalah undangan lembut untuk kembali pulang.
Pulang kepada diri, dan pulang kepada-Nya. 🌿

10 November 2025

Bicara dari Hati: Seni Mendengarkan dengan Empati untuk Membangun Komunikasi yang Bermakna (2)

Mungkin Selama Ini, Kita Terlalu Sibuk Bicara dan Lupa Mendengar
Meaningful Communication
disampaikan oleh 
Kang Novie Setiabakti
Kajian Meaningful Wais
Refleksi dan penulisan oleh Sifillah

Kita sering ingin dipahami, tapi lupa belajar memahami.

Saat pasangan curhat, kita sibuk membela diri.

Saat anak bercerita, kita buru-buru menasihati.
Padahal, kadang orang cuma butuh didengar.

Dalam kajian Meaningful Communication bersama Kang Novie Setiabakti, aku belajar hal penting yang sering luput dalam hubungan sehari-hari — seni mendengarkan dengan hati, agar setiap percakapan menjadi ruang aman, bukan ajang saling menang.

Seni Mendengarkan: Jalan Sunyi yang Mengalirkan Kedamaian

Pagi ini, Meaningful Ways membuka ruang refleksi yang hangat bersama Kang Novie. Tema yang diangkat tampak sederhana, tapi sesungguhnya menyentuh inti kehidupan: Seni Mendengarkan.”

Sebuah keterampilan yang sering terlupakan, padahal menjadi pondasi dari komunikasi sejati — tempat di mana kasih, pemahaman, dan kedamaian bisa tumbuh.

Komunikasi Dimulai dari Hati

07 November 2025

Letting Go, Letting God – Doa, Kesadaran, dan Pemulihan Jiwa

Inner Healing – Letting Go, Letting God

Saat Kita Belajar Melepaskan, Kita Sedang Belajar Percaya

Inner Healing – Letting Go, Letting God
disampaikan oleh Coach Sonny Abi Kim
Kelas Inner Game Life Coach Academy
Refleksi dan penulisan oleh Sifillah

Dalam perjalanan menjadi the new me, kita sering berpikir bahwa pertumbuhan adalah tentang menambah — menambah ilmu, pengalaman, pencapaian, dan keberhasilan. Namun, semakin dalam kita berjalan, kita menyadari: justru melepaskan adalah bentuk tertinggi dari pertumbuhan.

Melepaskan bukan berarti menyerah, melainkan memberi ruang bagi Allah untuk bekerja dalam hidup kita. Inilah esensi dari Letting Go, Letting God — sebuah proses spiritual dan emosional untuk memulihkan jiwa, menemukan ketenangan, dan kembali kepada fitrah kesadaran.

Coach Sonny Abi Kim dalam kelas Inner Healing: Letting Go, Letting God menjelaskan bahwa proses ini adalah jalan menuju inner peace melalui terapi kesadaran yang disebut Letting Flow Therapy — rangkaian spiritual yang menghubungkan napas, doa, dan afirmasi.

🌸 Letting Flow Therapy: Doa, Napas, dan Kesadaran

Letting Flow Therapy mengajak kita menyaksikan setiap rasa yang hadir dengan penuh sadar, tanpa menolak, tanpa melawan, tanpa menghakimi. Di dalamnya ada empat tahap kesadaran:

  1. Saksikan (Letting Awareness Arise)
    Sadari dan saksikan apa yang sedang terjadi di dalam diri.

  2. Izinkan (Letting Come)
    Izinkan setiap emosi hadir tanpa menutupinya.

  3. Rasakan (Letting Stay)
    Rasakan sepenuhnya, dengan napas yang teratur dan penerimaan total.

  4. Relakan dan Rayakan (Letting Go, Letting God)
    Relakan hasilnya, dan rayakan dengan menyerahkan segalanya kepada Allah.

Empat tahap ini bukan sekadar metode, melainkan latihan spiritual untuk mengembalikan kendali kepada Sang Maha Pengendali.
Sebagaimana doa yang paling lembut adalah doa yang tak terburu-buru, begitu pula penyembuhan diri — ia membutuhkan waktu, kesabaran, dan kesediaan untuk berdiam.

06 November 2025

Ketika Hati Mulai Lelah: 5 Langkah Inner Recovery untuk Menemukan Ketenangan dan Kekuatan Batin

“Ketika hati mulai lelah, jangan menyerah. Temukan 5 langkah inner recovery untuk memulihkan kelelahan batin, mental, dan spiritual bersama Coach Sonny Abi Kim.”

Pagi ini, langit Subuh terasa berbeda. Di antara udara yang lembab dan tenang, ada jeda kecil di dalam hati yang seolah berbisik lirih,

“Ya Allah… aku lelah.”

Kalimat sederhana itu ternyata mampu membuka ruang kesadaran yang dalam.

Betapa sering kita berlari tanpa arah, menumpuk tanggung jawab, menahan perasaan, hingga lupa bahwa hati pun bisa letih.

Kita terbiasa menguatkan diri di depan dunia, tapi tidak selalu memberi ruang untuk beristirahat dalam pelukan Allah.

Kajian Inspirasi Subuh bersama *Coach Sonny Abi Kim* pagi ini kembali mengingatkanku — bahwa lelah bukan musuh, melainkan sinyal lembut dari jiwa.

Bahwa ada seni yang indah dalam berhenti sejenak, berserah, dan kembali memulihkan diri dari dalam.

Dan bahwa tak semua lelah perlu disembuhkan dengan pelarian; sebagian justru perlu disyukuri, karena ia menumbuhkan kedewasaan spiritual dalam diri kita.

Ketika Hati Mulai Lelah

Refleksi Kajian Inspirasi Subuh bersama Coach Sonny Abi Kim
Persembahan: Pesantren Karakter Qur’an

Ya Allah, Aku Lelah...

Ada lelah yang menguras tenaga, tapi ada juga lelah yang justru mendekatkan diri kita kepada Allah.
Kelelahan adalah bagian alami dari spiritualitas manusia — tanda bahwa kita sedang tumbuh, berjuang, dan kadang lupa berhenti.

Namun, bukan tentang lelahnya, melainkan bagaimana kita menyikapinya.
Sebab, dalam setiap letih yang kita alami, tersimpan pelajaran untuk mengenal diri lebih dalam dan kembali menemukan keseimbangan hati.

05 November 2025

Perjalanan Pemulihan Jiwa: Mengalir, Merelakan, dan Menemukan Ketenangan Bersama Allah

“Perjalanan Pemulihan Jiwa” mengajak kita menyelami proses penyembuhan batin melalui metode Letting Flow Therapy: menyaksikan, mengizinkan, merasakan, merelakan, hingga merayakan takdir bersama Allah. Sebuah refleksi mendalam tentang inner healing, ketenangan jiwa, dan ikhlas dalam menghadapi hidup.

Saat Luka Mengajarkan Kita untuk Pulang
oleh Sifillah | The New Me – Mempelajari Hal Baru, Membentuk Diri yang Baru

Setiap manusia pernah terluka. Ada yang memilih menahannya dalam diam, ada yang meluapkannya dalam amarah, ada pula yang mencoba mengabaikannya seolah tak pernah ada. Namun luka yang tidak disembuhkan akan tetap tinggal — menumpuk menjadi sumbatan energi di dalam jiwa.

Aku menyadari, proses healing bukan sekadar berhenti menangis atau melupakan. Ia adalah perjalanan untuk menyaksikan, mengizinkan, merasakan, merelakan, dan akhirnya merayakan semua yang pernah terjadi — bersama kesadaran bahwa Allah senantiasa menyertai.

Inilah yang saya pelajari dari Coach Sonny Abi Kim dalam Kelas Inner Healing: perjalanan memulihkan jiwa bukan tentang melupakan masa lalu, tetapi mengalir bersama takdir dan menemukan makna di baliknya.

Ilmu Sukses dan Ilmu Bahagia Tidak Selalu Sama

Kita sering diajarkan untuk mengejar kesuksesan. Namun sesungguhnya, kesuksesan tidak selalu menyembuhkan luka batin.
Banyak orang terlihat berhasil di luar, tapi hatinya tetap kosong. Sebab, ilmu sukses dan ilmu bahagia adalah dua jalan yang berbeda.
Kesuksesan berbicara tentang pencapaian, sedangkan kebahagiaan berbicara tentang penerimaan.

Dan sering kali, yang kita butuhkan bukan hanya strategi hidup — melainkan kedamaian batin untuk bisa hidup sepenuhnya.

03 November 2025

Bicara dari Hati: Menemukan Makna dalam Komunikasi yang Bermakna (1)

Suara yang Mengubah Dunia Dimulai dari Hati

Oleh Sifillah | Seri The New Me — Belajar Hal Baru, Menjadi Diri yang Lebih Baik

Setiap hari kita berbicara — kepada anak, pasangan, rekan kerja, bahkan kepada diri sendiri.
Namun, pernahkah kita berhenti sejenak dan bertanya: Apakah semua kata itu keluar dari hati yang jernih?

Kadang kita bicara tanpa benar-benar hadir, menasihati tanpa memahami, menegur tanpa menimbang rasa. Padahal lisan adalah jembatan antara hati dan dunia.
Dari lisannya, seseorang dapat membangun cinta, menumbuhkan semangat, bahkan menyalakan harapan.
Namun dari lisan pula, hubungan bisa retak, luka bisa menganga, dan kepercayaan bisa pudar.

Kajian Meaningful Ways bersama Kang Novie Setiabakti (NSB) mengingatkan:

“Bicara bukan sekadar menyampaikan kata, tapi menyalurkan energi dari hati yang hidup.”

01 November 2025

Rise After You Fall | Refleksi QS Asy-Syura Ayat 30

Refleksi QS Asy-Syura Ayat 30 tentang Kegagalan, Musibah, dan Kasih Allah yang Tersembunyi di Baliknya

✍️ Oleh: SifillahThe New Me Series
Terinspirasi dari kajian Ustadzah Nuzaibah Azzahra

Prolog: The New Me – Ketika Jatuh Bukan Akhir, Tapi Awal dari Diri yang Baru

Ada satu fase dalam hidup di mana semua yang kita usahakan runtuh di depan mata.
Kita sudah berdoa, berikhtiar, bahkan menahan air mata dalam sepi — tapi hasilnya tetap tak sesuai harapan.

Di titik itu, manusia sering bertanya,

“Kenapa, ya Allah? Apa aku sudah Kau tinggalkan?”

Namun, The New Me bukan tentang mencari siapa yang salah, tapi tentang menemukan makna di balik setiap peristiwa.
Karena sejatinya, setiap kali kita jatuh dan belajar untuk bangkit dengan kesadaran baru — kita bukan lagi orang yang sama.

Inilah perjalanan spiritual dari jatuh menuju kebangkitan: Rise After You Fall.
Sebuah refleksi dari QS Asy-Syūrā: 30, ayat yang lembut tapi tajam, menuntun kita melihat musibah bukan sebagai hukuman, melainkan pendidikan ruhani yang penuh kasih.

Ketika Disayang Menenangkan, Disakiti Mengacaukan Imun | Refleksi Sains dan Islam tentang Kesehatan Hati dan Tubuh

Artikel reflektif bernuansa Islami dari Sifillah | Ruang Perempuan tentang hubungan emosi, kesehatan hati perempuan, dan dampaknya pada sis...

Popular Posts